You AND I 20131222

YOU AND I Part 1 [When I Meet You]

Author : Alicia Diana Teresa
Main Cast : Kim Myungsoo (L), KARA Jiyoung as Bang Yunji
Genre : Fan fiction, romance, AU
Rate : PG15

“Yunji, tolong bawa tujuh set jas itu ke gedung NUC TV ya. Maaf merepotkanmu, kami sedang kekurangan orang.”

Aku mengangguk sambil tersenyum. “Tidak apa-apa, aku mengerti. Omong-omong ini semua baju untuk siapa?”

“Tidak usah banyak tanya, bawa saja. Ini alamatnya,” ujar Siyoung Eonni yang menyodorkan selembar kertas padaku. Kemudian ia mendorong punggungku ke arah pintu keluar.

Di luar gedung, aku menatap tujuh set jas dalam pelukanku dan kertas berisi alamat itu bergantian. Baiklah! Ayo ke NUC TV!

-..-

“Silahkan pakai ID card ini. Ruang 407 ada di lantai empat, urutan ketujuh.” kata seorang pegawai di resepsionis. Setelah mengucapkan terima kasih, aku masuk kedalam lift yang membawaku ke lantai empat.

Saat pintu lift terbuka, kesan pertamaku adalah : sepi sekali, seakan-akan tidak ada kehidupan di gedung ini. Uuh, bulu kudukku jadi merinding. Entah kenapa rasanya seram. Aku merasa… ada yang memegang bahuku. Jangan-jangan…

PRAAKKKK!!!

Kulempar tujuh set jas yang ada di pelukanku ke ‘sesuatu’ itu. Lalu aku menjerit dan berusaha lari. Tapi sial! Aku tersandung sendiri. Oh Eomma, aku masih ingin hidup!

“Hei, Nona!”

‘Sesuatu’ itu memanggilku!

“Ya, Nona!”

Tidaaakkkk!!! Ia mencengkram bahuku! Tidak! Tolong!!!

BUAKKK!!!

Sekuat tenaga kusikut orang itu (oke, ternyata ia manusia) sampai ia tersungkur. Kemudian aku membalikkan badan dan… oh tidak, aku pasti salah lihat! Orang yang tersungkur itu pasti bukan dia. Secepat kilat kuambil ketujuh set jas dalam plastik itu lalu lari ke ruangan 407.

Omong-omong kuharap ini semua adalah mimpi.

Kuusap-usap mataku beberapa kali. Tulisan di pintu ruangan itu tidak berubah juga. Mataku pasti salah. Tulisan “INFINITE” terpampang dengan jelas di hadapan wajahku.

Ini pasti mimpi.

-..-

“Apa? L Oppa tidak tampil?” toilet wanita penuh dengan para fans perempuan yang membicarakan L alias Kim Myungsoo, salah satu anggota INFINITE.

Perempuan lain berkata, “Iya, tadi di koridor ada beberapa staff yang membicarakan hal itu.”

“Aduh, sayang sekali… padahal aku datang kesini untuk melihat L Oppa,” ujar perempuan pertama.

Aku yang mendengarkan percakapan itu dari dalam bilik toilet langsung duduk merosot diatas kloset. Bagaimana ini? Pasti gara-gara aku.

Setelah beberapa menit bersedekap di dalam bilik toilet, aku keluar dan berusaha terlihat normal. Aku mau pulang dan kuharap aku tidak bertemu L alias Kim Myungsoo itu. Kuharap sekarang ia tengah menonton rehearsal INFINITE di studio!

Dengan langkah terburu-buru aku berjalan cepat melintasi ruangan 407 dan ruangan-ruangan lainnya. Oh Tuhan! Jangan pertemukan aku dengan Kim Myungsoo.

“Hei, Nona!”

…sial!

Kucoba untuk tidak mempedulikan panggilan itu. Aku berjalan lebih cepat lagi.

“Hei, kau! Tunggu!” suaranya terdengar jengkel dan ia memanggilku “kau”. “Jangan lari!” Kim Myungsoo berhasil mendapatkan bahuku sebelum ia menarikku.

Tubuhku oleng, aku kehilangan keseimbangan. Kulihat Myungsoo terkejut saat melihat wajahku. Aku juga terkejut saat melihat Myungsoo. Buru-buru kulepaskan diriku dari Myungsoo kemudian hendak berlari. Tapi sialnya aku tersandung lagi lalu jatuh terjerembab.

“Kau…”

Belum sempat berbicara, terdengar suara para Inspirit perempuan tadi keluar dari toilet sambil bercakap-cakap ria. Selama beberapa saat, aku dan Myungsoo hanya terdiam melihat para perempuan itu berjalan menuju studio tempat N! Countdown berlangsung. Namun tiba-tiba salah seorang dari mereka melihat Myungsoo dan berseru. Spontan Myungsoo menarik sebelah tanganku menuju ke janitor yang sempit, tempat bersembunyi yang ada di pikirannya saat itu.

“Apa-apaan kau, Myungs…??!!”

“Ssst, jangan bergerak. Jangan bersuara. Mereka masih mencariku,” suaranya terdengar tepat di telingaku. Hembusan napasnya membuat leherku tergelitik.

Kugigit tangannya yang menutupi mulutku. Myungsoo mengaduh kesakitan.

“Apa-apaan sih?! Jangan coba-coba menutup… upphh!!!” dasar tidak sopan!

Tak berapa lama setelah suara para Inspirit menghilang, aku mendorong Myungsoo sehingga ia keluar dari janitor itu. Kami pun kembali berdiri di koridor yang lengang.

Myungsoo menunjukkan ekspresinya yang jengkel sedari tadi, “Hei, kau! Seharusnya aku yang marah.” kedua bola matanya berkilat-kilat menatapku. “Karena kau menyikutku tadi, sekarang aku tidak bisa tampil di setiap kegiatan INFINITE dan harus istirahat.”

“Ya! Kau menyalahkanku? Bukannya itu salahmu sendiri, Kim Myungsoo-ssi? Siapa suruh mengendap-endap seperti itu,” balasku tidak mau kalah.

Pria berusia dua puluh enam tahun itu berkata, “Aku tidak mengendap-endap! Aku kan memanggilmu juga!”

“Tapi tindak-tandukmu itu mencurigakan!”

“Aaahh!!! Itu sih, kau saja yang terlalu curiga pada orang!”

“Sok tahu!”

“Tukang curiga!”

“Tidak tahu diri! Dasar aneh!”

“Tidak tahu diri apanya? Kau yang menyikutku!” bentaknya. Suaranya yang bergema di seisi koridor spontan membuat diriku gemetar.

Tapi kemudian tiba-tiba pintu studio N! Countdown terbuka sedikit, membuat adu mulutku dengan Myungsoo harus dihentikan untuk sementara waktu dan beberapa orang yang memakai ID card keluar. Melihat orang-orang itu, Myungsoo lagi-lagi menarik tanganku.

Berulang kali kuentakkan pergelangan tanganku, namun cengkramannya kuat sekali. “Kau… lepaskan tanganku! Aku mau dibawa kemana?!”

Ia tidak mempedulikan pertanyaanku dan tetap menarikku ke sebuah ruangan besar di sudut lantai empat.

Sebelum aku sempat melontarkan sebuah pertanyaan lagi, Myungsoo mendorongku hingga jatuh terduduk di salah satu kursi. Jari telunjuknya mengangkat daguku sehingga mataku bertemu pandang dengan matanya yang kecil, hitam, dan… demi apa matanya indah sekali.

“Aku tahu mataku memang indah, jangan melihatku seperti itu.” ujar Myungsoo yang jari telunjuknya masih menyentuh daguku.

Aku memalingkan wajahku darinya, “S, siapa sih yang mengagumi matamu itu. Ada kotorannya saja bangga,”

Setelah itu Myungsoo buru-buru mengusap-usap kedua matanya berulang kali. Dalam hati aku tertawa puas karena pria berambut hitam itu polos sekali.

“Jadi begini… kau harus bertanggung jawab atas tulang rusukku ini, Nona.” ia mulai menyeringai dan melemparkan tatapan tajam padaku. “Gara-gara tulang rusukku retak, aku jadi tidak bisa tampil di N! Countdown hari ini dan jadwal-jadwal selanjutnya sampai tulang rusuk ini sembuh. Kau membuatku harus mengeluarkan biaya dokter, kau tahu.” ujar Myungsoo sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Aku berdecak kesal, “Sudah kubilang kan! Itu salahmu sendiri yang mengendap-endap tidak jelas seperti itu!”

Myungsoo sepertinya tidak peduli, ia mendekatkan wajahnya pada wajahku sehingga hidung kami nyaris bersentuhan, “Tidak. Kau harus bertanggung jawab.”

Ya ampun, tanpa sadar aku menahan napas ketika wajahnya tepat di hadapan wajahku. Dengan kesadaran yang tersisa, buru-buru kudorong dadanya sehingga ia terjungkal ke belakang. “Bertanggung jawab seperti apa? Apalagi yang dapat kuberikan, karena kau lebih kaya dariku secara materiil? Bahkan dengan uangmu kau bisa sembuh dalam beberapa minggu dengan baik.”

“Tidak hanya secara materiil tahu.” Kali ini Myungsoo yang berdecak. “Aah, pantas saja kau hanya menjadi pengantar jas.”

Kupukul tulang rusuknya yang tadi kusikut, “Ya! Jangan sembarangan kalau bicara! Aku hanya membantu sepupuku yang bekerja sebagai desainer pakaian kalian! Kau tahu, begini-begini aku lulusan cum laude dan punya jabatan yang tinggi di kantor walau aku baru bekerja selama tiga tahun!”

Ia mengaduh kesakitan lagi. Aah, masa bodoh.. Kutinggalkan dia dan segera pergi dari ruang rapat itu.

Huh, aku kecewa… ternyata sosok Kim Myungsoo yang sebenarnya seperti itu. Ia tidak seperti yang diberitakan di website maupun di TV. Ternyata Kim Myungsoo memiliki sifat yang lebih buruk daripada saat ia menjadi L. Bahkan ia tidak pandai berbicara baik-baik dengan wanita sepertiku. Aku merasa prihatin dengan para fans yang telah tertipu oleh sosok sok cool-nya.

Sebuah taksi berhenti di depanku ketika aku melambaikan tangan. Aku masuk ke dalamnya dan taksi itu bergegas meninggalkan gedung NUC TV.

“Mau kemana, Nona?” tanya ajusshi supir taksi.

“Tiffany Tower, Apartemen Hapsaeng, Ajusshi.” ujarku.

Ajusshi itu mengangguk mengiyakan sambil melajukan taksi secepat aku ingin melupakan hari ini.

Uuh…

TO BE CONTINUED – NEXT : {EXTENDED} YOU AND I Part 2 [A Helper]