this-feeling-by-alicia-diana-teresa-remake

THIS FEELING

Author : Alicia Diana Teresa
Main Cast : Park Soora, Wu Yifan/Kris Wu
Genre : Fan fiction, romance, AU
Rate : PG15

Kubiarkan air hujan membasahi tubuhku, mendinginkan emosiku, meredam tangisanku. Aku tak peduli pada orang-orang yang menatapku heran. Aku tak peduli pada buku-bukuku yang basah. Yang kupedulikan hanya satu. Aku…

“Pakai payung ini, bodoh,” seseorang memayungiku sehingga air hujan kini tak lagi menyerangku. “Bagaimana bisa di saat hujan seperti ini kau berkeliaran? Apakah kau diajarkan orangtuamu untuk bermain hujan-hujanan? Huh, seperti anak kecil,” cerocosnya dengan mulutnya yang tajam.

Kubalikkan badan dan mendapati ia di sana. Spontan aku berlari ke pelukannya, membuat payung yang ia pegang jatuh sehingga air hujan membasahi kami berdua. “Oppaaaa… hiks, hiks, hiks… Kris Oppa…” isakku dalam pelukannya.

Pria yang kupanggil Kris Oppa itu mengusap-usap kepalaku sayang, “Ssshh, sudah, jangan menangis lagi, Soora-ya. Ada aku disini, sudah jangan menangis…” ia membawaku ke sebuah taman bermain yang kosong dan kami masuk ke gazebo di sudut taman.

“Soora-ya, jangan menangis. Kau harus pulang, oke? Jangan berkeliaran tak jelas seperti ini… bagaimana pun Mama pasti akan khawatir saat melihatmu yang berantakan begini.” kata Kris Oppa sambil menghela napas panjang. Aku hendak membuka mulutku ketika tiba-tiba Kris Oppa melanjutkan kata-katanya, “Kau adalah salah satu adikku yang berharga. Jangan pernah berpikir bahwa kau dibeda-bedakan di rumah. Kita semua sama. Papa dan Mama sangat menyayangi kita, Soora-ya…”

Adik? Adik…? Kris Oppa yang menganggapku hanya seorang adiknya malah membuat air mataku semakin tidak bisa dibendung. Dasar pria tidak peka. Dasar pria bodoh. Dasar pria dingin.

-..-

Hari itu angin bertiup kencang. Hampir setiap orang yang lalu-lalang menutup kepala mereka dengan payung atau jas hujan. Huh, suram. Sekali lagi pun aku menghela napas panjang.

PLAKK!!!

Seseorang memukul kepalaku, “Ya, Park Soora! Jangan bermalas-malasan di siang hari! Cepat bantu aku membereskan barang-barang ini,” teriak Lee Jinki, Oppa pertama-ku yang tidak ada hubungan darahnya denganku.

“Ada kiriman dari siapa, Oppa?” tanyaku sambil membuka sebuah kardus berukuran sedang. Oh, isinya parsel. Mungkin ini parsel hari Natal.

Jinki Oppa mengeluarkan isi kardus lain dan meletakkan aneka makanan dan minuman itu di lantai, “Bermacam-macam. Ada dari teman Papa, ada dari Halmeoni, ada dari Imo, ada dari Ajusshi rumah sebelah, ada juga dari sepupu-sepupu kita di Jerman dan Inggris,”

Aku mengangguk-angguk mengerti, “Ini mau di taruh dimana, Oppa? Hmm… aku taruh disini ya?” kuletakkan beberapa kaleng makanan ringan di atas meja kecil di pantry.

“Jangan! Jangan! Yang itu mau Oppa kasih ke anak-anak Sekolah Bina Iman. Lebih baik kau taruh saja di sebuah kantong. Biar hari Minggu besok aku bawa ke gereja.” ujar Jinki Oppa. “Soora-ya, kau mau makanan yang mana? Ambil saja yang kau suka,”

Asyik! Inilah kerennya Jinki Oppa. Jinki Oppa sangat memanjakanku dengan makanan ringan dan minuman-minuman. Setiap kali pergi ke minimarket, Jinki Oppa selalu membawa pulang sebotol minuman manis untukku. Jadi pada kesempatan ini, kuambil tiga bungkus potato chips dan dua kaleng susu. “Terima kasih, Jinki Oppa,”

“Aish, terima kasih untuk apa? Kita ini kan saudara… sudah seharusnya kau mengambil apa yang kau suka. Nanti Joonmyun dan Kris juga akan mengambil bagian mereka.” kata Jinki Oppa sambil masih mengeluarkan bungkusan-bungkusan makanan ringan dan minuman dari kardus.

“Ooh, hahahaha… ya sudah, aku kembali ke kamarku dulu ya, Oppa.” jawabku kaku kemudian segera menghilang ke kamarku yang terletak di lantai dua rumah.

Melalui jendela kutatap taman di depan rumah. Kuhela napas panjang untuk kesekian kalinya di hari itu. Jinki Oppa, kenapa kau baik sekali padaku?

-..-

Papa dan Mama dikirim oleh atasan ke Prancis, Washington, Meksiko, dan Brazil selama setengah tahun. Jinki, Joonmyun, Kris, Soora, jaga rumah baik-baik ya.

Kami sayang kalian.

“Begitulah, Papa dan Mama tidak akan ada di rumah sampai musim panas nanti, Hyung,” Joonmyun Oppa meletakkan kembali kartu salam itu di meja pantry.

Spontan Jinki Oppa menginjak kardus-kardus bekas parsel yang kami bereskan dua hari yang lalu. “Dasar orang tua! Mentang-mentang kita sudah dewasa bisa seenaknya pergi bulan madu lagi? Aish, mau makan apa kita setengah tahun ke depan?” omelnya sambil mengerucutkan bibirnya yang tipis itu.

Kris Oppa mengganti channel televisi menjadi channel musik, “Sudahlah… kita kan bisa menyewa seorang helper, Hyung. Jangan khawatir. Makan ramyeon selama setengah tahun juga bisa.” ujar Kris Oppa cuek dengan nada dingin.

Dari sudut ruang keluarga aku hanya mengamati interaksi mereka dalam diam. Huft.

-..-

Ponselku bergetar dan tak lama kemudian ringtone-nya berbunyi. Itu ringtone khusus anggota keluarga. Jadi tanpa melihat layarnya aku langsung menekan tombol jawab, “Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo? Soora-ya?” suara Kris Oppa yang dingin terdengar di seberang sana.

Aku berjalan perlahan menuju halte bus, “Ne, Oppa? Ada apa menelponku?”

“Apa kau sudah sampai di rumah, Soora-ya?”

Bus sudah datang, aku segera masuk ke dalam bus dan duduk di salah satu kursi yang kosong. “Ah, Kris Oppa, malam ini aku berniat tidak pulang ke rumah. Ada beberapa tugas kelompok yang harus kuselesaikan. Malam ini aku akan menginap di rumah teman,” ujarku sambil mengecilkan suara karena tidak ingin mengganggu orang-orang.

Kris Oppa terdengar terkejut, “Benarkah…? Ya sudah kalau begitu. Selamat mengerjakan tugas dengan teman-temanmu, Soora-ya,” kemudian ia memutuskan teleponnya.

Kusimpan kembali ponselku di saku jaket dan memandangi trotoar yang di lewati oleh bus. Di trotoar itu, kulihat ada sebuah keluarga kecil yang berbahagia. Si ayah menggendong putra kecilnya, sedangkan si ibu menggandeng tangan putri kecilnya. Mereka berempat tertawa bersama. Berbeda sekali ya denganku.

Aku hanya anak angkat yang di adopsi oleh pasangan suami-istri Sung Minhwan dan Wang Linfang. Begitu juga dengan Jinki Oppa, Joonmyun Oppa, dan Kris Oppa. Kami berempat di adopsi menjadi satu keluarga. Awalnya aku bahagia karena akhirnya aku menemukan kembali kebahagianku yang hilang. Tapi lama-kelamaan, aku merasa terasing. Sementara Papa, Mama, Jinki Oppa, Joonmyun Oppa, dan Kris Oppa tertawa, aku termenung di sudut sendirian.

Akhir-akhirnya aku berpikir, mungkin aku salah berada disini. Mungkin tempatku yang sebenarnya bukan disini. Apalagi dengan ditambahnya perasaan berdebar yang muncul ketika aku bersama dengan Kris Oppa. Ini semua salah. Seharusnya aku tidak disini.

Bus berhenti di salah satu halte di daerah Yeouido Park dan aku ikut turun bersama dengan orang-orang lainnya. Saat itu lagi-lagi hujan turun sehingga orang-orang langsung membuka jas hujan atau pun payung mereka. Tapi aku tidak membawa salah satu dari barang-barang itu. Kubiarkan tubuhku lagi-lagi basah karena air hujan. Toh hari ini aku berencana mengakhiri hidupku.

Perlahan aku berjalan menuju jembatan Mapo di antara para pejalan kaki lainnya. Kadang ada beberapa dari para pejalan kaki itu yang melihatku dengan tatapan kasihan. Tapi aku tidak mempedulikan tatapan-tatapan itu. Aku tetap berjalan menuju jembatan Mapo di antara tangisan Bumi yang membuat angin jadi berhembus lebih keras.

Sore itu jembatan Mapo lumayan sepi. Maklum, hujan membuat semua orang jadi enggan keluar rumah atau keluar dari tempat berteduh mereka. Paling hanya ada tujuh atau delapan orang yang lewat di jembatan Mapo.

Aku bertengger di pinggiran jembatan Mapo sambil melihat sungai Han yang terang di sinari lampu-lampu temaram. Andai hidupku seterang lampu-lampu itu… sewarna-warni lampu itu…

Orang tuaku yang asli telah meninggal lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Orang-orang di panti asuhan berkata bahwa mereka mengalami kecelakaan lalu lintas. Tapi tentu saja aku tidak percaya. Tiga tahun yang lalu aku menyelidiki kematian mereka dan menemukan suatu hal yang menyakitkan. Park Jungsoo dan Han Sohee, orang tua kandungku, meninggal karena dibunuh oleh kakak laki-laki Wang Linfang yang gila.

Kenyataan yang menyakitkan itu membuat perasaanku kacau dari hari ke hari. Perasaan kacau itu akhirnya berubah menjadi frustasi berat dan membuatku nyaris gila.

Kutatap sekali lagi sungai Han yang terang itu. Di musim gugur nyaris musim dingin seperti ini airnya pasti dingin sekali. Setidaknya telah mencapai 5o Celcius.

Lama-kelamaan, aku pun mencondongkan diriku ke permukaan air sungai Han itu. Sebentar lagi aku akan menjadi…

BRUSSHHH!!!

Rasa dingin yang mematikan menusuk-nusukku, dari ujung kepala ke ujung kaki. Tapi tenang saja, ini hanya sementara. Sebentar lagi semuanya akan selesai.

-..-

Seorang pria muda mengamati seorang wanita yang sedari tadi berjalan terseok-seok. Pria itu merasa wanita itu mirip dengan sosok adiknya, Park Soora. Maka ia mengikuti wanita itu, berjalan menuju jembatan Mapo di atas sungai Han.

Apa yang dilakukan wanita itu? Sedang hujan begini bukannya berteduh malah hujan-hujanan.

Kris Wu menggosok-gosokkan kedua tangannya kemudian memegang pipinya sendiri yang kedinginan. Selama beberapa saat ia mengamati wanita itu dari kejauhan. Namun kemudian Kris berjalan mendekati wanita itu tepat sebelum Kris melihat wanita itu menceburkan diri ke sungai Han yang dingin.

“HEI!!! APA YANG KAU LAKUKAN??!” teriak Kris sambil berlari menyusul wanita itu. Tanpa pikir panjang ia melepas jas hujan dan jaketnya kemudian ikut menceburkan diri ke sungai Han. Ia tak peduli rasa dingin yang menyerang tubuhnya. Yang ia pedulikan hanya satu, menyelamatkan wanita yang ia percayai adalah adiknya.

Sementara itu orang-orang yang lalu-lalang disana hanya menonton dan seseorang berusaha memanggil ambulans lewat 911.

Dari dalam air Kris berusaha menarik wanita itu. Dan saat ia melihat wajah wanita itu, ia terkejut. Park Soora. Apa yang membuat adiknya nekad melakukan aksi bunuh diri ini?

-..-

Lee Jinki dan Kim Joonmyun berlari menuju ruang ICU di Seoul National University Hospital dengan gaduh. Keduanya berlomba-lomba mengatur napas agar menjadi lebih tenang. Kemudian Joonmyun duduk di sebelah Kris yang sedari tadi bersedekap di sudut ruang tunggu ICU.

“Apa… apa yang sebenarnya terjadi, Kris?!” tanya Jinki emosi sambil tetap mengatur napasnya. “Kenapa… kenapa Soora jadi seperti ini?”

Kris menggeleng, “Aku tidak tahu, Hyung… aku melihatnya di Yeouido Park. Aku mengikutinya di tengah hujan deras. Ia melangkah ke jembatan Mapo. Aku menunggunya. Dan kemudian… ia hilang. Tapi… tapi aku menyusulnya. Membawanya ke permukaan sungai Han dan mengantarnya ke sini.” di akhir kata, suara Kris menjadi serak. Ia menyembunyikan wajahnya di antara kedua tangannya.

“Jinki Hyung, aku harus memberitahu Papa dan Mama tentang kejadian ini. Mereka harus tahu,” suara Joonmyun memecah keheningan di antara mereka bertiga.

Kris mengerang, “Ooh, haruskah, Hyung…?” pria berambut pirang itu berdesah, “Mereka berdua sedang bekerja dan baru saja pergi. Haruskah kita membuat Papa dan Mama khawatir?” mendengar pertanyaan Kris, kedua pria lainnya termenung. “Menurutku sebaiknya kita tidak memberitahu Papa dan Mama… biarlah semua hanya kita yang tahu. Kalau ada apa-apa toh kita punya uang karena Papa dan Mama meninggalkan uang yang cukup banyak untuk kita berempat,”

Joonmyun spontan berdiri dan matanya menatap tajam Kris, “Aku tidak setuju. Kita harus memberitahu Papa dan Mama karena apa pun yang terjadi mereka tetap orang tua kita dan tentunya mereka lebih tahu keputusan apa yang harus kita ambil di saat-saat genting,”

Sementara itu Jinki mengacak-acak rambutnya frustasi, “Aish, kalian berdua berdebat begini sih! Sudahlah, lebih baik kita memberitahu Papa dan Mama. Biar nantinya kita tidak repot saat harus menjelaskan kepada mereka! Joonmyun, telpon Papa dan Mama sana. Kris, kali ini mengalah lah demi Soora. Jangan lupa kau harus memberitahu Imo dan Halmeoni!” perintah Jinki sambil duduk di sebuah kursi yang kosong di samping Kris.

“Iya, Hyung…”

-..-

Total dua bulan seorang Park Soora berada di Seoul National University Hospital. Sebulan berada di ICU dan sebulan lainnya menjalani terapi dan sebagainya. Ia sempat dimarahi oleh Jinki dan Kris, tapi Joonmyun tidak memarahinya, hanya memeluk Soora erat-erat. Kemudian Papa dan Mama mereka, yang datang ke rumah sakit lima belas jam setelah di telpon Joonmyun, juga memeluk Soora erat-erat seperti tak ingin kehilangan anak mereka.

“Maafkan Oppa-ku, Soora sayang…” hanya itu yang bisa diucapkan oleh Wang Linfang sambil memeluk Soora, anaknya.

Air mata Soora meleleh seketika ketika pelukan hangat dan kata maaf dari sang Mama menyerbunya. “Ya, ya, ya… iya, Mama,”

“Anak Mama yang cantik jangan melakukan hal berbahaya seperti itu lagi, oke? Kami semua sangat menyayangimu… jangan merasa dirimu berbeda atau tidak diinginkan. Kami semua sangat menginginkanmu, Sayang.”

“Iya… iya, Mama,” suara Soora menjadi serak karena ia menangis penuh haru. “Maafkan aku, Ma…”

Kemudian Sung Minhwan pun memeluk istri dan anak angkatnya itu. Menyusul Jinki dan Joonmyun. Sedangkan Kris hanya menatap kelima orang itu dalam tatapan sendu. Tapi tak lama ia juga memeluk keluarganya itu.

Park Soora… sebenarnya aku…

THE END