you-and-i-by-alicia-diana-teresa-soft1

YOU AND I Part 2 [A Helper]

Author : Alicia Diana Teresa
Main Cast : Kim Myungsoo (L), Bang Yunji
Genre : Fan fiction, romance, AU
Rate : PG15
Note : Maaf, karena kalin harus nunggu lamaaa buat FF ini ._. tanggal 27 Mei – 7 Juni kemaren aku UKK, makanya baru bisa lanjutin FF sekarang. Selain itu aku juga lagi demen-demennya(?) sama Ps, jadi gini deh ._.v

Untuk kesekian kalinya aku berhenti di hadapan sebuah halte bis yang memamerkan iklan pakaian dengan INFINITE sebagai modelnya. Aku masih tidak mengerti, sebenarnya apa pesona dari mereka ini? Visualnya saja bahkan memiliki perilaku yang kasar begitu. Ah, aku tidak mengerti anak-anak muda zaman sekarang -_-

“Kyaaaa~ itu iklan L Oppa yang baru!”

“Aduh, L Oppa tampan sekali! Ayo, foto aku dengan L Oppa!”

“Nanti gantian ya! Aku juga mau!”

Jeritan-jeritan itu spontan membuatku menutup kedua telingaku. Aish, anak-anak SMA yang baru pulang sekolah alias Inspirit berlarian ke halte bis ini demi foto L yang paling besar dari antara semua anggota INFINITE lainnya.

Sementara empat siswi SMA itu jejeritan berfoto-ria dengan poster Myungsoo, di sudut mataku aku melihat seorang siswi berbando merah muda hanya melihat teman-temannya itu dengan tatapan heran. Yah, pasti ada juga orang sepertiku disini. Orang yang tidak mengerti kenapa orang seperti Myungsoo bisa seterkenal itu padahal tabiat dan kata-katanya tidak sopan.

Beberapa menit kuhabiskan untuk mengamati tingkah laku anak-anak SMA itu. Aku memang kurang kerjaan. Ngapain sih aku memperhatikan anak-anak itu? Sudahlah, di rumah masih banyak hal yang harus dilakukan. Ayo, pulang!

-..-

Baru saja kunyalakan televisi ketika ponselku berbunyi nyaring.

“Yeoboseyo?”

“Yunji-yaaaaa!!!” suara Siyoung Eonni yang seperti pengeras suara memenuhi telingaku. Aku pun buru-buru menutup kedua telingaku.

“Apa-apaan sih Eonni ini? Tidak bisakah kau menelponku dengan baik-baik?”

Siyoung Eonni terkekeh, “Ah, mianhae, Yunji-ya~ omong-omong, hari Sabtu ini kau bisa membantuku lagi tidak? Ada beberapa set jas yang harus diantarkan ke…”

“Kemana? INFINITE?” potongku. “Maaf saja, Eonni, aku tidak mau. Visualnya itu… ihhhhh!!! Mengesalkan!!!” aku berteriak-teriak sambil mengentakan kaki.

Di seberang sana, Siyoung Eonni berkata, “Aduh, duh, duh… memangnya ada apa sih? Setauku, Myungsoo itu orang yang baik dan murah senyum kok. Apa minggu lalu terjadi sesuatu dengan kalian?”

Aku menghela napas panjang, “Err… Mungkin?”

“Dasar tidak jelas,” semprot Siyoung Eonni. “Yasudah lah kalau kau tidak mau mengantarkan jas-jas itu pada EXO-K. Mungkin aku bisa minta bantuan…”

“Hah?! EXO-K???”

Siyoung Eonni menyemprotku lagi, “Ya! Jangan berteriak seperti itu! Apa-apaan sih kau ini?”

“Siyoung Eonni, biarkan aku mengantar jas-jas itu! Kapan aku harus mengambil jas-jasnya?” tanganku sudah siap dengan notes dan bulpen. Mendengar nama EXO-K, aku langsung membuang rasa kesalku pada Myungsoo dan menggantinya dengan rasa tidak sabar akan bertemu Do Kyungsoo.

Aku mendengar Siyoung Eonni terkekeh lagi, “Besok jam 2 sore, antarkan 6 set jas dan aksesorisnya ke NUC TV. Kau masih ingat kan alamat gedung NUC TV?”

Aku mengangguk dengan semangat walau Siyoung Eonni tidak bisa melihatnya, “Oke, Eonni!”

“Terima kasih, Yunji-ya~ bye-bye,” sebelum menutup telponnya, Siyoung Eonni terkekeh. Orang itu senang sekali terkekeh-kekeh(?).

Sepeninggal telpon dari Siyoung Eonni, aku menikmati sisa hari itu dengan suasana hati yang bagus karena besok aku bisa minta tanda tangannya anggota EXO-K dan berfoto bersama mereka! Yey!

-..-

……….kenapa harus di lantai 4 lagi sih? Mana acaranya juga sama. N! Countdown. Argghhh… jangan sampai aku bertemu orang itu lagi.

Semangat bertemu EXO-Kku jadi menurun setelah aku mengetahui bahwa hari ini EXO-K akan sepanggung dengan INFINITE. Padahal aku tidak ingin hari yang indah ini diganggu oleh kehadiran si Kim Myungsoo itu. Argghh…

Aku mengecek secarik kertas yang kugenggam, ruang 402. Untung lah ruang tunggu EXO-K terletak jauh dari ruang tunggu INFINITE. Semoga aku tidak berpas-pasan dengan Kim Myungsoo ataupun salah satu anggota INFINITE.

Di hadapan pintu putih yang ditempel dengan kertas putih bertuliskan “EXO-K”, aku mempersiapkan jantungku. Jantungku ini… berdegup tak karuan saat aku mengetuk pintu itu dan menunggu jawaban dari dalam ruangan itu.

CKLEK!

“Selamat siang… Anda siapa ya?” sosok itu!!! The Angelic Leader Suho!!! Suho ada di hadapanku dengan wajahnya yang seperti malaikat!!! Suho!!! Ya ampun, jas-jas ini nyaris saja melorot dari pelukanku.

“Saya Bang Yunji dari LSY membawakan jas-jas yang akan kalian pakai di N! Countdown hari ini,” aku berusaha agar suaraku tidak terdengar tercekat.

Suho tersenyum ramah, “Oh ya, silahkan masuk dan letakkan jas-jasnya di gantungan baju. Terima kasih ya, Yunji-ssi,” ia membuka pintu lebih lebar lagi dan menunjuk gantungan baju tempat jas-jas itu harus kuletakkan.

Dalam ruang tunggu yang tidak terlalu besar dan penuh-penuh dengan lampu, semua anggota EXO-K sibuk dalam kegiatannya masing-masing. Kai tampak sedang menelpon. Sehun yang memakai topi malah tidur di sofa. D.O. dan Baekhyun asyik terpaku pada layar Tab. Sementara Chanyeol sedang makan nasi kotak di seberang Sehun. Oh, EXO-K… aku beruntung sekali bisa bertemu dengan kalian walau di sini aku hanya seorang kurir.

Setelah aku beres mengantungkan semua jas-jas itu di gantungan baju, aku memanggil Suho lalu berbisik padanya, “Begini… mungkin ini adalah permintaan yang pasaran bagi kalian. Tapi bolehkah aku meminta tanda tangan kalian dan berfoto bersama kalian?”

“Tentu saja boleh, Yunji-ssi.” Suho memamerkan deretan giginya yang putih mengkilau.

Buru-buru kukeluarkan ponsel serta notesku. Kuserahkan kedua benda itu pada Suho yang memanggil satu per satu anggotanya untuk berfoto bersama. Sempurna~ akhirnya aku bisa mendapatkan tanda tangan Do Kyungsoo~

Saat berfoto bersama, Kyungsoo berdiri di sebelahku. Ia bahkan merangkulku dan kami sempat bertukar LINE ID. Ini sangat sangat sangat sempurna!

Setelah foto bersama dan acara tanda tangannya selesai, aku membungkuk mengucapkan terima kasih kemudian keluar dari ruang tunggu EXO-K dengan hati berbunga-bunga. Untunglah koridornya sedang sepi, jadi aku bisa bebas mengekspresikan rasa senangku sambil tersenyum-senyum melihat fotoku bersama EXO-K. Kkk~

“Heh, Nona Pengantar Jas.”

Lihat, Kyungsoo terlihat lucu sekali di foto ini! Ah! Akan kuperbesar foto ini kemudian mengedit bagianku dan Kyungoo.

“Nona, kau kabur dari rumah sakit jiwa ya?”

Eh, ada yang berbicara ya? Siapa ya? Hiraukan saja deh. Sepertinya tidak penting.

“Kau tidak punya telinga ya? Dimana sopan santunmu saat kupanggil?”

BLETAKKK!!!

Kepala orang itu kupukul dengan tasku yang berisi buku sketsa.

“Aduh… tolong! Ada yang melakukan kekerasan disini!” sial, dia malah teriak-teriak seperti itu! Maunya apa sih?

Aku berkacak pinggang menghadapinya. Aku tahu berkacak pinggang seperti ini memang tidak sopan… tapi coba pikirkan saja, apakah orang yang menyebalkan seperti dia patut dihormati? “Kim Myungsoo, maumu apa sih?”

Kim Myungsoo bangkit berdiri sambil mengusap-usap kepalanya yang kupukul tadi, “Aku hanya ingin kau membantuku saja kok, tidak lebih dan tidak kurang,”

“Kalau seperti itu seharusnya kau bisa meminta secara baik-baik kan, Kim Myungsoo? Kenapa harus mengata-ngataiku sih? Well, aku tahu mungkin aku yang suka membantu sepupu-ku mengantar jas bagi para idola memang terlihat seperti orang yang pendidikannya rendah… tapi bisa pakai sopan santunmu ketika memanggilku kan, Kim Myung-soo-ssi?” kuberi penekanan khusus pada kata -ssi.

“Jadi kau mau membantuku atau tidak?”

Demi Tuhan, pria ini minta masuk rumah sakit. “Iya, iya… sebisa mungkin aku akan membantumu dalam melakukan pekerjaanmu, Kim Myungsoo-ssi,”

Ia memamerkan senyuman mematikannya, “Nah, begitu dong… kalau kau jawab seperti itu dari minggu lalu mungkin hari ini aku tidak akan menganggumu, hehehe,” ia cengengesan. Sementara aku memberikan tatapan tajam padanya. “Mulai besok, tolong datang ke dorm INFINITE ya. Kutunggu kau jam 6 pagi. Kalau telat, lihat saja besok,” ujarnya seraya pergi menuju ruang tunggu INFINITE dan meninggalkanku di koridor itu dengan tatapan tak percaya.

Jam 6 pagi…? Hei, aku juga punya pekerjaan sendiri!

-..-

Kuempaskan tas tanganku ke salah satu sofa. Hari ini benar-benar menguras emosi…

Kupijit-pijit pelipisku sambil mencoba rileks. Mungkin aku harus menenangkan diri dengan minum segelas Vodka, ah tidak… sebotol Vodka.

Kenapa ya, masalah dengan Myungsoo membuatku emosi sampai sebegininya?

-..-

Sudah 30 menit kutunggu sampai aku lelah berdiri. Sudah berulang kali pintu itu kuketuk. Aku yakin itu pintu yang tepat karena aku sudah mencari-cari alamat dorm INFINITE dari setiap website yang ada di internet dan fancafe-fancafe INFINITE.

Apa Myungsoo hanya mempermainkanku saja?

Pikiran itu sempat terbesit dalam kepalaku. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa ia benar-benar memintaku datang ke dorm INFINITE selain aku dan dia sendiri.

Beberapa menit kutunggu lagi, tapi tetap saja pria itu tidak muncul. Akhirnya kuputuskan untuk melupakan permintaan tolong Myungsoo dan hanya menganggapnya sebagai jebakan dari sisi sintingnya.

Aku lelah…

“Lho, kau sudah datang?”

Aku terperanjat. “Kok kau… kau…”

“Aku kenapa ada di luar dorm?” Myungsoo menyuarakan pikiranku. “Setiap pagi aku selalu lari pagi di kawasan apartemen. Tapi karena tulang rusukku ini, tadi aku hanya jalan-jalan biasa saja.”

Myungsoo memencet tombol yang menunjukkan lantai dimana dormnya berada. “Kupikir kau tidak akan datang,”

Aku masih tidak percaya Myungsoo berdiri di sebelahku. Kupikir dia orang yang suka bangun siang dan pagi ini tugas pertamaku adalah membangunkannya. Ternyata tidak. Sepagi ini ia sudah bangun… cukup mengesankan untuk ukuran seorang idola yang sibuk.

“Sudah menunggu lama?” tanyanya, membuatku tersadar dari pikiranku.

Aku mengangguk mengiyakan, “Aku sudah menunggumu lebih dari setengah jam, bodoh,”

Lift berhenti dan pintunya terbuka perlahan. Myungsoo mendahuluiku berjalan menuju dormnya. “Maaf, kupikir kau tidak akan datang.”

“Kau pikir aku ini orang seperti apa hah?” kujitak kepalanya.

Myungsoo menatapku dengan tatapan galak, “Yaudah sih, tidak perlu pakai jitak segala kan? Tanganmu ini ringan sekali sih,” ia mengusap-usap kepalanya yang sakit. Sementara itu aku hanya cengar-cengir.

Pria itu membuka pintu kayu yang berpelitur dan terlihat berat itu, “Pekerjaan pertama, bereskan seisi dorm ini karena hari ini seharusnya aku yang membereskan dorm.” setelah berkata demikian Myungsoo pergi ke kamarnya.

Aku mengamati keadaan dorm INFINITE yang harus kubereskan. Err, aku jadi menyesal masuk ke dorm ini. Seharusnya tadi aku langsung kabur saja saat bertemu dengannya. Bagaimana tidak? Lihat aja, semua barang berserakan dimana-mana. Pakaian-pakaian kotor tidak dimasukkan ke keranjang baju kotor tapi dilempar seenaknya saja. Aksesoris-aksesoris seperti topi dan kalung hanya ditaruh begitu saja diatas sofa sehingga aku tidak bisa melihat dimana permukaan sofanya.

Bahkan sepatu pun bisa ada di atas kulkas!

Setelah ‘puas’ menyelidiki seluk-beluk dorm INFINITE dan barang-barangnya yang sembarangan, aku memutuskan untuk membereskan sepatu-sepatu dulu. Lalu menata pakaian-pakaian dan aksesoris. Kemudian membersihkan lantai, dapur, dan dinding. Mungkin aku harus mengecek isi kulkas mereka juga. Err… seharusnya aku membawa masker dan sarung tangan -_-”

Ketika aku sedang sibuk mengelap bagian atas televisi, kudengar pintu kamar dibuka. “Myungsoo-ssi, ini dorm apaan? Kalian tidak pernah membersihkannya ya? Jorok sekali,” protesku tanpa melihat sosok Myungsoo.

Tunggu.

Kenapa Myungsoo tidak segera menjawab? Biasanya pria itu selalu langsung membalas perkataanku dengan kata-kata yang sinis.

Kubalikkan badanku dan aku mendapati Sungjong dengan rambut berantakan dan mulut terbuka.

“Kau siapa?!” teriak Sungjong sambil menunjukku.

Aku meletakkan kemoceng(?) di sembarang tempat, “Eeh, tunggu! Tunggu! Aku bisa jelaskan! Aku… aku pembantu baru disini!” Eh?

Sungjong menatapku tidak percaya dan ia terlihat masih kaget, “Pembantu? Bukannya sudah ada Bibi Woo disini?”

“Bukan, aku bukan pembantu. Aku hanya membantu Myungsoo.” jawabku.

“Myungsoo Hyung? Kok kenapa…”

“Iya, mulai hari ini dia membantuku, Sungjong-ah. Tenang, dia bukan orang yang patut dicurigakan kok,” suara Myungsoo yang muncul tiba-tiba menghentikan keheranan pada Sungjong. “Dia akan membantuku sampai aku sembuh,”

Pria cantik itu menatapku dan Myungsoo bergantian, “Membantu… pembantu ya?”

Gubrak ya, Sungjong -_-

-..-

Sudah 5 jam aku membereskan dorm INFINITE ini dan sekarang nyaris jam makan siang. Huah, lelah juga membereskan seisi dorm yang sumpah-berantakan-seperti-kapal-pecah. Dan aku membereskan semuanya sendirian! Myungsoo hanya mengawasiku membersihkan lantai dan kamar mandi tanpa membantuku sedikit pun. Tidakkah ia memiliki belas kasihan saat melihat seorang perempuan bekerja sendirian membereskan seisi apartemennya seperti ini?

KRUCUK KRUCUK KRUCUK…

Uups.

“Aku ingin makan nasi…” ujarku sambil merentangkan tangan ke atas sehingga sendi-sendiku berbunyi kretek-kretek. “Nasi… aku mau nasi… laparrrr,”

Lalu aku mendengar pintu salah satu kamar terbuka. Suara langkah kaki terdengar sebelum suaranya mengagetkanku, “Heh, berisik.”

“Tapi aku laparrrr… berikan aku makanannnnn,” aku merengek serta berguling-guling(?) di hadapan Myungsoo.

Visual INFINITE itu… bukannya mengatakan bahwa ia akan membelikanku makanan, malah memasang ekspresi dingin sedingin es di kutub selatan kemudian masuk lagi ke kamarnya.

Dasar visual sialan!!!

Atas dasar perilakunya yang tidak berperikemanusiaan itu, aku memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan membersihkan dorm INFINITE di tengah jalan. Kupakai heels-ku dan keluar dari dorm yang 3/4 bersih karena kubersihkan. Masa bodoh dengan membantu Myungsoo. Pria seperti itu seharusnya sejak awal tidak usah diladeni. Bodohnya aku mau meladeni dia.

Setelah turun ke lobi gedung apartemen, aku keluar lalu berjalan di sekitar tempat itu untuk mencari restoran makanan Cina yang menyajikan ikan dori kukus dengan saus kecap. Kalian harus tahu bahwa makanan itu sangat enak dan kalian akan ketagihan saat pertama kali mencobanya sampai-sampai makan seporsi pun tidak cukup. Padahal porsinya lumayan besar, hahaha… tapi namanya juga makanan enak, seporsi tidak akan cukup.

Untunglah aku menemukan restoran itu dan saat itu pengunjungnya tidak ramai-ramai amat. Seorang pelayan menunjuk pada sebuah meja yang terletak nyaris di sudut depan restoran sebelum ia menyodorkan buku menu padaku.

Aku menyebutkan menu-menu yang ingin kunikmati pada si pelayan. Pelayan wanita itu mengulang pesananku kemudian pergi meninggalkan mejaku. Sambil menunggu pesanan makanan, aku pun membuka ponselku dan iseng-iseng membuka LINE Play. Hmm, cukup lumayan untuk membunuh waktu dan membunuh bunyi kruyuk-kryuk di perut, hehehe.

Tak berapa lama, menu-menu itu datang, baik yang makanan maupun minuman. Karena sudah lapar, tanpa melirik kanan-kiri lagi aku langsung melahap semuanya satu per satu dengan penuh semangat. Hmm, makan ikan dori seperti ini membuat semangatku kembali! Semangat, Yunji! Ayo, lanjut makan lagi!

TOK TOK TOK!!!

TOK TOK TOK!!!

Dengan mulut yang masih penuh, aku menoleh ke sebelah kiriku yang merupakan dinding kaca.

Spontan aku terbatuk dan gelagapan mencari minumanku. Pria itu! Kenapa ia tahu aku ada disini? Oh tidak, aku pasti akan ditarik lagi ke dormnya…

Setelah merasa lebih baik, aku lanjut makan tanpa mempedulikan Myungsoo yang melihatku dari balik dinding kaca. Sebodoh dengannya. Aku sudah memutuskan untuk tidak kembali karena sikapnya itu. Dasar pria menyebalkan!

TOK TOK TOK!!!

Ia terus mengetuk-ngetuk kaca itu sementara aku menikmati ikan dori-ku yang masih hangat.

Ketika beberapa saat kemudian aku minum, Myungsoo sudah duduk di hadapanku dengan tatapan ingin membunuhku. Pria ini tidak sadar bahwa kehadirannya telah merusak mood makanku ya? Apalagi ia datang tanpa penyamaran, membuat para Inspirit spontan berduyun-duyun memenuhi restoran dan berteriak-teriak menyebutkan namanya berulang kali. Hal ini membuat para pegawai restoran membentuk barikade sehingga daerah tempatku dan tempatnya berada menjadi daerah steril.

“Kenapa kau datang ke sini?” aku bertanya sambil tetap makan.

Myungsoo melipat kedua tangannya, “Aku mencarimu. Aku tidak habis pikir kenapa tiba-tiba dorm terasa sepi, tidak ada gerutuanmu lagi. Ternyata kau sudah pergi,”

“Bukan salahku aku pergi,” balasku singkat.

“Tapi kau tidak bertanggung-jawab, padahal kau sudah berjanji akan membersihkannya sampai bersih,”

Aku mengernyit, “Tapi kau membiarkanku kelaparan!” aku nyaris berteriak.

Myungsoo terdiam, ia tidak membalas perkataanku. Mungkin ia sedang berpikir karena sekarang giliran dahinya yang berkerut. Namun aku agak meragukannya sebab tatapannya mengarah pada makanan-makananku. Apa dia lapar juga?

Beberapa saat aku dan Myungsoo hanya diam di tempat masing-masing. Aku dengan makananku. Myungsoo dengan sikap dinginnya.

“Baiklah, maafkan aku karena aku menelantarkan makan siangmu… kupikir aku keterlaluan juga.” katanya tiba-tiba. “Seharusnya aku lebih memperhatikan pegawaiku bukan?” ia nyengir memamerkan sederetan gigi putihnya kemudian lari cepat-cepat dari hadapanku. Sial, aku jadi tidak bisa memukulnya! Seenaknya saja ia mengatakan bahwa aku adalah pegawainya!

-..-

“Oh? Yunji-ya, kau sudah kembali?” suara Sungjong mengagetkanku saat aku meletakkan sepatu di samping rak sepatu dorm INFINITE. Aku lebih kaget lagi ketika pria itu tidak memanggilku dengan embel-embel -ssi, tapi langsung memanggilku dengan sebutan -ya. Sepertinya Sungjong anak yang ingin cepat akrab dengan semua orang ya.

“Iya, tadi aku makan siang sebentar di restoran dekat sini.” aku memungut pakaian-pakaian yang berserakan di lantai dan melemparnya ke keranjang baju kotor. “Kau sedang apa, Sungjong-ah?”

Dari dapur terdengar suara ketukan berirama. Suara ketukan antara pisau dapur dengan talenan. Sungjong menjawab sementara suara ketukan itu masih terdengar, “Aku mau masak cemilan, aku lapar. Kau mau juga?”

Aku menggeleng, “Tidak, aku masih kenyang. Kau buat saja untuk dirimu sendiri.” tidak ada jawaban dari Sungjong yang ada di dapur. Ah, omong-omong kemana si visual tidak tahu diri itu? Kenapa suaranya tidak terdengar daritadi?

Iseng-iseng aku berjalan menuju kamarnya dan pintu kamar itu tidak terlalu rapat di tutup, masih ada celah sehingga aku bisa melihat Myungsoo yang tergeletak di atas ranjang dengan pulasnya. Ah, buat apa sih aku datang ke sini dan melihat pria sombong itu? Sudahlah, lebih baik aku kembali bekerja kemudian pergi ke rumah Siyoung Eonni. Lagipula pekerjaanku disini sedikit banyak sudah selesai.

“Sungjong-ah, aku pulang dulu ya? Pekerjaanku sudah beres,” ujarku sambil berjalan menuju rak sepatu.

Sungjong berseru dari dapur, “Oh, sudah mau pulang? Apakah besok kau akan kesini lagi, Yunji-ya?”

Oh my God, ini salah satu jenis pertanyaan yang aku hindari. Apakah besok aku akan datang kesini dan menjadi pembantu Myungsoo lagi? “Y, ya… mungkin kalau ada waktu besok aku akan datang,”

“Baguslah… hati-hati dijalan, Yunji-ya!” seru Sungjong lagi.

Sementara aku hanya mengangguk lalu membuka pintu dorm dan pergi dari tempat itu. Hah… syukurlah aku cepat selesai. Syukurlah pada akhirnya Myungsoo tidur dan suaranya tidak membuat telingaku tuli. Kupastikan besok-besok aku tidak akan kesini lagi. Walaupun itu adalah Sungjong yang mengajakku sekali pun, aku tetap tidak mau. Sebab hidupku tidak akan kuhabiskan di dorm INFINITE saja.

Sesampainya di apartemen, aku mengempaskan diriku ke atas sofa yang empuk. Seluruh otot-ototku rasanya kaku dan pegal setelah membersihkan seluruh dorm INFINITE. Aku hanya bisa berharap besok-besok mereka menyewa pembantu baru, bukannya menyuruhku ke sana lagi. Lagipula aku tidak dibayar, hahaha…

Tiba-tiba ponselku berbunyi, menandakan ada sebuah pesan masuk. Dari siapa? Nomornya tidak terdaftar di phonebook-ku.

Hei, Nona Pengantar Jas. Kau kira bisa kabur seperti itu? Besok-besok kau harus datang kalau kupanggil. L.

Dari mana dia tahu nomor ponselku???!!

-..-

Next : YOU AND I Part 3 [I Hate You]