you-and-i-by-alicia-diana-teresa-soft1

YOU AND I Part 5 [Two of Us]

Author : Alicia Diana Teresa
Main Cast : Bang Yunji, Kim Myungsoo (L)
Genre : Fan fiction, romance, AU
Rate : PG15

Myungsoo berlari mengejarku. Tapi… secepat apa pun dia lari, dia tidak akan pernah bisa mengalahkanku.
Benarkah itu?

-..-

“Jangan lari!!! Katakan padaku yang sebenarnya, Yunji-ya!!!” suara Myungsoo yang begitu keras membuatku berjengit. Pria ini benar-benar gila. Di tengah keramaian seperti ini dia malah berteriak sekeras itu. Ya ampun, apa yang membuatku jatuh cinta pada pria gila seperti Myungsoo?

Kedua tangannya yang panjang menjangkau tubuhku dan mengurungku secara kuat, “Katakan yang sebenarnya mengenai perasaanmu atau bibirmu ini akan jadi korbannya,” lagi-lagi suara itu. Suaranya membuatku bergidik.

Aku meronta-ronta, “Lepaskan tanganmu baru aku akan mengatakannya. Oke?”

“Tidak,” Myungsoo menggigit sebelah telingaku. Aaaaahhh, dasar pervert!!! Aku terus meronta tapi tangannya semakin kuat mencengkramku. Tolong jangan lakukan lebih dari ini… aku bisa mati saking cepatnya jantungku berdetak. “Aku tidak akan melepaskanmu,” salah satu tangan Myungsoo membuat tubuhku berbalik menghadapnya.

Pelan namun pasti ia mendekat padaku hingga jarak sekian sentimeter hanya memisahkan kami. “Tidak… ini tempat umum. Jangan sekarang,” bisikku yang telah terhipnotis oleh hangatnya napas Myungsoo.

“Aku mau sekarang.”

Aku mau sekarang…

…sekarang…

…..sekarang……

“TIDAKKKK!!! Myungsoo, kau pervert!!!” kulempar sebuah bantal entah kemana dan seketika itu juga kedua mataku terbuka, mengerjap, tepatnya. Kontras yang terjadi akibat masuknya sinar matahari ke kamarku membuatku harus menyesuaikan mata untuk beberapa waktu.

Ah, ternyata yang tadi itu hanya mimpi… untung lah Myungsoo tidak benar-benar melakukan hal yang… ya ampun, bahkan memikirkannya saja sudah membuat wajahku panas. Aku tidak mengerti, sebenarnya ada apa denganku? Bisa-bisanya memimpikan hal seperti itu. Err, mungkin bukan Myungsoo yang pervert tapi aku.

Mengenai Myungsoo dan aku… pikiranku jadi melayang pada kejadian dua hari yang lalu itu, ketika kami berdua pergi dari konferensi pers-nya Myungsoo.

-..-

“Yunji-ya, kau menyukaiku?”

Aku bangkit berdiri membiarkan Myungsoo dengan ekspresi wajahnya yang terkejut, “Pikir saja sendiri,” kujulurkan lidahku padanya kemudian lari meninggalkan pria seratus delapan puluh sentimeter itu.

“Eeehh!!! Jangan lari kau, Nona Pengantar Jas!!!” teriak Myungsoo dari kejauhan sambil melambaikan tangannya, mencoba untuk meraihku. Tapi aku lebih cepat, tentu saja.

Kujulurkan lidah pada Myungsoo, “Sudah kubilang! Pikir saja sendiri jawabannya. Bwee!” lalu aku berlari lagi melewati keluarga-keluarga kecil yang asyik bermain di sepanjang pinggir Sungai Han siang itu hingga tanpa sadar aku berada di antara pohon-pohon besar yang rindang.

Sambil berlari, aku memikirkan Myungsoo. Apakah dia masih mengejarku? Kutengokkan kepala ke belakang dan… eeehh!!!

“Aduh, duh… aduh, sakitnya. Aah, kenapa sih tiba-tiba bisa ada akar pohon begini? Aku benar-benar sial. Aduh, sakit sekali…” rintihku yang mengasihani kakiku yang lecet di sana-sini serta berdarah di lututnya. Yah, kalau begini aku mana bisa kembali ke tempat Myungsoo. Ini sungguh merepotkan. Apa aku harus menunggu Myungsoo? Tapi area pohon-pohon ini sepertinya jarang di lewati oleh orang-orang. Apa yang harus kulakukan? Oh tidak…

Tiga puluh menit aku menunggu. Myungsoo tidak tampak di mana pun. Pria itu sebenarnya mengejarku kemana sih? Rasa sebalku padanya mulai timbul lagi.

Kuraih ponselku yang berada di saku jins-ku, baterainya tinggal empat persen -_- Myungsoooooo~ cepat lah ke sini!

-..-

Akhirnya ponselku mati saat matahari mulai menghilang di ufuk barat. Sementara Myungsoo masih belum menemuiku juga dan luka ini mulai terasa sakit… sepertinya mulai terinfeksi. Oh Tuhan, aku merasa tanpa harapan di sini.

Kemudian pikiran-pikiran negatif mulai muncul di dalam kepalaku. Jangan-jangan Myungsoo menganggapku pulang? Atau tercebur ke sungai? Atau pergi bersama pria lain? Atau jangan-jangan Myungsoo menyerah kemudian pergi bersama wanita lain? Atau yang ketiga, mungkin ia malah menganggapku masih berlari mengelilingi taman ini? Ah tidak, tidak. Tidak mungkin pilihan yang ketiga sebab Myungsoo tidak sebodoh itu.

Kalau begitu kenapa pria itu lama sekali?

Kugaruk-garukkan kepalaku yang tidak gatal. Aku hanya bisa berharap Myungsoo cepat menemukanku karena yah… kau tahu kan bagaimana rasanya berada di antara pohon-pohon besar ini saat malam hari?

-..-

Siap payung sebelum hujan. Itulah pepatah orang dulu agar kita selalu mempersiapkan segala hal sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, seperti contohnya hujan ini.

Benar, sekarang aku kehujanan. Walaupun sekarang adalah musim panas tapi kehendak langit bisa berubah-ubah kan? Kombinasi hujan lebat dan angin kencang sangat mantab -_,- dapat kubayangkan besok aku akan terbaring di atas tempat tidur dengan selimut tebal berlapis-lapis.

Aku tidak tahu sudah berapa jam sejak aku jatuh di area ini. Mungkin sudah tiga sampai empat jam. Tapi Myungsoo tak kunjung menemukanku juga. Aku menggosok-gosokkan kedua tanganku di kedua sisi lenganku. Ahh, dingin sekali. Dasar Myungsoo tega. Lihat saja besok akan kubuat ia terkapar juga.

Ini benar-benar gila.

Dapat kurasakan perlahan-lahan kedua mataku memberat seolah-olah minta di tutup agar aku bisa tidur. Ya, rasa kantuk menyerangku begitu dahsyat. Tapi aku pernah nonton acara televisi yang mengatakan bahwa manusia tidak boleh tidur ketika berada di tempat yang bertemperatur dingin atau manusia itu akan segera meninggal.

Untuk kesekian kalinya aku bertanya, apa yang harus kulakukan?

“…ji-ya!!!”

Tiba-tiba telingaku mendengar sesuatu.

“….nji-ya!!!”

Telingaku mendengar suara Myungsoo memanggil-manggil namaku. Apa ini hanya khayalanku? Apa otakku sedang berusaha menipuku dengan memperdengarkan suara Myungsoo?

“Yunji-ya!!!”

Sinar terang dari beberapa senter sibuk berlalu-lalang di bawah naungan beberapa payung.

Aku mencoba berdiri sambil berpegangan pada batang-batang pohon lalu berjalan perlahan keluar dari antara pohon-pohon ini. “Myungsoo!!! Kim Myungsoo!!! Aku di sini!!!” pakaianku yang basah ini membuat langkahku menjadi lebih berat. Kalau tidak mau tersandung lagi atau terpeleset, aku harus lebih memperhatikan tanah yang kupijak.

Sosok Myungsoo mendekat ke dalam area pohon-pohon besar tempatku berada. Ia menyorotkan senternya langsung kepadaku. “Hei! Turunkan sentermu! Kau ini mau membuatku buta ya?” teriakku.

“Diam kau! Sudah terluka begitu masih saja protes! Diam dan naik ke punggungku! Kau ini kerjaannya membuatku panik saja.” balasnya lebih ganas. Myungsoo marah…?

Err, dari pada membuatnya lebih menyeramkan lagi, aku naik ke punggungnya dan menyerahkan seluruh berat tubuhku padanya karena aku merasa lemas sekali. Dari belakang aku terus menatap wajah Myungsoo yang kesal sampai pandanganku menjadi gelap.

-..-

Aku merentangkan kedua tanganku ke depan kemudian merilekskan segala ototku yang kaku setelah tidur.

Sementara itu ponselku membunyikan lagu The Chaser yang di nyanyikan oleh INFINITE. Buru-buru aku meraih ponsel itu dan menekan tombol gagang telepon berwarna hijau. “Yeoboseyo? Yeoboseyo?”

Pria itu tertawa renyah di seberang sana, “Selamat pagi, Yunji-ya.” setelah itu tawa renyahnya berubah menjadi tawa terbahak-bahak.

“Jangan tertawa! Dasar orang aneh, kan tidak ada yang lucu,” gerutuku sambil membereskan tirai jendela dan mengenakan sandal rumah.

“Ada kok yang lucu.” lalu tawanya perlahan-lahan berhenti.

“Jadi… kau sudah tidak marah lagi, Myungsoo-ya?” tanyaku.

Suara dari tempat Myungsoo jadi berisik, sepertinya para anggota INFINITE sedang ribut di sana. “Marah? Marah apanya?”

Kuambil sekotak susu cokelat setelah membuka pintu kulkas, “Itu… yang di Taman Pyeonghwa. Kupikir kau marah padaku,”

“Aku tidak marah. Aku hanya terlalu cemas.” ujar Myungsoo.

Aku menggigit bibir bawahku, “Maafkan aku…”

“Sudah lah, tidak apa-apa. Kejadian itu kan sudah berlalu.” ia menghela napas kemudian berteriak pada para anggota INFINITE untuk berhenti ribut. “Omong-omong apa hari ini kau ada waktu, Yunji-ya?”

“Ada sih… tapi malam. Soalnya aku harus mengunjungi tiga tempat proyek dan dorm kalian untuk rencana penggantian furniture. Eeh, tunggu. Memangnya hari ini kamu tidak ada schedule apa pun?”

Myungsoo terkekeh di seberang sana, “Mulai hari ini sampai bulan depan, aku kosong.” kedua bola mataku membulat. Jangan-jangan… “Aku di skors selama sebulan karena kabur itu,” lalu ia terkekeh lagi.

“Apa kau baik-baik saja?”

“Memangnya aku kenapa?” Myungsoo balas bertanya.

Aku membuang kotak susu yang sudah kosong itu ke tempat sampah, “Yah, di skors seperti itu… apa orang tua-mu tidak marah padamu?”

“Tidak ada telepon dari mereka kok. Jangan khawatir,” aku menghela napas lega. “Kalau begitu nanti aku jemput di tempat proyekmu ya? Kau buat saja kunjungan ke dorm INFINITE menjadi kunjungan yang terakhir. Oke?”

“Kau mau apa?”

Lagi-lagi Myungsoo terkekeh jahil. “Mumpung malam ini dorm-nya kosong, aku akan…”

“TIDAKKK!!!” spontan kututup sambungan itu. Myungsoo benar-benar pervert! Aaahh, aku gilaaaa!!!

Suara intro dari lagu The Chaser mengagetkanku. Kulihat layar ponsel sebelum memencet tombol answer : Bang Jinho. Lho?

“Yeoboseyo?”

“Nunaaaa!!! Apa hubunganmu dengan Hyung-ku??!” teriakan Moonsoo, sahabat adikku, memenuhi telingaku.

“Ya, Moonsoo! Jangan berteriak-teriak seperti itu di ponsel! Aku masih memiliki telinga yang normal!” teriakku membalasnya.

Moonsoo terdengar masa bodoh dengan omelanku, “Jawab dulu pertanyaanku, Nuna. Kau ini punya hubungan apa dengan Myungsoo Hyung? Ayah dan Ibu-ku geger setelah melihat berita kalian di televisi! Ah, Yunho Hyung juga!”

Aku berdecak, “Dasar anak tidak sopan! Sama saja seperti Hyung-mu itu. Jangan panggil aku dengan sebutan ‘kau’!”

“Ya, Nuna! Jawab dulu pertanyaanku!”

“Tanya saja pada Hyung-mu itu sana!”

“Aku sudah menelponnya kemarin. Tapi Hyung tidak menjawab apa-apa, itu lah sebabnya aku bertanya padamu, Nuna.” ujar Moonsoo dengan nada memelas.

Baru saja aku membuka mulut, tiba-tiba sambungan telepon itu di tutup. Aneh -_-

Nyatanya, Moonsoo mengubah versi dari voice call menjadi video call pada ponsel Jinho. Dalam video itu tampak Moonsoo dan Jinho yang duduk di belakang meja belajar Jinho sehingga pintu kamarku bisa terlihat juga.

Jinho terlihat gembira saat melihat wajahku di layar ponselnya, “Hai, Nuna~ apa kabar? Ayah dan Ibu ingin kau pulang, mereka rindu sekali padamu!”

“Jinho-yaaaa~ aku juga rindu pada Ayah dan Ibu. Tapi aku tidak tahu kapan bisa pulang,” ujarku sambil menunjukkan ekspresi mengeluh.

Moonsoo memotong pembicaraanku dengan Jinho, ia menjauhkan Jinho dari layar ponsel. “Nuna, beritahu aku… apakah kau dan Myungsoo Hyung adalah sepasang kekasih?”

Spontan otot-otot di wajahku tertarik sehingga aku senyum-senyum sendiri dan tidak bisa mengontrol senyuman itu. Ya ampun! “Itu… yah, kau tahu. Begitu lah, Moonsoo-ya,”

“Eeehh??!! Jadi benar? Wah, aku harus memberi tahu Ayah dan Ibu!” secepat kilat Moonsoo meninggalkan ponsel Jinho begitu saja di atas meja. Aku mendengar pintu rumah di buka dan di tutup sementara suara Moonsoo berteriak memanggil Ayah dan Ibunya terdengar juga.

Kini Jinho mengambil alih kembali ponselnya. “Nuna, kau serius? Myungsoo Hyung itu kekasihmu?”

Aku mengangguk mengiyakan, “Iya, hehehe~”

“Selamat ya, Nuna! Cepat lah pulang dan perkenalkan Myungsoo Hyung pada Ayah dan Ibu! Ah, aku akan memanggil Harabeoji dan Halmeoni juga,” Jinho memamerkan cengirannya yang lebar saking senangnya. “Harabeoji pasti senang karena ia akan segera menimang cicitnya,”

Cicit?!

“Ya! Kau gila? Kami ini bahkan baru mulai berhubungan, Jinho-ya!”

Jinho terkekeh, “Tidak apa-apa kan? Toh nanti pada akhirnya aku yakin, kalian akan menikah. Cepat atau lambat.”

Tiba-tiba sepasang tangan yang besar memerangkap tubuhku dalam sebuah pelukan. “Kami akan menikah secepat yang Harabeoji-mu minta,” suara berat itu membuat Jinho terbelalak.

“Hei, jangan bercanda! Pernikahan kan bukan untuk main-main!” sergahku sambil menatap pemilik dari kedua bola mata hitam itu.

Myungsoo mendudukkanku dalam pangkuannya, “Memangnya aku terlihat main-main?” oh Tuhan, deru napasnya di leherku membuat aku tergelitik geli.

“T, tidak sih… tapi kan segala persiapannya memakan waktu yang lama. Lagipula aku…”

“Kamu kenapa?” tanya Myungsoo. Dari seberang sana Jinho masih memperhatikan kami.

Aku menelan ludah sekali kemudian mengatakan hal ini dengan takut-takut, “Aku belum terlalu mengenalmu, Myungsoo-ya.”

Visual INFINITE itu menatapku lama. “Aku juga belum terlalu mengenalmu.”

“Lalu?”

Ia melanjutkan, “Kita kan bisa saling mengenal satu sama lain setelah menikah,” dengan lugunya ia berkata seperti itu -_- pria ini… ya ampun, benar-benar deh.

Tawa Jinho meledak seketika. Bahkan adikku satu-satunya itu sampai berguling di lantai dan memukul lantai beberapa kali. “Myungsoo Hyung, kau lucu sekali. Hahahaha~ baru kali ini aku melihat rencana menikah seperti itu. Ah, kalian ini lucu. Pasangan yang lucu, hahahaha~”

Spontan wajahku memanas. Aku tahu, selain panas wajahku sekarang pasti memerah juga. Sialan kau, Bang Jinho… lihat saja nanti saat aku pulang ke rumah, kau pasti mati.

“Ahh, sudah lah! Sudah! Kututup dulu video call ini. Aku mau pergi ke kantor Siyoung Eonni, ada beberapa potong pakaian yang harus kuantar ke kliennya,” ujarku sambil menjauhkan diri dari Myungsoo. Ah, pria ini… dia muncul dari mana sih? Tiba-tiba bisa ada di belakangku seperti itu. Bukankah ia bilang akan menjemputku nanti malam? Dasar visual aneh.

Jinho tersenyum lebar, “Baiklah, Nuna, akan kusampaikan juga salammu untuk Ayah, Ibu, Harabeoji, dan Halmeoni. Jaga kesehatan ya, Nuna,” kemudian sambungan itu terputus. Yah, setidaknya Jinho masih lebih normal dari pada Moonsoo yang langsung pergi begitu saja.

Kuletakkan ponselku di atas coffee table yang terletak di depan sofa sementara Myungsoo sibuk mengacak-acak kulkasku.

Menikah?

Pikiranku melayang pada pembicaraan tadi. Menikah? Dengan Myungsoo?

Jujur saja aku tidak terpikirkan hal itu mengingat umur hubungan kami yang masih sangat muda. Masih dalam tahap percobaan, mungkin. Aku juga agak khawatir pada setiap pernikahan yang masa pendekatannya begitu singkat. Well, sepertinya aku ini agak kuno ya. Karena kupikir umumnya sepasang kekasih itu membutuhkan kira-kira waktu setahun sampai lima tahun sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.

Aku khawatir pernikahan yang masa pendekatannya singkat tidak akan bertahan lama.

Tapi apakah Myungsoo mau menunggu hingga dua tahun lagi?

Apakah Harabeoji dan Halmeoni masih bisa hidup hingga dua tahun mendatang?

Kepalaku jadi mumet memikirkannya.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Myungsoo yang kedua tangannya lagi-lagi memelukku dari belakang. “Apakah kau memikirkan pembicaraan tentang pernikahan itu?”

Aku mengangguk sambil duduk di pangkuan Myungsoo dan meletakkan kepalaku di dadanya.

Myungsoo berkata, “Sebenarnya… kalau kau belum menginginkannya kita bisa menunda untuk beberapa waktu. Aku akan menunggu hingga kamu siap,”

Kugenggam tangan Myungsoo erat-erat, “Siap apa?”

“Siap menjadi satu-satunya wanita dalam hidupku,” ya ampun, Kim Myungsoo… aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Pria ini… aku benar-benar menyukainya.

-..-

THE END

Akhirnya selesai juga~ TT^TT butuh perjuangan ekstra di part 5 ini karena udah masuk sekolah dan saya nggak bisa nonton MV Destiny dengan lancar (bahkan drama version-nya Wolf juga T^T tapi selesai nontonnya sih. Kalo Destiny nggak). Ini berhubung karena saya pindah ke apartemen, makanya nggak ada wi-fi. Internet dari HP pun mendet-mendet -_- pas pulang ke rumah baru bisa puas-puasan pake wi-fi.

Well, kalo sempat saya pengen ngebuat kisah persahabatan Bang Jinho sama Kim Moonsoo. Tapi nggak tau deh, ada ide apa nggak ;A; /slapped sebab sekolah nguras tenaga. Apalagi saya masuk jurusan IPA terus guru-gurunya banyak yang killer. Untuk selanjutnya pun saya nggak janji bisa sering-sering muncul di blog ini dengan membawa FF-FF lagi. Paling jadinya jarang banget -_,- wong sejak pindah juga saya jadi rada males buka laptop gara-gara watt listriknya kecil -_- parah deh.

Maaf ya😥