BLUTIGEN HÄNDEN 20130728

BLUTIGEN HÄNDEN

Author : Alicia Diana Teresa
Main Cast : Kim Joonmyun (Suho)
Genre : Fan fiction, family, angst, thriller
Rate : PG15
Note : Bisa di bilang ini adalah cerita lain dari FF This Feeling🙂 happy reading!

Musim panas – Tokyo, Jepang

Sebuah mobil sedan hitam mengilat berhenti tepat di depan pintu gerbang Tokyo Disneyland. Suara remnya yang menimbulkan suara berdecit kecil membuat beberapa pejalan kaki di sekitar pintu gerbang menoleh.

Dari dalam mobil itu, keluarlah seorang wanita yang parasnya begitu jelita dengan seorang anak laki-laki berambut kebiru-biruan di sampingnya.

“Suho-ya, ini Tokyo Disneyland. Kamu sudah lama ingin ke sini kan, Sayang?” tanya si wanita cantik itu yang mensejajarkan tingginya dengan tinggi Suho.

Anak laki-laki yang di panggil Suho itu mengangguk penuh semangat, “Iya, Ibu. Aku mau melihat Mickey dan Cinderella! Mereka pasti keren-keren sekali ya, Bu! Aku juga mau makan es krim dan pergi ke Disneysea.” cerocos bocah berusia tujuh tahun itu. “Lalu… nanti Ayah juga akan datang kan, Bu?”

Pertanyaan terakhir yang di lontarkan sang anak spontan membuat wanita bernama Korea Hwang Maerin menggantikan senyumnya dengan sebuah kerutan di dahi. “Ya, Ayah akan datang dan bermain bersama kita nanti malam. Ayah pasti senang kalau melihat Suho bergembira di sini,” Maerin mengacak-acak pelan rambut anak satu-satunya itu.

“Ibu janji kan, Bu? Ayah akan datang kan?” tanya Suho sekali lagi dengan nada memelas melihat ekspresi Ibunya yang sekilas berubah.

“Iya, Sayang… Ayah pasti datang,”

Ayah pasti datang…

Ayah pasti datang…

Tidak, Ayah tidak pernah datang.

-..-

Suho berlari ke arah kios manisan yang berada di salah satu area Disneyland. Ia mengamati seorang pria paruh baya yang tengah membuat setangkai gulali berwarna merah muda. Lama sekali anak laki-laki itu menatap gulali merah muda sampai-sampai Maerin menghampirinya dan bertanya, “Ada apa, Suho? Apa kau ingin mencoba gulali itu?”

“Apa Ibu akan membelikannya untukku?” balas Suho.

Maerin mengangguk penuh kasih, “Tapi harus di habiskan ya, Suho.”

Suho mengangguk senang sambil menerima gulali merah muda yang sekarang menjadi miliknya. Cepat-cepat ia melahap gulali itu dan menikmati rasa manis dan rasa “langsung hilang”nya.

Setelah membelikan setangkai gulali merah muda, Maerin mengajak Suho pergi ke area Disneysea di mana para pengunjung dapat melihat berbagai hewan-hewan yang hidup di laut serta menjumpai para tokoh kartun dari Disney yang berhubungan dengan laut.

Hingga waktu akhirnya menunjukkan pukul delapan malam waktu Tokyo sehingga mau tak mau Maerin harus membawa anaknya keluar dari area Tokyo Disneyland.

Kedua tangan Maerin menangkup Suho dalam pelukannya, “Cep… cep… cep… anak Ibu jangan menangis. Tahun depan kita masih bisa ke sini lagi, Suho. Jangan menangis ya? Cep… cep… cep…” berulang kali Maerin mengusap-usap punggung Suho bersamaan dengan isakan anak itu yang tidak kunjung berhenti.

“Bu, aku tahu… tahun depan kita masih bisa ke sini lagi. Tapi kenapa Ayah belum datang? Aku ingin bertemu Ayah, Bu… aku rindu padanya,” ucap Suho dalam isakannya.

Maerin memandang Suho sambil memeluknya erat-erat, “Ibu juga rindu pada Ayah.” wanita itu menyentuhkan dahinya dengan dahi Suho, “Sambil menunggu Ayah… bagaimana kalau Ibu menceritakan kisah Dua Belas Pahlawan?”

Suho bergerak-gerak tidak setuju, “Jangan Dua Belas Pahlawan, Bu! Ibu sudah pernah menceritakannya.”

“Baiklah, kalau begitu kisah Detektif Muda ya?”

Kedua bola mata hitam bocah itu menatap Ibunya, “Itu kisah apa, Bu? Aku belum pernah mendengarnya.”

“Nanti Ibu ceritakan sambil menunggu Ayah, ya, Suho…” Maerin pun mencium sebelah pelipis Suho.

-..-

Musim panas – Daegu, Korea Selatan

Beberapa hari telah berlalu sejak Hwang Maerin dan anaknya, Kim Joonmyun yang biasa di panggil Suho, pergi rekreasi ke Tokyo Disneyland. Namun sejak menjejakkan kakinya kembali di bandara internasional Incheon, Maerin selalu di sibukkan dengan berbagai pekerjaannya sebagai pemilik Shizuka-Hio Group, salah satu dari sepuluh grup terbesar dan berpengaruh di Korea Selatan. Hal itu membuat Maerin harus meninggalkan Suho bersama para pengasuh yang ia sewa di sebuah mansion sederhana di pinggir Daegu.

Di dalam mansion berwarna cokelat itulah Suho mendapatkan perlindungan dari para bodyguard yang Maerin siapkan. Kenapa ada bodyguard? Sebab Maerin takut… takut akan kemungkinan yang paling buruk akan menimpa putranya.

Seorang pengasuh yang memakai name tag bertuliskan “SOONHEE” berlari menuju sebuah kamar berukuran besar. Gadis itu membuka pintu kayu tebal yang membatasi koridor dengan kamar itu. “Tuan muda Suho, Ayah Anda datang dan sekarang Beliau menunggu Anda di ruang kerjanya.”

Suho yang tadinya asyik mengutak-atik robot Power Ranger-nya langsung menunjukkan sebuah senyuman yang lebar. “Benarkah itu, Soonhee? Aaaaahhhh, Ayahhhhhhh!!!!!” ia berlari melewati Soonhee, pintu kayu, dan lukisan-lukisan abstrak yang tergantung di sepanjang koridor. Hati bocah itu begitu berbunga-bunga saat membayangkan sosok Ayahnya. Dalam ingatan Suho, Ayah selalu terlihat penuh kasih dan gagah, tidak jauh berbeda dengan Ibunya yang anggun dan murah senyum.

Kedua tangan kecil itu mendorong kuat-kuat pintu kayu tebal yang menutupi ruang kerja Ayahnya. Suho menarik napas sejenak sebelum berteriak, “Ayahhhh!!!” dan menabrak sebelah kaki Kim Yoonpyo. “Ayah, aku rindu sekali! Kenapa Ayah baru datang sekarang? Kenapa Ayah tidak datang ke Disneyland bersamaku dan Ibu? Padahal aku ingin menghabiskan liburan bersama Ayah,” cerocos bocah berkulit putih itu.

Namun bukannya sebuah pelukan hangat yang di dapat, Suho malah mendapat sebuah tatapan sayu dari Yoonpyo.

“Suho… ikutlah bersama Ayah.” ujar Yoonpyo tiba-tiba.

Suho mengerutkan dahinya, “Ada apa, Ayah? Apakah Ayah hendak mengajakku pergi ke Lotte World seperti biasa?”

Yoonpyo menggeleng keras sambil mencengkram kedua bahu mungil anaknya, “Ikutlah Ayah dan tinggalkan Ibumu, Nak.”

“Kenapa, Ayah? Aku tidak ingin meninggalkan Ibu. Aku ingin kita bertiga hidup bersama, selalu berkumpul… seperti keluarga temanku, Oh Sehun, Ayah.”

Sekali lagi Yoonpyo menggeleng kemudian menundukkan kepalanya, “Tidak bisa, Suho. Kita berbeda dengan temanmu itu…”

“Berbeda apanya, Ayah? Aku tidak mengerti. Aku kan sama seperti Sehun, Ayah. Aku adalah manusia… dia juga.” sergah Suho.

“Bukan! Bukan itu, Suho! Kau tidak mengerti, Nak!” teriak Yoonpyo, membuat Suho bergidik dan merasa bahwa pria di hadapannya ini adalah… orang asing, tidak seperti Ayahnya. Yoonpyo mengalihkan tatapannya pada seorang pria bertubuh tinggi tegap dan berwajah seram, “Won! Bereskan seluruh pakaian Suho dan masukkan ke dalam mobil! Bawa juga seluruh mainan dan buku-bukunya! Kita harus pergi sebelum Maerin tiba di rumah ini!”

Pria berwajah seram itu mengangguk sekilas kemudian menghilang di balik pintu sebelum Suho mengerti apa yang terjadi.

“Ayah, kenapa Ayah mau membawa baju-baju dan mainanku? Aku mau di bawa kemana, Ayah?” tanya Suho dengan air mata berderai ketika ia berada dalam pelukan Yoonpyo yang membawanya ke sebuah mobil sedan hitam.

Yoonpyo tidak menjawab Suho, ia hanya mengacak-acak rambut putranya dengan tatapan lelah.

-..-

Musim gugur – Seoul, Korea Selatan

Bocah itu, tidak, ia sudah bukan bocah lagi. Ia telah tumbuh menjadi seorang remaja muda. Remaja muda yang tampan rupanya seperti sang Ayah, Kim Yoonpyo. Kim Yoonpyo yang walaupun usianya sudah menginjak angka lima puluh namun masih terlihat segar dan enerjik.

Suholah remaja muda itu. Saat ini usianya nyaris dua belas tahun, yang berarti sudah lima tahun berlalu sejak ia di bawa oleh Yoonpyo untuk meninggalkan Maerin, Ibunya.

Lima tahun yang lalu ketika Suho menapakkan kakinya di mansion Ayahnya. Lima tahun yang lalu ketika Suho pertama kali melihat Ayahnya bersama wanita lain. Lima tahun yang lalu ketika Suho merasa hancur untuk pertama kalinya. Dan masih banyak yang terjadi sejak lima tahun yang lalu.

Saat bola kertas kesekian mendarat di tempat sampah, seorang pelayan dengan terburu-buru membuka pintu kamar Suho, membuat remaja muda itu menoleh.

“Ada apa, Daejoon?”

Napas pria yang di panggil Daejoon itu terengah-engah akibat berlari dari lantai dasar menuju kamar Suho yang terletak di ujung lantai tiga. “Tuan muda… Tuan muda…” ia berusaha mengatur napasnya. “Tuan muda Suho… ada kabar buruk.” Daejoon menghela napas panjang dua kali, “Ada kabar buruk dari mansion Ibu Anda, Hwang Maerin.”

Spontan Suho melompat turun dari tangga semi permanen yang di dudukinya, “Apa?! Ibu???”

Daejoon mengangguk mengiyakan, “Iya, Tuan muda. Saya mendapat kabar dari sepupu saya yang bekerja sebagai tukang kebun di mansion Ibu Anda… bahwa semalam telah terjadi kebakaran hebat di sana. Hanya sebagian kecil yang berhasil keluar dari mansion. Sayangnya… itu tidak termasuk Ibu Anda, Tuan muda.”

“Apa maksudmu?! Ibuku kenapa?!” teriak Suho yang mendekat pada Daejoon dengan langkah geram. “Katakan, Daejoon!!!”

“Maksud saya… Ibu Anda telah tiada.” Daejoon menelan ludah sekali, “Maafkan saya, Tuan muda Suho.”

Kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Daejoon membuat air muka Suho berubah. Wajahnya menjadi pucat pasi sedangkan mulutnya berulang kali mengatakan kata “tidak mungkin”. Suho menatap Daejoon, “Apakah jenazah dari tubuh Ibuku sudah di temukan?”

Daejoon menggeleng, “Belum, Tuan muda.”

Sudut-sudut rahang Suho mengeras, “Siapkan mobil. Aku harus kembali ke mansion Ibuku,”

“T, ta, tapi… bagaimana kalau Tuan Besar tahu?” cicit Daejoon.

“Persetan dengan Ayah. Aku hanya ingin kembali dan menemui Ibuku.” ujar Suho di antara sela-sela giginya. Setelah berkata demikian ia pun berjalan cepat menuju lantai dasar, melewati para bodyguard dan pelayan yang menyapanya.

Dalam beberapa jam, mobil yang ditumpangi oleh Suho telah sampai di depan puing-puing sisa bangunan mansion Hwang Maerin, Ibunya. Mansion itu tampak mengerikan dengan abu di sana-sini, bau hangus yang masih tercium, dan warna hitam yang tampak pada puing-puing bangunannya.

Begitu turun dari mobil, Suho langsung menggulung lengan kemeja putihnya kemudian berlarian ke sana-kemari untuk mencari jenazah Maerin. Tapi pada dasarnya kau harus tahu bahwa jenazah yang gosong oleh api sulit sekali di kenali secara kasat mata, kecuali dengan melakukan tes DNA dari tulang-belulang yang tersisa dari jenazah.

Semua orang yang berada di antara puing-puing mansion memanggil Suho untuk kembali dan jangan mencari jenazah Maerin. Namun remaja itu tidak peduli. Di antara derai air matanya, Suho menyingkirkan setiap kayu-kayu dan batu-batu yang menghalangi jalannya. Ia hanya ingin melihat Maerin yang bernasib naas.

Setelah menjelajahi seluruh sudut puing-puing mansion, mata Suho menangkap sesosok jenazah yang tergeletak di tempat yang tadinya adalah kamar Yoonpyo, Ayahnya. Kedua kaki Suho semakin cepat melangkah ketika jantungnya berdegup lebih kencang. Kedua mata Suho semakin panas ketika batinnya jatuh ke lubang yang paling dalam. Hati Suho hancur sekali lagi ketika ia mengenali jenazah wanita yang selalu mendekapnya lima tahun yang lalu.

“Ibu…”

-..-

Musim semi – Korea Selatan

Yoonpyo melangkah memasuki mobil sedan hitamnya. Sebelum menutup pintu, pria paruh baya itu menoleh pada Suho, “Ayah pergi dulu ya, Suho. Baik-baiklah di rumah.”

Tapi anak itu tidak memberikan respon apa pun, hanya tatapan mata yang sarat akan kekecewaan dan hancur. Melihat Suho yang diam, Yoonpyo pura-pura tidak peduli kemudian sosoknya menghilang di balik pintu mobil. Tidak berapa lama, mobil tersebut pun pergi meninggalkan halaman depan mansion Kim Yoonpyo.

“Tuan muda, ayo, masuk. Angin musim gugur masih muncul… Tuan muda harus menjaga kesehatan Anda,” ujar Daejoon yang berdiri beberapa langkah di belakang punggung Suho.

Suho menoleh sejenak lalu bergegas memasuki mansion Ayahnya dengan gaya tak acuh. “Aku tahu. Terima kasih, Daejoon… tapi aku ingin sendiri saja. Tolong tinggalkan aku dan kerjakan tugasmu yang lain,”

“Tapi…”

Sebelum Daejoon sempat berkata apa-apa lagi, sosok Suho sudah menghilang. Daejoon pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan menghela napas panjang dan berkata, “Anak itu pasti terpukul sekali. Kasihan…”

Sementara itu seorang remaja berambut hitam legam membawa buku detektif favoritnya sambil mencari tempat yang nyaman untuk membaca buku. Sedari tadi ia tidak kunjung menemukan tempat nyaman itu sebab terlalu banyak orang yang berkeliaran di mansion. Para pelayan dan para bodyguard. Terlalu berisik. Suho jadi tidak bisa berkonsentrasi pada pertarungan Holmes dan Moriarty.

Hingga suatu saat, Suho berbelok menuju koridor yang lain yang jarang di datangi oleh para pelayan. Sepanjang koridor itu terdapat banyak lukisan wanita dan pria berpakaian formal, mulai dari satu set suit sampai satu set jas yang biasa di kenakan para English Gentleman.

Siapa mereka?

Suho berbelok menuju koridor satu lagi.

Koridor itu terasa mencekam dan berbau anyir. Bahkan cahaya matahari pun hanya sedikit menembus dinding sehingga Suho agak kesulitan melihat jalan yang ada di depannya.

Tempat apa ini?

Dengan rasa keingintahuan yang tinggi, Suho membuka salah satu pintu kayu tebal yang berada di antara pintu kayu-pintu kayu lainnya.

Pintu kayu itu berderit terbuka.

Seumur hidup pun Suho menyesali keputusannya untuk tinggal di mansion ini. Tidak seharusnya ia ada di tempat ini. Tidak seharusnya ia melihat semua ini. Tidak seharusnya seorang anak mengungkapkan sendiri kejahatan sang Ayah. Tangan kotor sang Ayah.

Tercermin di kedua bola mata Suho ruangan yang penuh dengan cat merah. Ah, apakah itu benar-benar cat? Tidak, karena salah satu bau anyir itu berasal dari ruangan itu. Itu darah. Darah manusia yang beberapa hari tidak di bersihkan. Darah manusia yang memenuhi ruangan itu.

“…..apa ini?”

Di hadapan seorang remaja muda, bekas berbagai pertarungan terukir. Bekas pedang samurai, senjata tajam, senjata api, dan segala macam jenis senjata lainnya terukir di seluruh isi ruangan itu.

Dan di depan telapak kakinya, remaja muda itu mendapati lima tubuh yang nyaris membusuk yang penuh dengan bekas luka-luka menganga.

Spontan Suho memuntahkan seluruh menu sarapannya ke karpet yang ia injak. Buku kisah Holmes pun terkapar di karpet di atas bercak-bercak darah yang sudah menghitam karena teroksidasi dengan udara.

“Ayah… ini tidak mungkin kan? Apalagi yang kau sembunyikan dariku, Ayah?”

Tiba-tiba seseorang yang tidak di kenal melangkah masuk mendekati sosok Suho yang terpuruk. Pria itu berperawakan tinggi, besar, dan memiliki kesan karakter yang kuat, “Ini lah kenyataan tragis mengenai Ayahmu, Kim Yoonpyo, Nak. Seorang diplomat yang menghalalkan segala cara untuk mencapai puncak dunia. Segala penghalang apa pun akan ia hancurkan… termasuk Ibumu itu, Hwang Maerin.”

Suho menatap nanar pria yang tidak di kenalnya itu. “Tidak… tidak mungkin. Ayah sangat mencintai Ibu dan aku. Ayah tidak mungkin…” sulit baginya untuk mengucapkan kata itu. Kata yang kejam dan tidak biadab, “…membunuh… Ibu.”

“Kau tidak tahu apa pun mengenai keluargamu, Suho.” Pria itu mendengus geli. “Yoonpyo hanya memanfaatkan Ibumu untuk mewujudkan cita-citanya. Baginya, Maerin hanyalah bidak yang berfungsi melindungi sang Raja dan sekarang bidak itu telah hancur karena ketidakfungsiannya.”

Tragis.

Sekali lagi Suho mengeluarkan isi perutnya sampai benar-benar habis. Ia terisak dan tidak bisa berhenti. Kedua tangannya mencengkram dadanya erat-erat seolah ia akan kehabisan napas. Air mata pun mengalir deras dari kedua matanya. Kali ini ia benar-benar jatuh. Jatuh karena sang Ayah.

“Aku mau pergi. Kembali lah ke tempatmu seharusnya berada, Nak. Jangan sampai Ayahmu mengetahui hal ini,” ujar si pria.

“Bawa aku pergi… bawa aku pergi dari tempat ini.” Suho memohon dan menyeret kakinya menuju pria yang tidak ia kenal itu.

Pria itu mendengus sekali lagi.

“Bawa aku pergi! Aku mohon!!!”

Pria itu mengulurkan sebelah tangannya pada Suho kemudian berkata, “Kau mau kuajari bagaimana caranya balas dendam?”

-..-

Musim panas – London, Inggris

Sebatang korek api yang hangus menyentuh tanah di mana tanah itu adalah tanah yang di injak oleh orang-orang berkulit putih. Sementara hawa panas dari lidah-lidah api mulai menjalar ke seluruh bangunan itu dan membumi hanguskan semua yang ada.

“Mansion yang ada di London sudah selesai. Setelah ini aku akan pergi ke Tokyo dan menemui si tikus itu,” ujar seseorang pada ponsel yang ia genggam.

Orang di seberang tidak merespon beberapa saat. “Jangan terburu-buru… tunggulah saat yang tepat.”

Pemilik ponsel itu mengerang hebat. Ah, rupanya ia masih seorang remaja kalau kita melihat sosoknya di balik topi yang ia kenakan. “Kapan?! Aku sudah muak menunggu terus!!! Secepat mungkin aku harus menghabisinya, Yue!!!”

“Dasar anak muda… termakan emosi sekali.” celoteh pria yang di panggil dengan nama Yue itu.

Suho kehabisan kesabarannya. “Jangan sebut aku anak muda! Hentikan panggilan itu atau kubunuh kau!”

“Bunuhlah kalau bisa…” Yue terkikik. “Apakah kau bisa membunuhku yang sudah mengajarimu banyak hal?”

Kali ini Suho terdiam. Ia menghela napas panjang sebelum membuang ludah ke sembarang tempat. “Aku terpaksa menuruti keinginanmu. Selanjutnya apa yang harus kulakukan?”

Yue tersenyum simpul walaupun Suho tidak bisa melihat senyuman itu, “Mudah saja. Lenyapkan semua pelayan dan bodyguard yang bekerja pada Kim Yoonpyo. Dengan begitu tidak akan ada saksi kan?”

Suho mengangguk dengan patuh. “Aku mengerti.” lalu ia menutup sambungan itu sebelum mulai berjalan menuju London Bridge.

Beberapa menit remaja itu berjalan lalu-lalang tanpa tujuan. Tibalah ia di daerah perumahan sepi yang para penghuninya sudah berada di dalam rumah masing-masing untuk menonton acara televisi kesukaan mereka. Suho melewati beberapa rumah yang tirai jendelanya tertutup acuh tak acuh. Tapi sebenarnya ada beberapa saat di mana ia berusaha melihat keadaan keluarga yang berlindung di bawah naungan atap merah itu. Mungkin entah di sudut mana, Suho masih memiliki kebaikan dalam hatinya.

Tiba-tiba sebuah SUV berwarna hitam muncul dari ujung jalan dan berhenti di pinggir jalan yang letaknya dua sampai tiga rumah dari Suho. Pintu SUV itu terbuka kemudian muncullah sesosok pria yang sangat Suho benci hingga ke tulang-tulangnya.

Kim Yoonpyo.

Pria tua itu masuk ke dalam sebuah rumah yang tirai jendelanya terbuka. Anehnya, tidak ada satu orang pun yang mendampingi Yoonpyo.

Suho berusaha melihat apa yang di lakukan pria itu di dalam rumah. Ada Ayahnya dan seorang anak perempuan… kira-kira usianya baru empat tahun. Tidak lama, muncul seorang wanita muda membawa kue Baumkuchen dengan senyum merekah yang menghiasi wajah itu.

Melihat ekspresi si wanita dan suasana yang ada di dalam rumah itu, darah dalam tubuh Suho bergejolak kembali. Hasrat untuk menghancurkan rumah itu muncul dan ia kurang bisa menahannya.

Oh, ia sangat membenci suasana gembira itu. Membuatnya teringat akan apa yang telah di lakukan Ayahnya pada Ibunya. Membuatnya teringat akan masa-masa indah ketika Ayahnya sering datang mengunjungi Ibunya. Membuatnya teringat akan sisa-sisa jenazah sang Ibu.

Secepat kilat pun Suho menghilang dari perumahan itu.

-..-

“Namanya Park Soora. Lahir pada tanggal 3 September. Kedua orang tuanya bernama Park Jungsoo dan Han Sohee. Kim Yoonpyo sepertinya memiliki hubungan khusus dengan keluarga itu. Yah, mereka sangat akrab… kadang kala Park Jungsoo dan si tikus itu pergi bersama ketika keluarga Park sedang pulang ke Korea.” jelas Yue panjang lebar sambil melempar beberapa lembar kertas ke atas meja kaca yang ada di depannya.

Jangan sampai Ayah merebut kebahagiaan keluarga itu…

Rahang Suho mengeras saat mendengar penjelasan dari Yue. Dari sudut matanya, pria berusia dua puluh tahunan itu mengamati air muka Suho yang berubah. “Silahkan saja kalau kau ingin menghabisi si tikus itu. Kurasa sekarang adalah waktu yang tepat…”

Spontan Suho menoleh pada Yue, “Kau serius?”

Yue mengangguk mengiyakan, “Serius. Kau telah menemukan timing yang tepat. Sementara itu aku juga telah menemukan mangsaku,”

Suho meraih jaket jinsnya lalu berdiri dan berjalan menuju pintu rumah, “Boleh aku bertanya satu hal?”

“Ya?”

“Siapa nama aslimu?”

Yue menyeringai sebelum meneguk sebotol Vodka sampai isinya tinggal setengah, “Aku Wang Jiyue.”

-..-

THE END

__________________________________

Apakah aneh?

Saya ngebuat FF ini ngebut banget lho~ o_o cuma dua hari, ehehe #segitu di bilang cepet abis ceritanya selesai, saya langsung bikin posternya. Maaf kalo posternya jelek -_,- saking keburu-burunya bikin.

Ada Shizuka-Hio Group? Vampire Knight? Iya, gitu deh~ saya lagi tergila-gila sama Matsuri Hino… ampun demi apa gambarnya di bagus banget. Apalagi pas pertarungan Zero ngelawan Yuki yang udah jadi vampir~ Kaname juga kayaknya cakep… tapi entah kenapa saya lebih maju(?) ke Zero /slapped #malah curhat

Nah, terus… enaknya FF ini saya terbitin di WGLFF nggak ya? Bingung .-.

Please kindly leave you RCL after reading🙂 thanKYU!