60 SECONDS

Author : Alicia Diana Teresa
Main Cast : Kim Myungsoo (L), Han Heebon
Genre : Fan fiction, romance, sad, AU
Rate : PG15

Hujan baru saja berhenti. Daun-daun yang basah meneteskan air, membuat tanah menggelap dan mengeluarkan aroma khasnya. Udara sejuk bergerak bebas membuat orang-orang yang berjalan kaki banyak yang merenggangkan otot-otot mereka dan merilekskan sejenak bagian tubuh yang dirasa kaku.

Ia menutup payungnya kemudian mengayun-ayunkan tangannya di udara, menunjukkan betapa segar perasaannya pada saat itu.

Myungsoo berjalan santai menuju sebuah gang yang kiri-kanannya dipenuhi oleh deretan rumah bergaya klasik. Di antara rumah-rumah itu, ada juga cafe, toko buku, dan butik kecil yang membuat gang itu bertambah ramai. Myungsoo sangat menyukai suasana nyaman dan ramai dari gang yang ia lewati sekarang.

Sesekali Myungsoo menoleh ke kiri dan kanan, melihat orang-orang saling berinteraksi, makan, berjalan, dan melakukan aktifitas lainnya. Ia suka mengamati orang-orang yang bergerak seperti ini.

Tiba-tiba matanya terpaku pada sosok seorang waitress di sebuah cafe kecil. Waitress itu berdiri di teras cafe dan menghirup udara hujan sebanyak-banyaknya sambil tersenyum senang. Selama beberapa saat Myungsoo merasa waktu berhenti… selama 60 detik. Seorang pria yang akan naik ke motornya terlihat membeku. Seorang pria lain yang menabrak seorang wanita bermantel hitam terlihat membeku juga. Waktu itu terasa berhenti… karena Myungsoo akhirnya melihat wanita itu lagi. Wanita yang dulu bersamanya. Wanita yang dulu ia cintai.

Beberapa cipratan air mengenai wajah Myungsoo, seketika itu pula lamunannya buyar.

“Heebon-ah…”

Waitress yang dipanggil Heebon itu tidak melihat Myungsoo dan masuk kembali ke cafe. Sementara itu Myungsoo mengikuti Heebon secara spontan. Myungsoo duduk di salah satu kursi yang kosong yang menghadap ke arah dapur kering cafe. Disanalah ia melihat sosok Heebon mengatur-atur pesanan untuk para pelanggan dengan senyum manis di wajahnya.

“Oppa, ini cara memotong wortel kan? Benar kan?” tanya Heebon sambil terus memotong.

Myungsoo mengulurkan tangannya kemudian mengarahkan Heebon, “Tidak, tidak. Ini nih, caranya seperti ini. Pelan-pelan… ukurannya disamakan. Memotongnya juga harus pakai hati ya,” sebuah senyuman hangat terukir di wajah Myungsoo.

Heebon mengangguk.

Beberapa menit setelahnya, masakan Heebon telah siap dimakan. Spaghetti a la Myungsoo buatan Heebon.

“Hei, ini bisa dimakan tidak ya?”

Heebon terkikik, “Pasti bisa lah… kan aku sudah membuatnya sesuai ajaran Chef Kim Myungsoo, hihihi,” sepiring kecil spaghetii dihidangkannya di atas meja sementara Myungsoo sibuk melihati Heebon dan spaghetti itu bergantian.

“Mau aku suapin?”

Myungsoo mengangguk senang, ia sudah siap membuka mulutnya, “Aaaaa…”

Sesendok spaghetii masuk ke dalam mulut Myungsoo. Pria itu mengangguk pada Heebon sambil mengacungkan jempolnya, “Ini enak! Hmm… Lezat! Sekarang gantian, aku yang akan menyuapimu,” Myungsoo mengambil sesendok spaghetti dan Heebon memakannya. Sebelah tangan Myungsoo pun menghapus saus spaghetti yang berantakan di pinggir bibir Heebon. Mereka berdua tertawa bersama. Benar-benar bahagia.

Myungsoo menghela napas mengingat kenangan itu.

Di lain waktu, Myungsoo mengingat…

Ia dan Heebon sedang bersama di sebuah sofa yang letaknya membelakangi jendela. Heebon tertidur di pangkuan Myungsoo sementara Myungsoo sendiri membaca novel yang baru dibelinya. Sejenak Myungsoo berhenti membaca. Ia mengusap-usap rambut Heebon yang halus dan tersenyum sendiri.

Sekali lagi Myungsoo menghela napas panjang.

Tiba-tiba seorang waitress lainnya datang, “Sudah siap memesan, Tuan?”

“Ah, aku mau segelas Cappuccino hangat saja,” ujar Myungsoo.

Waitress itu bertanya lagi, “Mohon tunggu sebentar ya. Terima kasih,”

Sudut mata Myungsoo melihat Heebon yang seolah-olah menyadari keeksistensiannya di cafe itu.

Heebon mendorong pelan kepala Myungsoo dengan satu jari, “Ini nih… otak yang isinya masaaaaakkkk terus! Hahaha,”

“Walau isinya masak terus, tapi kamu suka kan, Heebon-ah?” Myungsoo membawa Heebon dalam rangkulannya.

Sebagai jawabannya, Heebon hanya tertawa dan mengangguk.

Di balik meja itu, Myungsoo yang terus mengawasi Heebon menunduk sebelum akhirnya menghela napas lagi untuk kesekian kalinya. Sementara Heebon siap mengantarkan pesanan para pelanggan.

Kenangan itu muncul dalam ingatan Myungsoo.

Mereka berdua duduk di balik meja makan dan minum susu bersama-sama. Heebon melihat sesuatu pada jari manis di tangan kiri Myungsoo, “Oppa, kenapa kau memakai cincin ini? Cincin ini punya arti khusus buatmu ya?”

Myungsoo tidak menjawab, tapi ia malah menyesapkan seteguk susu lagi. Heebon pun ikut-ikutan meminum susu dari gelasnya sendiri. Lalu Myungsoo menarik tangan Heebon. Pria itu melepaskan cincin yang ditunjuk Heebon tadi dan memakaikannya pada jari manis di tangan kiri Heebon. “Ini cincin khusus… karena cincin ini kuberikan padamu,” kata Myungsoo sambil nyengir.

Tak disangka, Heebon mengantarkan pesanan Myungsoo. Heebon berkata sambil tersenyum, “Silahkan Cappuccino-nya, Tuan,”.

Lagi-lagi Myungsoo menunduk sehingga Heebon tak bisa melihat wajahnya. Setelah Heebon pergi, Myungsoo meraih cangkir berisi Cappuccino itu dan menatap Heebon dengan tatapan sedih.

Di kepalanya saat ini dipenuhi oleh senyuman Heebon. Saat Heebon berada di rumahnya. Saat Heebon menarik tangannya.

Namun entah kenapa akhir-akhirnya semua menuju pada waktu ketika kejadian itu terjadi.

“Aku harus mengatakannya padamu sekarang, Oppa,”

Myungsoo yang terduduk di sofa bergumam, “….apa?”

Heebon membalikkan badannya kemudian menghampiri Myungsoo sambil melepaskan cincinnya, “Aku pergi. Aku tidak bisa menjaga cincin ini lagi,” ia meletakkan cincin itu dalam genggaman Myungsoo dan pergi begitu saja.

Hati Myungsoo hancur. Mau mengejar Heebon? Percuma, Heebon tidak akan kembali padanya walau ia memohon dengan berlutut. Mau marah-marah? Percuma, Heebon telah pergi. Yang ia bisa lakukan sekarang hanyalah menjaga perasaannya dan cincin itu… cincin pembawa luka.

“ARGGHHH!!!”

Berulang kali Myungsoo mengacak-acak rambutnya sendiri seperti orang gila. Ia sungguh tidak mengerti kenapa ini semua terjadi.

Di cafe itu, Myungsoo melepaskan cincin pembawa luka yang ia pakai sampai saat ini. Ia meletakkannya di atas meja dengan uang untuk membayar Cappuccino itu dan pergi.

Kupikir aku akan mulai melupakan Heebon dan membiarkan perasaanku pada Heebon hilang. Aku tidak bisa selamanya hanya terpaku pada Heebon.

Myungsoo melangkah menuju pintu cafe ketika Heebon tak sengaja melihat cincin Myungsoo di atas meja. Ia membawa cincin perak dengan ukiran sederhana itu dan menepuk-nepuk punggung Myungsoo.

“Tuan, ada barang Anda yang tertinggal.” ujarnya.

Langkah Myungsoo terhenti.

“Ini… cincin ini milik Anda kan?” ujar Heebon lagi.

Ketika ia menoleh, Heebon terhenyak. O, oh…

Myungsoo melipat tangan Heebon agar gadis itu menggenggam cincin yang tadinya adalah miliknya. Spontan saat itu juga semua ingatan Myungsoo tentang Heebon terputar kembali di kepalanya. Spaghetti buatan Heebon.. susu dalam gelas couple… sofa yang nyaman… cincin perak… usapan tangan di kepala Heebon…

-..-

Hujan baru saja turun dengan derasnya. Daun-daun yang basah meneteskan air, membuat tanah menggelap dan mengeluarkan aroma khas. Seorang gadis dalam balutan gaun merah muda menatap resah langit kelabu, kapan hujan ini akan berhenti? Kapan aku bisa pulang?

Sebuah payung hitam datang menutupi pandangan gadis itu. Si pemilik payung menatap si gadis dengan senyuman yang hangat.

-..-

“Terima kasih,” hanya itu yang diucapkan oleh Myungsoo sambil menutup tangan Heebon yang menggenggam cincin itu. Tak terasa bulir-bulir air mata jatuh dari pelupuk mata Myungsoo. Senyuman terakhir untuk Heebon… aku harus tunjukkan bahwa aku baik-baik saja tanpanya.

Kemudian Myungsoo pun berjalan meninggalkan Heebon dan cafe itu.

-..-

Heebon tersenyum manis pada Myungsoo. Mereka berdua berjalan di tengah-tengah guyuran hujan dalam payung hitam Myungsoo.

-..-

Hujan baru saja turun dengan derasnya. Daun-daun yang basah meneteskan air, membuat tanah menggelap dan mengeluarkan aroma khas. Payung hitam terbuka dan bulir-bulir air bercipratan kesana-kemari.

Seandainya saja ia masih ada disini… Berjalan bersamaku dan tersenyum.

THE END

tumblr_mdptzfj2Ih1rcrff7o2_1280