you-and-i-by-alicia-diana-teresa-cheerful1

YOU AND I Part 4 [Can You Give Me A Chance?]

Author : Alicia Diana Teresa
Main Cast : Bang Yunji, Kim Myungsoo (L)
Genre : Fan fiction, romance, AU
Rate : PG15
Note : Bersyukurlah bahwa part ini bisa keluar dengan cepat!!! Terima kasih kepada variety show INFINITE’s Ranking King! Wohoo!!! Myungsoo bener-bener cakep di sana~ *_*

“Aku benci pada temanmu ini, Kim Myungsoo.” masa bodoh dengan kesopanan, aku pun mengacungkan jari pada Myungsoo yang masih bisa nyengir. “Maaf, makan malam bersamanya kita undur saja lain kali, Francis.” setelah berkata demikian, aku menarik diri lalu keluar dari restoran itu. Keluar dari pusara bayangan Kim Myungsoo.

Aku tahu sesampainya di apartemen aku harus menghubungi Francis dan menjelaskan apa yang telah terjadi. Sepupuku itu tampak kebingungan sekali saat melihatku keluar dari restoran kemudian pergi meninggalkan dirinya bersama temannya yang hanya bisa nyengir.

Berulang kali kuusap wajahku seperti orang stres dan menghela napas panjang. Masa bodoh dengan orang-orang yang sedari tadi memperhatikan tingkah lakuku.

Kenapa sih, lagi-lagi aku harus berhubungan dengan Myungsoo padahal aku sudah mati-matian menghindar dari segala hal yang berhubungan dengannya?

Kutendang sebuah kaleng cola kosong secara sembarang hingga membentur tiang listrik. Ahh, hidup ini memang susah di mengerti… Termasuk hidupku ini. Benar-benar susah. Dan karena Kim Myungsoo, semuanya menjadi lebih susah lagi.

-..-

Suatu siang setelah menghubungi Francis dan menjelaskan semuanya (tentang perilaku Myungsoo tentunya, tapi aku tidak menceritakan bagian Myungsoo yang menciumku), aku di ajak oleh Yixing, Steve, dan Yoo Hyewon ke sebuah warung ramen yang letaknya tersembunyi di belakang gedung super besar Lotte Departement Store.

Kata Yixing (well, Yixing ini bukan Zhang Yixing EXO-M), warung ramen ini selalu ramai oleh pengunjung dari pagi hingga jam tutupnya. Hyewon sangat menganjurkanku untuk makan di warung ramen ini selagi ada promo karena mereka bertiga tahu aku sangat menyukai hal-hal bagus yang di diskon.

“…selanjutnya. Apakah salah satu anggota INFINITE, yaitu L, sudah memiliki kekasih?”

Suara pembawa acara infotainmen di televisi membuatku tersedak kuah ramen. Cepat-cepat kuambil es teh-ku kemudian meminumnya.

“…Foto-foto pria yang tampak seperti L beredar di jejaring sosial. Di foto tersebut terlihat visual INFINITE itu sedang mencium seorang wanita. Para Inspirit pun bertanya-tanya mengenai identitas wanita tersebut, bahkan mereka mendatangi kantor Woollim Entertainment dan melakukan aksi protes secara damai di sana…”

Hyewon mengentakkan botol bir-nya keras-keras di atas meja sambil berceloteh, “Ah, gila. Bahkan sekarang seorang public figure bisa dengan bebasnya mencium kekasihnya di tempat umum. Apakah ia tidak memiliki rasa malu terhadap orang lain yang melihat mereka? Ah, aku prihatin dengan artis-artis zaman sekarang.” aku tahu ia agak mabuk, tapi tetap saja celotehannya itu agak menusuk hatiku. Sebab wanita di berita itu kan aku…

“Artis-artis zaman sekarang seharusnya memberi teladan pada anak-anak, bukannya berciuman di tempat umum! Dasar!” dari sudut ruangan yang lain aku mendengar seorang bibi melontarkan protesnya. “Anak muda di zaman ini memang berbeda. Sekali-sekali harus di beri pelajaran!”

Aku menghela napas panjang. Rasanya kuah ramen ini tidak lagi memiliki rasa di lidahku. Protes-protes dari Hyewon dan bibi itu membuatku kehilangan selera makan untuk siang ini. Ah, yang benar saja.

Yixing mengubah posisi duduknya, “Kalau di lihat dari foto itu, sepertinya si L itu menarik si wanita.”

Hyewon memukul bagian belakang kepala Yixing, “Ya! Sejak kapan pria jadi tertarik pada infotainmen begini? Sudah, cepat habiskan ramenmu itu!”

Yixing mengaduh kesakitan sambil mengusap-usap bagian kepalanya yang di pukul oleh Hyewon, “Aigoo, aigoo… Dasar tukang pukul,” gumamnya. Sementara aku dan Steve hanya tersenyum geli melihat kedua orang tersebut bertengkar seperti anak kecil.

“Berita yang tidak terlalu penting seperti itu sebaiknya di abaikan saja. Nanti juga pelan-pelan akan hilang sendiri.” ujar Steve sebelum menghirup habis teh hangatnya. Kali ini aku hanya diam dan mencoba menyembunyikan suatu perasaan aneh dalam dadaku.

-..-

Yang benar saja… Bisakah ponsel itu berhenti berbunyi? Walau pun yang ponsel itu keluarkan adalah suara Sunggyu, tapi ini kan hari Minggu! Aku berhak menikmati waktu tidurku lebih lama. Argh, dasar ponsel pengganggu!

“Yeoboseyo…?”

“Yeoboseyo? Yunji-ya?”

Setelah membuat foto-foto tidak senonoh itu tersebar, ia masih memiliki keberanian untuk menghubungiku? Dasar pria tidak tahu malu! Buru-buru kuputuskan sambungan itu. Aku kan sudah bilang kalau aku tidak mau berhubungan lagi dengan Myungsoo.

Lagu Sunggyu terdengar lagi. Ketika kulihat layar ponselku, namanya terpampang jelas di sana. Argh, pria ini! Kubiarkan saja 60Sec. terdengar di kamarku. Sementara itu aku akan pergi mandi kemudian membuat pancake sebagai menu brunch-ku.

Ah gila!

Bahkan setelah aku selesai mandi pun pria itu masih niat menghubungiku! Kepala Myungsoo terbuat dari apa sih? Keras kepala sekali. Untung lah aku tinggal sendiri, kalau tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada ponselku yang terus berbunyi ini.

Setelah melakukan miss call sebanyak dua belas kali, akhirnya aku terpaksa mengangkat telpon dari Myungsoo. Aku kan tidak mau terus-menerus membiarkan ponsel ini berbunyi lalu para tetangga memarahiku. Rugi di aku kan? Lagi pula… Aku bisa saja membuat biaya ponsel Myungsoo membengkak. Ah, atau dia pakai sistem pra-bayar? Kalau begitu ayo, buat biaya ponsel Myungsoo habis!

“Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo? Bang Yunji-ya? Ini… ini aku, Kim Myungsoo. Aku ingin minta maaf atas kelakuanku dua minggu yang lalu,” suaranya terdengar di telingaku.

Aku membuka tirai jendela sehingga sinar matahari masuk ke dalam apartemenku, “Hmm…?” hanya itu reaksi yang kuberikan padanya.

Myungsoo berdesah gelisah, “Apa kau tidak ingat? Itu… Ketika aku menciummu di rumah sakit. Lalu para perawat, dokter, dan pengunjung yang melihat memfotonya. Dan sekarang fotonya tersebar di mana-mana. Kau ingat?”

Kali ini aku berdiam diri dan bersedekap, menunggu kelanjutan dari telpon Myungsoo.

“Aku… Aku benar-benar minta maaf. Itu semua di luar kendaliku. Tapi aku tidak bermaksud membuatmu kesusahan, sungguh. Aku… Aku… Ah, tidak jadi.” suara Myungsoo terhenti. Ia menarik napas panjang lalu menghempaskannya. “Agensiku akan mengadakan konferensi press mengenai kejadian itu besok siang di hotel dekat gedung agensi. Di sana aku akan memberikan penjelasan bahwa sebenarnya foto itu bukan apa-apa.”

Hening lama. Aku tidak memberikan reaksi apa pun… Tapi kenapa rasanya ada yang tidak enak ya?

“Aduh, kenapa sih, aku jadi menelponmu seperti ini? Apakah ini masuk ke kotak suara? Kuharap kau mendengarnya. Eeh, kalau tidak mendengarnya tidak apa-apa juga sih. Ini memalukan. Ah, yang benar saja… Aku bahkan tidak percaya bahwa aku telah mengatakan itu semua padamu. Aku ini kenapa sih?” lalu sambungan itu di putus sendiri olehnya.

Dasar visual bodoh.

Ah, pada akhirnya aku pun tidak jadi membuat biaya ponselnya habis. Sebenarnya aku ini yang kenapa. Kenapa? Kenapa? Dan kenapa?

-..-

Siyoung Eonni menepuk punggungku kencang-kencang. “Hei, anak muda! Jangan lemas begitu! Ini baru jam tiga sore!”

Aku melihat Siyoung Eonni dari antara tumpukan buku yang terletak di atas kepalaku. Setelah wanita berpipi merah itu menaikkan sebelah alisnya, aku kembali pada posisiku semula : berpura-pura tidur di atas tanganku di atas meja.

“Aigoo, aigoo… Aku tidak tahu ternyata kau punya masalah cinta juga, Yunji-ya,” ujar Siyoung Eonni. “Pasti dengan Myungsoo ya? Sudah lah, katakan saja padanya kalau kau suka dengan dirinya dari pada kau terus-terusan lemas seperti ini. Aku tidak suka melihatnya,”

Aku menghela napas panjang. “Bukan itu, Eonni.” aku menghela napas lagi. “Semalam Myungsoo menelponku tapi aku diam saja. Sebenarnya aku ingin membuat biaya ponselnya habis, tapi…” kemudian aku menceritakan kejadian kemarin pada Siyoung Eonni secara lengkap. “Aku yang ingin bertanya kenapa. Bukan dia,”

Wanita berusia tiga puluh empat tahun itu melempar dirinya ke atas permukaan sebuah sofa di salah satu sisi ruangan. “Kenapa kau jadi seperti ini? Karena kau menyukainya. Itu jelas, wahai bocah yang masih hijau dalam urusan percintaan,” Siyoung Eonni terkikik geli.

“Menyukainya? Apanya yang menyukainya, Eonni? Sudah kukatakan padamu bahwa aku tidak suka pada Myungsoo. Segala tindak-tanduknya yang sering merendahkanku itu membuatku kesal. Apalagi setelah ia menciumku di rumah sakit. Aku benar-benar benci padanya!”

“Benarkah?” Wanita di hadapanku itu menyeringai. Entah kenapa membuatku menjadi tidak yakin pada perkataanku tadi. Ah, apa sih? “Kalau begitu coba kau beritahu padaku apa yang kau rasakan saat melihat ini,” Siyoung Eonni menyalakan televisinya dan seketika itu juga sosok Myungsoo muncul.

Konferensi press itu!

Myungsoo membenarkan posisi duduknya di balik meja panjang sementara di sisi kiri dan kanannya masing-masing ada Sunggyu Oppa serta Hwang Joonha.

Para wartawan begitu bersemangat mengambil gambar Myungsoo hingga ruangan itu di penuhi oleh kilatan cahaya blitz.

Kamera pun di arahkan pada seorang wartawan yang hendak mengajukan pertanyaannya, “Myungsoo-ssi, tolong jelaskan mengenai skandal yang menimpa Anda. Apa hubungan Anda dengan wanita yang ada di foto tersebut?” Setelah wartawan itu berkata demikian, ruangan pun di penuhi oleh hiruk pikuk.

Myungsoo berdeham beberapa kali sehingga pada akhirnya hanya suara jepretan kamera yang terdengar, “Wanita itu bukan siapa-siapa saya.”

Saat mendengar kalimat itu meluncur dari bibir Myungsoo, aku merasa… Salah. Tidak, tidak, aku merasa hatiku di timpa batu besar.

“Mengenai skandal ini… itu adalah ketidak sengajaan yang terjadi pada saya sedang sakit. Saya hampir jatuh sehingga tangan saya berpegangan erat padanya dan ciuman itu pun terjadi.” Myungsoo mengambil napas. “Saya tidak bermaksud menimbulkan keributan seperti ini,”

Wartawan lain bertanya, “Myungsoo-ssi, apakah wanita itu sebenarnya adalah kekasih Anda?”

“Bukan, wanita itu bukan kekasih saya. Sudah saya katakan bahwa ia bukan siapa-siapa saya.” Untuk kedua kalinya sebuah batu besar menimpa hatiku. Aku merasa seperti kehilangan oksigen untuk bernapas.

Kali ini kamera di arahkan pada seorang wartawan wanita berambut pendek, “Myungsoo-ssi, siapa wanita itu?”

Saat pertanyan itu di lontarkan, Myungsoo menatap lama pada Sunggyu Oppa. Lalu ganti menatap managernya. Kemudian pria itu berkata, “Dia… Dia adalah wanita yang membuat tulang rusuk saya terluka,”

Spontan ruangan itu di penuhi oleh cahaya blitz lagi. Seorang wartawan lain pun mengajukan pertanyaannya, “Apakah tindakan yang Anda lakukan merupakan balas dendam terhadap apa yang telah wanita itu lakukan pada Anda?”

Myungsoo menggeleng, “Saya… Sekali pun tidak pernah berpikir untuk balas dendam pada siapa pun,”

Oh tidak… Jangan katakan bahwa…

Tiba-tiba layar televisi menggelap sebelum aku mengetahui kelanjutan dari kalimat Myungsoo. Aku menoleh pada Siyoung Eonni.

“Bagaimana?” tanyanya.

Aku menelan ludah sekali.

“Pergilah ke tempat koferensi pers itu kalau kau tidak ingin semuanya jadi hancur. Jangan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, Yunji-ya!”

Dua kali.

“Kau tahu yang terbaik. Cepat pergi!”

Tanpa mempedulikan apa pun, aku lari secepat mungkin ke hotel yang berada di dekat gedung Woollim Entertainment. Ini suatu keuntungan tersendiri bagiku karena letak kantor Siyoung Eonni ternyata dekat dengan letak gedung Woollim Entertainment. Tapi hotel apa namanya? Ya ampun, aku bahkan tidak tahu sama sekali apa nama hotel itu!

Lima menit aku berlarian di sekitar gedung Woollim Entertainment untuk mencari hotel yang ramai oleh wartawan.

Ah, syukurlah aku menemukannya.

Hotel itu di padati oleh para wartawan bahkan hingga mobil-mobil pengunjung terpaksa mengantre panjang di luar.

Aku masuk ke dalam hotel itu dengan tergesa-gesa sambil menghiraukan tatapan heran dari orang-orang yang berada di lobi hotel.

“Permisi, saya ingin bertanya. Di ruangan mana konferensi pers INFINITE L di adakan?” tanyaku pada seorang wartawan yang sedang berjalan keluar bersama beberapa wartawan lain.

Wartawan itu menjawab sambil terheran-heran, “D, di Hall Paris di lantai dua,”

“Terima kasih, Ajusshi!” aku pun berlari menuju lantai dua, Hall Paris. Sementara di belakangku aku mendengar wartawan itu berteriak. Meneriakkan bahwa aku adalah wanita di foto itu. Sial!

Aku menemukan Hall Paris tepat sebelum para wartawan lainnya bisa menangkapku.

BRAKKK!!!

Semua mata memandang padaku ketika aku membuka pintu itu lebar-lebar. Tapi aku tidak menghiraukannya. Mataku langsung terpaku pada Myungsoo yang terkejut melihat kedatanganku.

Myungsoo berdiri dari tempat duduknya kemudian membuka mulut seperti ingin berbicara sesuatu.

“Wanita itu adalah wanita yang ada di foto!!!” seseorang berteriak begitu nyaring sebelum Myungsoo atau aku sempat berbicara apa pun. Teriakan itu membuat banyak wartawan menyerbuku dan mereka bertanya-tanya padaku.

“Siapa nama Anda?”

“Apa hubungan Anda dengan Kim Myungsoo sebenarnya?”

“Apakah Anda kekasih Kim Myungsoo?”

“Apa pekerjaan Anda? Dari mana Anda mengenal Kim Myungsoo?”

Seharusnya aku tidak datang ke sini. Aku benar-benar ketakutan di serbu oleh para wartawan seperti ini, seolah aku adalah mangsa yang empuk. Saking ketakutannya, aku menutup kedua telingaku dengan kedua tanganku kemudian meringkuk di antara para wartawan itu. Ah, benar-benar…

“MINGGIRRR!!! Yunji-ya! Yunji-ya!” dari tengah-tengah keributan yang di buat oleh para wartawan, aku mendengar sebuah suara. Begitu jelas. Suara itu sangat jelas di telingaku. “…ji-ya! Yunji-ya! Yunji-ya!” suara itu terus menerus memanggil namaku.

Sebuah tangan yang besar dan hangat tiba-tiba menarikku ke dalam sebuah pelukan. “Apa kau baik-baik saja?” suara ini… Suara ini yang kurindukan. Ya, aku baru menyadari bahwa aku merindukan suaranya.

“Kau bisa mendengarku, Yunji-ya?” tangan ini… Tangan besar dan hangat ini. Ya, aku baru menyadari bahwa aku juga merindukan tangannya.

Bahkan aku merindukannya.

“Jangan…” kutatap kedua mata Myungsoo dengan segenap keberanianku. “Jangan pernah katakan bahwa aku bukan siapa-siapamu…”

Myungsoo menatapku dengan tatapan tidak mengerti.

“Aku mendengar telepon darimu, bodoh! Aku mengangkatnya tapi aku hanya diam! Telepon darimu itu yang kemarin malam!”

Teringat akan telepon yang kumaksud, Myungsoo berujar, “Aah, telepon itu… Ya ampun, apa yang telah kukatakan di sana?” Nadanya terdengar putus asa.

“Kau telah mengatakan banyak hal yang tidak ingin kudengar di sana! Apa-apaan semua ucapanmu itu? Jangan pernah katakan bahwa aku bukan siapa-siapamu. Lalu apa yang tidak jadi kau ucapkan di telepon itu?”

Spontan wajah Myungsoo memerah seperti buah tomat. Ya ampun. “Itu… Itu…” Tiba-tiba ia berbisik padaku, “Dalam hitungan ketiga, ayo, kita lari dari sini!”

Eh, apa maksudnya?

“Satu, dua, tiga!”

Sebelum aku mengerti apa yang terjadi, Myungsoo menarik tanganku kemudian berlari ke luar Hall Paris, ke luar hotel, bahkan berlari sepanjang jalan menuju Taman Pyeonghwa, meninggalkan Sunggyu Oppa dan Hwang Joonha serta para wartawan yang terkejut melihat aksiku dan Myungsoo.

Aku membuat Myungsoo kabur dari konferensi pers-nya! Ini benar-benar hari paling gila dalam hidupku!

-..-

Di salah satu sisi Taman Pyeonghwa yang di penuhi oleh keluarga-keluarga dan para pasangan kekasih, Myungsoo dan aku berhenti berlari. Kami mengambil napas sebanyak yang kami butuhkan sampai napas kami tak lagi memburu.

“Kau mengajak kabur seorang artis, Yunji-ya. Kau gila, hahaha…” Myungsoo tertawa terbahak-bahak sambil merebahkan dirinya di atas rumput yang hijau.

“Kau yang gila! Kau membuatku jadi seperti ini!” aku ikut-ikutan merebahkan diri di atas rumput kemudian memandang langit yang biru.

Tawa Myungsoo mengecil sampai akhirnya tidak terdengar lagi. “Aku membuatmu jadi apa? Bukan kah kau yang membuatku terpaksa berbohong seperti tadi? Kalau aku mengatakan hal yang sejujurnya pada media massa, maka habislah karierku. Aku akan di pecat dari Woollim Entertainment dan punya skandal,”

“…berbohong?” otakku sepertinya benar-benar lambat.

Myungsoo mengubah posisinya sehingga ia dapat menatap kedua mataku lurus-lurus, “Apa yang kukatakan di konferensi press tadi adalah kebohongan, Yunji-ya.” ia mengetuk dahiku. “Aku… Aku tidak mengganggapmu seperti itu.”

Aku berhenti menikmati gelombang angin yang semilir, “Maksudnya?”

“Maksudnya… Aku menyukaimu.” Myungsoo menggenggam kedua tanganku erat-erat. “Sejak melihatmu membersihkan dorm INFINITE dengan susah payah, aku telah jatuh cinta kepadamu. Aku jatuh cinta dengan semua yang ada di dalam dirimu,”

Kok… Kedengarannya aneh sekali ketika mendengar bahwa Myungsoo menyukaiku sejak saat itu. Well, terdengar… Tidak elit.

Myungsoo menangkup wajahku dalam kedua tangannya yang besar, “Tolong jangan berpikir yang macam-macam. Aku tahu itu terdengar aneh. Tapi begitu lah… Lama kelamaan aku benar-benar gila saat bersamamu. Saat aku tidak bersamamu, aku bahkan menjadi lebih gila lagi.

Aku takut kau mengetahui bahwa aku menyukaimu karena aku tahu kau tidak suka padaku. Makanya aku berpura-pura menjadi galak padamu. Memaksamu melakukan ini. Memaksamu melakukan itu. Tapi sungguh, aku tidak bermaksud apa pun ketika kau kelaparan di siang itu. Aku benar-benar lupa kalau jam makan siang sudah lewat, malah jam makan malam hampir tiba.”

“Dasar visual resek! Dasar pria kejam! Kau tahu aku lapar sekali saat itu! Kenapa malah berpura-pura galak?” aku memukul-mukul dadanya.

“Aw, tunggu! Tunggu!”

Aku tidak memberinya kesempatan untuk berbicara lagi. “Jangan terus-terusan berpura-pura galak atau aku akan semakin menyukaimu,”

Kedua mata Myungsoo membulat, “Eh?” ia buru-buru terbangun. Kini kami duduk di atas hamparan rumput hijau di siang hari yang panas. Ini bukan adegan menyatakan cinta yang kuinginkan, uhh.

“Yunji-ya, kau menyukaiku?”

Aku bangkit berdiri membiarkan Myungsoo dengan ekspresi wajahnya yang terkejut, “Pikir saja sendiri,” kujulurkan lidahku padanya kemudian lari meninggalkan pria seratus delapan puluh sentimeter itu. Biar penasaran dia, hahaha…

-..-

Next : (FINAL) YOU AND I Part 5 [Two of Us]

PLEASEEEE LIKE THIS OR LEAVE A COMMENT😉 thanKYU