You AND I 20131222

YOU AND I Part 2 [A Helper]

Author : Alicia Diana Teresa
Main Cast : Kim Myungsoo (L), Bang Yunji
Genre : Fan fiction, romance, AU
Rate : PG15

Untuk kesekian kalinya aku berhenti di hadapan sebuah halte bis yang memamerkan iklan pakaian dengan INFINITE sebagai modelnya. Aku masih tidak mengerti, sebenarnya apa pesona dari boyband ini? Visualnya saja memiliki perilaku yang kasar begitu. Ah, aku tidak mengerti anak-anak muda zaman sekarang.

“Kyaaaa~ itu iklan L Oppa yang baru!”

“Aduh, L Oppa tampan sekali! Ayo, foto aku dengan L Oppa!”

“Nanti gantian ya! Aku juga mau!”

Jeritan-jeritan itu spontan membuatku menutup kedua telingaku. Aish, anak-anak SMA yang baru pulang sekolah berlarian dari satu halte ke halte bis yang lain demi “pura-pura” berfoto bersama para anggota INFINITE.

Sementara empat siswi SMA jejeritan berfoto-ria dengan poster Myungsoo, di sudut mataku aku melihat seorang siswi berbando merah muda yang hanya melihat teman-temannya itu dengan tatapan heran. Yah, pasti ada juga orang sepertiku disini. Orang yang tidak mengerti kenapa orang seperti Myungsoo bisa seterkenal itu padahal tabiat dan kata-katanya tidak sopan. Huh.

Beberapa menit kuhabiskan untuk mengamati tingkah laku anak-anak SMA itu. Aku memang kurang kerjaan. Untuk apa sih aku memperhatikan anak-anak itu? Di apartemen kan masih banyak hal yang harus dilakukan. Ayo, pulang!

-..-

Baru saja aku selesai membersihkan kamar mandi ketika ponselku berbunyi nyaring.

“Yeoboseyo?”

“Yunji-ya!” suara Siyoung Eonni yang seperti pengeras suara memenuhi telingaku. Aku pun buru-buru menutup kedua telingaku.

“Apa sih Eonni ini? Tidak bisakah Eonni tidak berteriak?”

Siyoung Eonni terkekeh, “Ah, mianhae, Yunji-ya~ omong-omong, hari Sabtu ini kau bisa membantuku lagi tidak? Ada beberapa set jas yang harus diantarkan ke…”

“Kemana? INFINITE?” potongku. “Maaf saja, Eonni, aku tidak mau. Visualnya itu… ih! Mengesalkan!” aku berteriak-teriak sambil mengentakan kaki.

Di seberang sana, Siyoung Eonni berkata, “Aduh, duh, duh… memangnya ada apa dengan Myungsoo? Yang aku tahu Myungsoo itu orang yang baik dan murah senyum kok. Umm… apa minggu lalu terjadi sesuatu dengan kalian?”

Aku menghela napas panjang, “Err… mungkin?”

“Dasar tidak jelas,” semprot Siyoung Eonni. “Yasudah lah kalau kau tidak mau mengantarkan jas-jas itu pada EXO. Mungkin aku bisa minta bantuan…”

“Hah?! EXO?”

Siyoung Eonni menyemprotku lagi, “Ya! Jangan berteriak seperti itu! Apa sih kau ini?”

“Eonni, biarkan aku mengantar jas-jas itu! Kapan aku harus mengambil jas-jasnya?” tanganku sudah siap dengan notes dan bulpen. Mendengar nama EXO, aku langsung membuang rasa kesalku pada Myungsoo dan menggantinya dengan rasa tidak sabar akan bertemu Do Kyungsoo.

Aku mendengar Siyoung Eonni terkekeh lagi, “Besok jam dua siang, antarkan dua belas set jas dan aksesorisnya ke NUC TV. Kau masih ingat kan alamat gedung NUC TV?”

Aku mengangguk dengan semangat walau Siyoung Eonni tidak bisa melihatnya, “Oke, Eonni!”

“Terima kasih, Yunji-ya~ bye-bye,” sebelum menutup telponnya, Siyoung Eonni terkekeh. Orang itu senang sekali terkekeh-kekeh.

Sepeninggal telpon dari Siyoung Eonni, aku menikmati sisa hari itu dengan suasana hati yang bagus karena besok aku bisa minta tanda tangan para anggota EXO dan berfoto bersama mereka! Yey!

-..-

Uh, membawa dua belas set jas ternyata tidak semudah yang kubayangkan.

……….lagipula kenapa harus di lantai empat lagi sih? Mana acaranya juga sama. N! Countdown. Argh, jangan sampai aku bertemu orang itu lagi.

Semangat bertemu EXO-ku jadi menurun setelah aku mengetahui bahwa hari ini EXO akan sepanggung dengan INFINITE. Padahal aku tidak ingin hari yang indah ini diganggu oleh kehadiran Kim Myungsoo itu. Ah, tidak… aku tidak rela.

Aku mengecek secarik kertas yang kugenggam, ruang 402. Untunglah ruang tunggu EXO terletak jauh dari ruang tunggu INFINITE. Semoga aku tidak berpas-pasan dengan Kim Myungsoo ataupun salah satu anggota INFINITE.

Di hadapan pintu putih yang ditempel dengan kertas putih bertuliskan “EXO”, aku mempersiapkan jantungku. Jantungku ini… berdegup tak karuan saat aku mengetuk pintu itu dan menunggu jawaban dari dalam ruangan.

CKLEK!

“Selamat siang… Anda siapa ya?” sosok itu! The Angelic Leader Suho! Suho ada di hadapanku dengan wajahnya yang seperti malaikat! Suho! Ya ampun, jas-jas ini nyaris saja melorot dari pelukanku.

“Saya Bang Yunji dari LSY membawakan jas-jas yang akan kalian pakai di N! Countdown hari ini,” aku berusaha agar suaraku tidak terdengar tercekat.

Suho tersenyum ramah, “Oh ya, silahkan masuk dan letakkan jas-jasnya di gantungan baju. Terima kasih, Yunji-ssi,” ia membuka pintu lebih lebar lagi dan menunjuk gantungan baju tempat jas-jas itu harus kuletakkan.

Dalam ruang tunggu yang tidak terlalu besar dan penuh dengan lampu, semua anggota EXO sibuk dalam kegiatannya masing-masing. Ketika kugantung jas mereka satu per satu, beberapa dari mereka menyapaku dengan senyuman yang dapat membunuhku. Oh, EXO… aku beruntung sekali bisa bertemu dengan kalian walau di sini aku hanya seorang kurir pakaian.

Setelah beres menggantungkan jas-jas itu, aku memanggil Suho lalu berbisik padanya, “Begini… mungkin ini adalah permintaan yang biasa bagi kalian. Tapi bolehkah aku meminta tanda tangan kalian dan berfoto bersama kalian?”

“Tentu saja boleh, Yunji-ssi.” Suho memamerkan deretan giginya yang putih mengkilau.

Buru-buru kukeluarkan ponsel serta notesku. Kuserahkan kedua benda itu pada Suho yang memanggil semua anggota EXO untuk berfoto bersama. Sempurna~ akhirnya aku bisa mendapatkan tanda tangan Do Kyungsoo!

Saat berfoto bersama, Kyungsoo berdiri di sebelahku. Ia bahkan merangkulku dan kami sempat bertukar ID LINE. Ini sangat sangat sangat sempurna!

Kemudian aku membungkuk mengucapkan terima kasih lalu keluar dari ruang tunggu EXO dengan hati berbunga-bunga. Untunglah koridornya sedang sepi, jadi aku bisa bebas mengekspresikan rasa senangku sambil tersenyum-senyum melihat fotoku bersama EXO. Hahaha…

“Nona Pengantar Jas.”

Lihat, Kyungsoo terlihat tampan sekali di foto ini! Ah! Akan kuperbesar foto ini kemudian mengedit bagianku dan Kyungoo.

“Nona, kau kabur dari rumah sakit jiwa ya?”

Eum, ada yang berbicara ya? Siapa ya?

“Kau tidak punya telinga ya? Dimana sopan santunmu saat kupanggil?”

BLETAKKK!!!

Kepala orang itu kupukul dengan tasku yang berisi buku sketsa.

“Aduh… Satpam! Satpam! Ada yang melakukan kekerasan disini!” argh, dia malah berteriak seperti itu! Maunya apa sih?

Aku berkacak pinggang menghadapinya. Aku tahu berkacak pinggang seperti ini memang tidak sopan… tapi ini bukan saatnya untuk bersikap sopan. “Kim Myungsoo, apa maumu sih?”

Kim Myungsoo bangkit berdiri sambil mengusap-usap kepalanya yang kupukul tadi, “Aku hanya ingin kau bertanggung jawab dengan membantuku.”

Aku mengerukan dahiku. “Ya! Mau minta bantuan saja kenapa harus mengatakan hal-hal jelek padaku? Aish… lagipula kau bisa kan bertindak lebih sopan?”

“Jadi kau mau membantuku atau tidak?”

Demi Tuhan, pria ini… “Iya, iya. Sebisa mungk…”

Ia menyelipkan selembar kertas kecil di telapak tanganku. “Aku tidak menerima kata ‘sebisa mungkin’. Kuanggap kau mengatakan ‘iya’. Maka besok datanglah ke alamat yang tercantum di kertas itu.” bisiknya menggelitik telinga.

Kemudian tanpa memberiku kesempatan untuk menjawab, pria itu pergi meninggalkanku.

SIAL KAU, MYUNGSOO!

-..-

Kuempaskan tas tanganku ke salah satu sofa. Hari ini benar-benar menguras emosi…

Kupijit-pijit pelipisku sambil mencoba rileks. Mungkin aku harus menenangkan diri dengan minum segelas Vodka, ah tidak… sebotol Vodka.

Kenapa masalah dengan Myungsoo membuatku emosi sampai sebegininya?

-..-

Sudah tiga puluh menit kutunggu sampai lelah berdiri. Sudah berulang kali pintu itu kuketuk. Aku yakin itu pintu yang tepat karena aku sudah mengecek ulang alamat yang diberikan Myungsoo di websitewebsite.

Apa Myungsoo hanya mempermainkanku saja?

Pikiran itu sempat terbesit dalam kepalaku. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa ia benar-benar memintaku datang ke dorm INFINITE selain aku dan dia sendiri.

Beberapa menit kutunggu lagi, tapi tetap saja pria itu tidak muncul. Akhirnya kuputuskan untuk melupakan permintaan tolong Myungsoo dan hanya menganggapnya sebagai jebakan. Uuh, sabar, Yunji… sabar.

“Lho, kau sudah datang?”

Aku terperanjat saat ujung hidungku nyaris menabrak dada seseorang, “Kok kau… kau…”

“Kenapa aku ada di luar dorm?” Myungsoo menyuarakan pikiranku. “Setiap pagi aku selalu lari pagi di kawasan apartemen. Tapi karena tulang rusukku ini, tadi aku hanya jalan-jalan biasa saja.”

Myungsoo memencet tombol yang menunjukkan lantai dimana dormnya berada. “Kupikir kau tidak akan datang.”

Umm, aku masih tidak percaya Myungsoo berdiri di sebelahku. Kupikir dia orang yang suka bangun siang dan pagi ini tugas pertamaku adalah membangunkannya. Ternyata tidak. Sepagi ini ia sudah bangun… cukup mengesankan untuk ukuran seorang idola yang sibuk.

“Sudah menunggu lama?” tanyanya, membuatku tersadar dari pikiranku.

Aku mengangguk mengiyakan, “Aku sudah menunggumu lebih dari setengah jam.” uuh, nada bicaraku terdengar dingin.

Lift berhenti dan pintunya terbuka perlahan. Myungsoo mendahuluiku berjalan menuju dormnya. “Maaf, kupikir kau tidak akan datang.”

“Kau pikir aku ini orang seperti apa, hah?” kujitak kepalanya. Padahal kemarin ia sendiri yang mengancamku.

Myungsoo menatapku dengan tatapan galak, “Ya sudah sih, tidak perlu pakai jitak segala kan? Tanganmu ini ringan sekali,” ia mengusap-usap kepalanya yang sakit. Sementara itu aku hanya cengar-cengir.

Pria itu membuka pintu kayu yang berpelitur dan terlihat berat, “Pekerjaan pertama, bereskan seisi dorm ini karena hari ini seharusnya aku yang membereskan dorm.” setelah berkata demikian Myungsoo pergi ke kamarnya.

Aku mengamati keadaan dorm INFINITE yang harus kubereskan. Err, aku jadi menyesal masuk ke dorm ini. Seharusnya tadi aku langsung kabur saja saat bertemu dengannya. Bagaimana tidak? Lihat saja, semua barang berserakan di seluruh ruangan. Pakaian-pakaian kotor tidak dimasukkan ke keranjang baju kotor tapi dilempar seenaknya. Aksesoris seperti topi dan kalung hanya ditaruh diatas sofa sehingga aku tidak bisa melihat dimana permukaan sofanya.

Bahkan sepatu pun bisa ada di atas kulkas!

Ooh…

Setelah ‘puas’ menyelidiki seluk-beluk dorm INFINITE dan barang-barangnya yang sembarangan, aku memutuskan untuk membereskan sepatu-sepatu terlebih dahulu. Kemudian menata pakaian-pakaian dan aksesoris. Selanjutnya membersihkan lantai, dapur, dan dinding. Ah, mungkin aku harus mengecek isi kulkas mereka juga. Err… seharusnya aku membawa masker dan sarung tangan.

Ketika aku sedang sibuk mengelap bagian atas televisi, kudengar pintu kamar dibuka. “Myungsoo-ssi, ini dorm apa? Kalian tidak pernah membersihkannya ya? Jorok sekali,” protesku tanpa melihat sosok Myungsoo.

Tunggu.

Kenapa Myungsoo tidak segera menjawab? Biasanya pria itu selalu langsung membalas perkataanku dengan kata-kata yang sinis.

Kubalikkan badanku dan aku mendapati Sungjong dengan rambut berantakan dan mulut terbuka.

“Kau siapa?!” teriak Sungjong sambil menunjukku.

Aku meletakkan lap kotor di sembarang tempat, “Tunggu! Tunggu! Aku bisa jelaskan! Aku… aku pembantu baru disini!” Ugh.

Sungjong menatapku tidak percaya, ia masih terkejut, “Pembantu? Bukannya sudah ada Bibi Woo disini?”

“Oh, uh… aku bukan pembantu. Aku hanya membantu Myungsoo.” jawabku.

“Myungsoo Hyung? Kenapa…”

“Iya, mulai hari ini dia membantuku, Sungjong-ah. Tenang, dia bukan orang yang patut dicurigakan kok,” suara Myungsoo yang muncul tiba-tiba menghentikan keheranan pada Sungjong. “Dia akan membantuku sampai aku sembuh,”

Pria cantik itu menatapku dan Myungsoo bergantian, “Membantu… pembantu ya?”

Oh, Sungjong.

-..-

Sudah lima jam aku membereskan dorm INFINITE dan sekarang nyaris jam makan siang. Huah, lelah juga membereskan seisi dorm yang sumpah-berantakan-seperti-kapal-pecah. Dan aku membereskan semuanya sendirian! Myungsoo hanya mengawasiku membersihkan lantai dan kamar mandi tanpa membantuku sedikit pun. Tidakkah ia memiliki belas kasihan saat melihat seorang perempuan bekerja sendirian membereskan seisi apartemennya seperti ini?

KRUCUK KRUCUK KRUCUK…

Uups.

“Aku ingin makan nasi…” ujarku sambil merentangkan tangan ke atas sehingga sendi-sendiku berbunyi kretek-kretek. “Nasi… aku mau nasi… laparrrr,”

Lalu aku mendengar pintu salah satu kamar terbuka. Suara langkah kaki terdengar sebelum suaranya mengagetkanku, “Kau berisik.”

“Tapi aku laparrrr… berikan aku makanannnnn,” aku merengek serta berguling-guling(?) di hadapan Myungsoo.

Visual INFINITE itu bukannya mengatakan bahwa ia akan membelikanku makanan, malah memasang ekspresi sedingin es kemudian masuk lagi ke kamarnya.

Oh, Myungsoo…

Karena perilakunya yang tidak berperikemanusiaan itu, aku memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan membersihkan dorm INFINITE di tengah jalan. Kupakai heels-ku dan keluar dari dorm yang sudah tiga perempat bersih itu. Masa bodoh dengan membantu Myungsoo. Pria seperti dia seharusnya sejak awal tidak usah diladeni. Bodohnya aku mau meladeni Myungsoo.

Setelah turun ke lobi gedung apartemen, aku keluar lalu berjalan di sekitar tempat itu untuk mencari restoran makanan Cina yang menyajikan ikan dori kukus dengan saus kecap. Kalian harus tahu bahwa makanan itu sangat enak dan kalian akan ketagihan saat pertama kali mencobanya sampai-sampai makan seporsi pun tidak cukup. Padahal porsinya lumayan besar, hahaha… tapi namanya juga makanan enak, seporsi tidak akan cukup.

Untunglah aku menemukan restoran itu dan siang itu pengunjungnya tidak ramai-ramai amat. Seorang pelayan menunjuk pada sebuah meja yang terletak nyaris di sudut depan restoran sebelum ia menyodorkan buku menu padaku.

Aku menyebutkan menu-menu yang ingin kunikmati pada si pelayan. Pelayan wanita itu mengulang pesananku lalu pergi meninggalkan mejaku. Sambil menunggu pesanan makanan, aku pun membuka ponsel dan iseng-iseng membuka LINE Play. Hmm, cukup lumayan untuk membunuh waktu dan membunuh bunyi kruyuk-kryuk di perut, hehehe.

Tak berapa lama menu-menu itu datang, baik yang makanan maupun minuman. Karena sudah lapar, tanpa melirik kanan-kiri lagi aku langsung melahap semuanya satu per satu dengan penuh semangat. Hmm, makan ikan dori seperti ini membuat semangatku kembali! Semangat, Yunji! Ayo, lanjut makan lagi!

TOK TOK TOK!!!

TOK TOK TOK!!!

Dengan mulut yang masih penuh, aku menoleh ke sebelah kiriku yang merupakan dinding kaca.
Spontan aku terbatuk dan gelagapan mencari minumanku. Pria itu! Kenapa ia tahu aku ada disini? Oh tidak, aku pasti akan ditarik lagi ke dormnya…

Setelah merasa lebih baik, aku lanjut makan tanpa mempedulikan Myungsoo yang melihatku dari balik dinding kaca. Masa bodoh dengannya. Aku sudah memutuskan untuk tidak kembali karena sikapnya itu. Dasar pria menyebalkan!

TOK TOK TOK!!!

Ia terus mengetuk-ngetuk kaca itu sementara aku menikmati ikan dori-ku yang masih hangat.

Ketika beberapa saat kemudian aku minum, Myungsoo sudah duduk di hadapanku dengan tatapan ingin membunuhku. Pria ini tidak sadar bahwa kehadirannya telah merusak mood makanku ya? Apalagi ia datang tanpa penyamaran, membuat para Inspirit spontan berduyun-duyun memenuhi restoran dan berteriak-teriak menyebutkan namanya berulang kali. Hal ini membuat para pegawai restoran membentuk barikade sehingga daerah tempatku dan tempatnya berada menjadi daerah steril.

“Kenapa kau datang ke sini?” aku bertanya sambil tetap makan.

Myungsoo melipat kedua tangannya, “Aku mencarimu. Aku tidak habis pikir kenapa tiba-tiba dorm terasa sepi, tidak ada gerutuanmu lagi. Ternyata kau sudah pergi,”

“Bukan salahku aku pergi,” balasku singkat.

“Tapi kau tidak bertanggung-jawab, padahal kau sudah berjanji akan membersihkannya sampai bersih,”

Aku mengernyit, “Tapi kau membiarkanku kelaparan!” aku nyaris berteriak.

Myungsoo terdiam, ia tidak membalas perkataanku. Mungkin ia sedang berpikir karena sekarang giliran dahinya yang berkerut. Namun aku agak meragukannya sebab tatapannya mengarah pada makanan-makananku. Apa dia lapar juga?

Beberapa saat aku dan Myungsoo hanya diam di tempat masing-masing. Aku dengan makananku. Myungsoo dengan sikap dinginnya.

“Baiklah, maafkan aku karena aku menelantarkan makan siangmu. Kupikir aku keterlaluan juga.” katanya tiba-tiba. “Seharusnya aku lebih memperhatikan pegawaiku bukan?” ia nyengir memamerkan sederetan gigi putihnya kemudian lari cepat-cepat dari hadapanku. Sial, aku jadi tidak bisa memukulnya! Seenaknya saja ia mengatakan bahwa aku adalah pegawainya!

-..-

“Oh? Yunji-ya, kau sudah kembali?” suara Sungjong mengagetkanku saat aku meletakkan sepatu di samping rak sepatu dorm INFINITE. Aku lebih kaget lagi ketika pria itu tidak memanggilku dengan embel-embel -ssi, tapi langsung memanggilku dengan sebutan -ya. Sepertinya Sungjong anak yang ingin cepat akrab dengan semua orang ya.

“Iya, tadi aku makan siang sebentar di restoran dekat sini.” aku memungut pakaian-pakaian yang berserakan di lantai dan melemparnya ke keranjang baju kotor. “Kau sedang apa, Sungjong-ah?”

Dari dapur terdengar suara ketukan berirama. Suara ketukan antara pisau dapur dengan talenan. Sungjong menjawab sementara suara ketukan itu masih terdengar, “Aku mau masak cemilan, aku lapar. Kau mau juga?”

Aku menggeleng, “Tidak, aku masih kenyang. Kau buat saja untuk dirimu sendiri.” tidak ada jawaban dari Sungjong yang ada di dapur. Ah, omong-omong kemana si visual tidak tahu diri itu? Kenapa suaranya tidak terdengar lagi?

Iseng-iseng aku berjalan menuju kamarnya dan pintu kamar itu tidak terlalu rapat di tutup, masih ada celah sehingga aku bisa melihat Myungsoo yang tergeletak di atas ranjang dengan pulasnya. Ah, buat apa sih aku datang ke sini dan melihat pria sombong itu? Sudahlah, lebih baik aku kembali bekerja kemudian pergi ke rumah Siyoung Eonni. Lagipula pekerjaanku disini sedikit banyak sudah selesai.

“Sungjong-ah, aku pulang dulu ya? Pekerjaanku sudah beres,” ujarku sambil berjalan menuju rak sepatu.

Sungjong berseru dari dapur, “Oh, sudah mau pulang? Apakah besok kau akan kesini lagi, Yunji-ya?”

Oh tidak, ini salah satu jenis pertanyaan yang aku hindari. Apakah besok aku akan datang kesini dan menjadi pembantu Myungsoo lagi? “Y, ya… mungkin kalau ada waktu besok aku akan datang,”

“Baguslah… hati-hati dijalan, Yunji-ya!” seru Sungjong lagi.

Sementara aku hanya mengangguk lalu membuka pintu dorm dan pergi dari tempat itu. Hah… syukurlah aku cepat selesai. Kupastikan besok-besok aku tidak akan kesini lagi. Walaupun itu adalah Sungjong yang mengajakku sekali pun, aku tetap tidak mau. Sebab hidupku tidak akan kuhabiskan di dorm INFINITE saja.

Sesampainya di apartemen, aku mengempaskan diriku ke atas sofa yang empuk. Seluruh otot-ototku rasanya kaku dan pegal setelah membersihkan seluruh dorm INFINITE. Aku hanya bisa berharap besok-besok mereka menyewa pembantu baru, bukannya menyuruhku ke sana lagi. Lagipula aku tidak dibayar, hahaha…

Tiba-tiba ponselku berbunyi, menandakan ada sebuah pesan masuk. Dari siapa? Nomornya tidak terdaftar di phonebook-ku.

Hei, Nona Pengantar Jas. Kau kira bisa kabur seperti itu? Besok-besok kau harus datang kalau kupanggil. L.

Dari mana dia tahu nomor ponselku?!

-..-

TO BE CONTINUED – Next : YOU AND I Part 3