you-and-i-by-alicia-diana-teresa-cheerful1

YOU AND I Part 3 [I Hate You]

Author : Alicia Diana Teresa
Main Cast : Bang Yunji, Kim Myungsoo (L)
Genre : Fan fiction, romance, AU
Rate : PG15
Note : Ini nama manager INFINITEnya ngasal -_-v beberapa plot yang menurutku bagus udah ‘nemplok’ di otakku. Tapi saat plot itu datang, aku lagi ada di luar rumah dan nggak bawa notes W(*_*W) jadi lah plot yang bagus itu terlupakan. Maaf kalo cerita di part ini kurang panjang~ I have no idea about what I write here *kicked by Myungsoo*

“Yunji-ya, Hwang Joonha-ssi sudah menunggu,” ujar asistenku, Steve Park, dari celah pintu.

Aku buru-buru membawa notes dan bulpenku, “Ya, terima kasih. Aku segera ke sana, Steve,” setelah Steve pergi, aku berjalan menuju ruang tunggu tamu di ujung koridor.

Kubuka pintu ruang tunggu dan mendapati seorang pria bermata sipit berpakaian semi formal menyambutku, “Selamat pagi, Bang Yunji-ssi,” ujar Hwang Joonha, klien-ku kali ini.

“Pagi, Hwang Joonha-ssi,” aku menyambut jabatan tangannya yang tegas.

“Ini foto-foto ruangan apartemen yang ingin kami ubah interior-nya.” Joonha membuka amplop cokelat yang ia bawa kemudian membiarkan foto-foto dari amplop itu berserakan di atas meja kaca. “Kami ingin semua ruangannya di ubah agar menimbulkan suasana yang menyegarkan bagi para anak asuh kami.”

Aku mengambil dua-tiga lembar foto di atas meja itu. Ini… Sepertinya aku mengenal tata ruang apartemen ini… Lalu keranjang baju kotornya, sofanya… Jangan-jangan…

“Anak asuh?”

Joonha mengangguk, “Tolong rahasiakan ya, Yunji-ssi. Ini adalah apartemen tempat para anggota INFINITE tinggal dan saya sebagai manager mereka harus mengurusi semua ini.” ia meletakkan satu jari telunjuk di depan mulutnya.

Spontan foto-foto apartemen itu jatuh dari tanganku ke lantai. Oh tidak… Kenapa lagi-lagi harus INFINITE? Aku memijat-mijat pelipisku karena rasanya tiba-tiba terkena vertigo.

-..-

“Bisakah proyek ini di alihkan pada Yixing? Anda tahu kan, saya masih harus mengerjakan 4 proyek besar,” aku menghela napas setelah menyampaikan protes pada atasanku, Lee Yongdae.

Yongdae terkekeh melihatku frustasi seperti ini. Dasar atasan setan! “Tidak bisa~ Yixing juga punya pekerjaan yang lain. Kerjakan apa yang sudah menjadi tanggung-jawabmu, Yunji-ya… Jangan kabur hanya karena Myungsoo yang menyebalkan,”

“A, Anda tahu darimana…?”

Yongdae terkekeh lagi seolah aku ini bahan tertawaan, “Siyoung,”

Oh iya, Lee Siyoung Eonni. Sial, terkadang aku lupa bahwa Yongdae ini adalah sepupu Siyoung Eonni. Argh. Siyoung Eonni pasti kelepasan bercerita pada Yongdae.

“Yunji-ya, lebih baik kau pikirkan material-material yang akan dipakai untuk dorm INFINITE daripada terus protes seperti ini,” ujar Yongdae mengusirku dari ruangannya.

Huh! Aku harus bagaimana…? Eomma~ TT^TT

-..-

“HEI KAU! DATANG KE DORM SEKARANG JUGA!!!”

Aku harus menutup telingaku kalau tidak ingin tuli karena suara si visual itu. “Jangan teriak-teriak! Kau pikir aku tuli, hah?!”

Myungsoo berdecak dari seberang sana, “POKOKNYA DATANG SEKARANG.” kemudian ia memutuskan sambungan teleponnya begitu saja. Apa-apaan sih?!

Dengan langkah malas aku berjalan menuju dorm INFINITE melewati orang-orang yang masih berlalu-lalang di perempatan jalan. Di saat orang-orang sudah pulang ke rumah mereka, aku masih harus ke dorm INFINITE dan membereskan dorm yang super kotor itu. Di saat orang-orang duduk di belakang meja makan dan mulai mengisi perut, aku masih berada di dalam dorm kemudian membersihkan kamar Myungsoo. Hidupku kasihan sekali…

“Kau lama,” ujar Myungsoo sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya menunjukkan bahwa hari itu ia sedang dalam bad-mood.

Tanpa membiarkan aku berbicara sepatah kata pun, pria itu langsung membalikkan badannya dan berjalan menuju lift sebelum memencet tombol ke atas.

Aku ingin mengeluarkan suaraku dan melancarkan aksi protesku pada Myungsoo. Tapi entah kenapa ia terasa menyeramkan hari ini. Di sekeliling tubuhnya serasa ada aura gelap(?).

Sampai di depan pintu dorm INFINITE, Myungsoo membuka pintunya lalu masuk ke dalam. Aku menutup pintu, melepaskan sepatu, dan melemparkan tas ke sofa. Sementara itu Myungsoo malah meninggalkanku dan masuk ke dalam kamarnya. Apa yang akan kulakukan disini?

Semenit-dua menit aku berpikir. Ah, ada baiknya aku mulai membersihkan dorm daripada nanti ketika Myungsoo keluar dari kamarnya ia malah memarahiku. Jadi aku memutuskan untuk memulai semuanya dari dapur yang penuh dengan piring kotor. Tumpukan piring kotor ini membuat sebuah pertanyaan muncul di benakku : Apakah Bibi Woo tidak bekerja hari ini?

Seiring berjalannya waktu, dorm INFINITE jadi semakin bersih setelah kubersihkan sampai ke sudut-sudut yang tidak terjangkau, hahaha~ aku ini berbakat bebersih juga ya.

Aku menoleh dan pandanganku menangkap jam di dinding. Jam 6 malam. Dan belum ada seorang anggota pun yang pulang, selain Myungsoo tentunya. Apakah Myungsoo sudah makan malam? Apakah di kulkas ada makanan? Apakah aku harus masak untuknya?

Kutinggalkan kemoceng(?) di atas kasur… Sepertinya ini kasur Sungyeol. Aku mengetuk pintu kamar Myungsoo beberapa kali. Tapi ia tidak menjawab apa pun. Aneh…

“Myungsoo-ssi? Myungsoo-ssi?” panggilku setengah berteriak. Sementara pikiran-pikiran liar mulai muncul di benakku. Jangan-jangan Myungsoo telah melompat dari jendela kamarnya? Jangan-jangan Myungsoo kabur? Jangan-jangan Myungsoo… Aah, pikiran ini!

Apa pintu ini kudobrak saja?

Kulirik kiri-kananku. Tidak ada siapa-siapa dan aku tidak mengenal siapa-siapa di sini, kecuali Myungsoo.

KLEK!

Pintu kamarnya tidak terkunci. Aku masuk ke dalam kamar itu, kamar yang gelap karena lampunya tidak dinyalakan. Kuraba-raba dinding kamar untuk menyalakan saklar lampu. Ketika sinar putih menerangi kamar Myungsoo, mataku mendapati Myungsoo terkapar di atas kasurnya dengan wajah pucat dan keringat membanjiri wajahnya.

“Myungsoo-ssi! Kau mendengarku? Ya, kau demam tinggi!” aku menyentuh dahinya yang sangat panas. Sepertinya ini salah satu indikasi bahwa rusuknya mulai membaik. Tapi tetap saja…

Dengan sekuat tenaga aku mengubah posisi Myungsoo yang tengkurap sembarangan di atas kasurnya menjadi terlentang di sisi sebelah kanan kasur.

Aku benar-benar jadi repot sekali. Setelah memastikan Myungsoo tidak mengeluarkan hal yang aneh-aneh, aku mengambil segala benda yang dapat menutupi identitas fisiknya kemudian membawanya turun ke lobi gedung apartemen dan masuk ke dalam taksi pertama yang menghampiri kami.

“Ajusshi, tolong bawa kami ke rumah sakit terdekat! Cepat!” aku menepuk-nepuk jok kursi supir lalu seketika itu juga taksinya melaju semaksimal mungkin.

Sesampainya di rumah sakit terdekat, yaitu Seoul National University Hospital, Myungsoo masuk unit gawat darurat alias UGD. Selain Myungsoo, ada dua sampai tiga orang yang di rawat di bilik-bilik di samping Myungsoo serta empat sampai lima orang penunggu yang duduk di sudut dekat pintu masuk UGD. Untunglah orang-orang itu tidak ada yang menyadari kehadiran Myungsoo.

Dokter jaga yang bertugas datang tidak berapa lama. Dokter wanita itu memakai name tag bertuliskan namanya, Kang Jiwon. Dengan cekatan dokter Kang memeriksa Myungsoo dan setelah itu bertanya padaku, “Pasien ini benar Kim Myungsoo-ssi?”

Aku mengangguk mengiyakan.

“Anda yang membawanya kemari ya? Siapa nama Anda?”

“Iya, nama saya Bang Yunji.” aku memperkenalkan diri yang kemudian dilanjutkan dengan penjelasan singkat mengenai ‘penemuan’ku terhadap Myungsoo di kamarnya.

Dokter Kang menyerahkan papan berjalan pada seorang perawat sebelum berkata padaku, “Demam ini merupakan indikasi bahwa tulang rusuk Myungsoo-ssi sudah mulai membaik. Namun selain itu Myungsoo-ssi juga kelelahan. Sepertinya dia tidak berhenti bekerja ya, walau pun sedang sakit?” oke, dokter ini tahu bahwa Myungsoo yang baru saja di periksanya adalah L si visual INFINITE.

“Setahu saya, dia beristirahat total dari pekerjaannya sebagai artis. Tapi saya tidak tahu tentang kegiatan yang dia lakukan ketika saya tidak datang ke apartemennya,”

“Hmm… Kalau begitu biarkan saja Myungsoo-ssi beristirahat sebentar di sini. Saya tinggal dulu ya, masih ada pasien lain,” ujar dokter Kang sambil menyibakkan tirai dan meninggalkan kami berdua dalam bilik itu.

Sepeninggal dokter Kang, aku berdiri di sisi Myungsoo. “Makanya jadi orang jangan galak-galak. Lihat kan akhirnya seperti apa? Aku yang membawamu ke rumah sakit. Kau berhutang budi, tahu?”

Myungsoo tidak menjawab apa pun, ia masih memejamkan matanya seraya bernapas dengan berat.

“Aku terpaksa menungguimu di sini… Aku tidak tahu nomor ponsel Sunggyu Oppa. Aku juga tidak tahu nomor ponsel para anggota INFINITE yang lainnya. Tapi sebelum kita pergi, aku sempat meninggalkan sebuah catatan kecil di atas meja makan. Semoga saja mereka semua cepat kembali dan datang ke sini ya?”

Myungsoo tidak menjawabku lagi, namun ia menggeliat dan mengubah posisi tidurnya sebelum berkata, “…air… Aku haus,”

“T, tunggu sebentar! Aku beli air mineral dulu di kantin,” secepat kilat aku meninggalkan Myungsoo menuju kantin lalu membeli tiga botol air mineral sekaligus.

Sekembalinya aku ke bilik Myungsoo, ternyata sudah ada Sungyeol Oppa, Sungjong, dan Dongwoo Oppa di sana. Sungjong dengan baik hati menjelaskan pada Sungyeol Oppa dan Dongwoo Oppa mengenai diriku. Sebagai orang yang di besarkan dengan sopan santun, aku memberi salam pada kedua orang itu.

Kusodorkan satu botol air mineral yang telah kubuka pada Myungsoo, “Hei, Myungsoo! Ini air minumnya, minum lah pelan-pelan.” sementara itu Dongwoo Oppa dan Sungjong membantu Myungsoo agar dapat minum dengan baik. Tapi sayangnya si Myungsoo itu malah tersedak.

“Ya! Kan sudah kubilang minumnya pelan-pelan. Airnya masih banyak. Lihat, masih ada dua botol lagi!”

Dari belakang, Sungjong menyodorkan sapu tangannya padaku, “Gunakan saja untuk Myungsoo hyung,” ujarnya di sertai dengan senyuman yang manis. Aduh, Sungjong… Kamu boleh Nuna bawa pulang?

“Ah iya, kau sudah makan malam, Yunji-ya?” tanya Sungyeol Oppa setelah Myungsoo selesai minum dan aku selesai mengeringkan dagu serta leher Myungsoo yang basah.

Aku menggeleng, “Belum sempat. Apa kalian juga belum makan malam?”

Sungyeol Oppa berkata, “Iya… Tadi kami terburu-buru ke sini sampai lupa membawa nasi kotak dari manager hyung,” ia cengengesan. Ah, maksudnya pasti dari Hwang Joonha. “Mau makan bersama, Yunji-ya?”

Sejenak aku melihat Dongwoo Oppa, Sungjong, dan Sungyeol Oppa secara bergantian, “Uh, oh… Bagaimana dengan Myungsoo? Siapa yang akan menjaganya?”

“Tenang saja, Myungsoo tidak akan hilang kalau kita tinggal sebentar,” ujar Dongwoo Oppa sambil menarik tanganku menjauh dari bilik Myungsoo.

Baru dua langkah aku berjalan mengikuti Sungjong, tapi tiba-tiba aku merasa tanganku yang satu lagi di tarik ke arah berlawanan. Aku membalikkan badan dan mendapati Myungsoo mencengkram pergelangan tanganku erat-erat. “Jangan pergi…”

Hah?

“Kumohon, jangan pergi… Jangan,”

Otakku masih tidak merespon. Myungsoo mengigau kan?

Aku melepaskan cengkraman tangan Myungsoo dari pergelangan tanganku, “Hei, jangan bercanda. Kau ini mengigau yang tidak-tidak saja. Sudah lepaskan, aku mau makan malam bersama Sungyeol Oppa, Sungjong, dan Dongwoo Oppa,”

“Aku tidak bercanda, Yunji-ya,” ujar Myungsoo kemudian ia menarikku dan tanpa kusadari bibirku… Bibirku sudah tidak perawan, eh, maksudnya aku berciuman dengan Myungsoo.

Beberapa perawat dan dokter yang mengenali Dongwoo Oppa, Sungyeol Oppa, Sungjong, dan Myungsoo pun segera mengambil ponsel mereka lalu memfoto aku dan Myungsoo yang berciuman. Sial! Myungsoo sialan!!!

Kudorong tubuh Myungsoo menjauhi diriku, “Jangan bercanda! Kau… Kau berani-beraninya… Itu ciuman pertamaku, tahu!” kuraih tote bag-ku kemudian pergi melewati orang-orang yang masih menonton kami. “Aku benci Kim Myungsoo!” setelah berkata demikian, aku keluar dari Seoul National University Hospital sambil berharap tidak ada satu pun dari mereka yang menyusulku.

Aah, sialan kau, Myungsoo… Kau mempermainkanku seperti ini.

Aku ini wanita, aku punya perasaan. Kenapa kau… Kenapa…?

Apa yang harus kulakukan kalau di tabloid-tabloid besok terpampang wajahku dan wajah Myungsoo? Aku harus pergi kemana?

Apa yang harus kukatakan saat bertemu dengan Hwang Joonha di kantor?

Kim Myungsoo, kau membuat duniaku jadi jauh lebih rumit. Aku benci padamu, Kim Myungsoo.

-..-

Siyoung Eonni menjatuhkan sendoknya saat aku selesai bercerita. Ia berjalan cepat menujuku lalu duduk di hadapanku. “Dia menciummu? Dia…? Myungsoo?”

“Iya! Siapa lagi sih, yang kita bicarakan di sini? Brad Pitt?”

“Ya ampun, Yunji-ya! Kau beruntung sekali! Kapan-kapan kenalkan aku pada teman-teman Myungsoo yang umurnya sepantaran denganku ya?” kedua bola mata Siyoung Eonni terlihat berbinar-binar. Oh tidak, aku bercerita pada orang yang salah.

“Eonni! Aku serius! Aku tidak menyukai ini, oke? Aku harus bagaimana…? Kalau besok wajahku ada di tabloid dan di internet, habis lah hidupku,”

Wanita berusia tiga puluh satu tahun itu kembali ke pantry kemudian mengambil sendok yang baru, “Semoga Tuhan memberkatimu, Yunji-ya,”

Uuhhh, Eonni payah!!!

Aku melempar sebuah bantal sofa ke arah Siyoung Eonni yang di tanggapi dengan tawaan garing wanita itu. Uuhhh…

-..-

Esok paginya, sesuai dugaanku, tabloid-tabloid yang di jual di stasiun kereta di penuhi dengan adegan berciumanku dengan Myungsoo. Beberapa remaja berseragam sekolah menengah yang berkumpul di depan stan penjual koran dan tabloid sambil menunjuk-nunjuk pada artikel itu. Di stan lain, remaja-remaja itu bahkan melontarkan kata-kata yang tidak pantas.

Di tabloid saja sudah begini. Bagaimana di website? Ah, pasti komentar negatif di sana lebih banyak lagi dari pada yang kudengar pagi ini.

Syukur lah aku tiba di kantor tanpa kekurangan apa pun. Setidaknya di depan gedung kantor tidak ada wartawan sama sekali dan tidak ada orang-orang yang mencelaku dan Myungsoo.

Aku melempar tote bag-ku ke sudut meja lalu mengempaskan bokong di kursi yang empuk. Hari ini juga banyak yang harus kukerjakan, mulai dari proyek-proyek yang masih belum selesai hingga rapat bulanan bersama para kepala bagian lainnya. Sibuk. Ya, itu lah keseharianku. Tapi setidaknya aku menikmati kesibukan itu sehingga bayang-bayang Myungsoo bisa menghilang dari kepalaku. Walau pun kadang kala manager INFINITE, Hwang Joonha, datang ke kantor untuk mengontrol proyek renovasi dorm INFINITE.

Jam empat sore, kumasukkan Galaxy Note secara paksa ke dalam tote bag kemudian melangkah ke luar gedung kantor sebelum aku ketinggalan makan malam bersama salah seorang sepupuku, Francis, di sebuah restoran Korea di Apgujeong-dong.

Selama berjalan kaki dari kantor sampai ke restoran Korea itu, lampu-lampu berwarna-warni tak henti-hentinya membuatku terpesona. Di sepanjang sungai Han di malam hari seperti ini, orang-orang sibuk bercengkrama satu sama lain. Bahkan ada mini concert di sebuah sudut taman di sungai Han yang memeriahkan malam itu. Well, yeah, it’s so romantic…

Tiba-tiba ponselku meneriakkan lagu Kim Sunggyu – 60Sec.

“Yeoboseyo?”

Dari seberang sana terdengar suara yang berat, suara laki-laki, “Halo, Yunji! Kau ada di mana? Aku sudah sampai di restoran,”

“Wah, Francis! Tunggu sebentar, aku sedang di jalan menuju restoran itu. Mungkin lima menit lagi aku sampai di sana.”

Francis berkata, “Oh, baiklah, tidak masalah. Aku bisa menunggu. Omong-omong, aku membawa seorang temanku. Tidak apa-apa kan kalau temanku bergabung dengan kita?”

Teman? Apakah teman itu berarti kekasih…? Francis punya kekasih?

Well, ajak saja temanmu itu, Fran,”

“Oke, Yunji. Kutunggu kau di restoran. Sampai jumpa nanti,” kemudian Francis memutuskan sambungan telpon sebelum aku sempat menjawab apa-apa. Kemudian aku menjejalkan ponsel itu ke saku celana jinsku.

-..-

Aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan untuk melihat keberadaan Francis dan temannya.

Di salah satu sudut ruangan, Francis melambaikan tangannya padaku. Aku pun menghampirinya.

“Hai, Francis! Lama tak berjumpa sejak aku pergi ke Kanada. Apakah kau…” aku terpaku melihat siapa yang Francis bawa ke acara makan malam kami, ah tidak. Siapa yang Francis bawa untuk merusak makan malam kami. Sial! Kalau begini aku larang saja si Francis membawa temannya! “Francis, dia temanmu?”

Francis mengangguk, “Ah iya, kenalkan, ini Kim Myungsoo, teman satu klub fotografi yang waktu itu kuceritakan kepadamu. Kau pasti mengenalnya kan? Myungsoo bilang ia adalah salah satu artis di sini.”

Myungsoo nyengir saat Francis memperkenalkan dirinya padaku.

“Francis, aku benci Myungsoo.”

“Hah…?”

-..-

Next : YOU AND I Part 4 [Can You Give Me A Chance?]