You AND I 20131222

YOU AND I Part 3 [THE KISS AND THE PROBLEM]

Author : Alicia Diana Teresa
Main Cast : Bang Yunji, Kim Myungsoo (L)
Genre : Fan fiction, romance, AU
Rate : PG15
Note : Ini nama manager INFINITEnya ngasal -_-v

“Yunji-ya, Hwang Joonha-ssi sudah menunggu,” ujar seorang rekan kerjaku dari celah pintu.

Aku buru-buru membawa notes dan bulpenku, “Ya, terima kasih. Aku segera ke sana,” setelah rekan kerja itu pergi, aku berjalan menuju ruang tunggu tamu di ujung koridor.

Kubuka pintu ruang tunggu dan mendapati seorang pria bermata sipit berpakaian semi formal menyambutku, “Selamat pagi, Bang Yunji-ssi,” ujar Hwang Joonha, klien-ku kali ini.

“Pagi, Hwang Joonha-ssi,” aku menyambut jabatan tangannya yang tegas.

Joonha membuka amplop cokelat yang ia bawa kemudian membiarkan foto-foto dari amplop itu berserakan di atas meja kaca. “Ini foto-foto ruangan apartemen yang ingin kami ubah interior-nya. Kami ingin semua ruangannya di ubah agar menimbulkan suasana yang menyegarkan bagi para anak asuh kami.”

Aku mengambil dua-tiga lembar foto di atas meja itu. Ini… sepertinya aku mengenal tata ruang apartemen ini… lalu keranjang baju kotornya, sofanya… jangan-jangan…

“Anak asuh?”

Joonha mengangguk, “Ini asrama tempat anggota boyband INFINITE tinggal, Yunji-ssi. Kau tentu tahu INFINITE kan?” pertanyaan yang ia ucapkan di akhir seolah ingin menguji sampai mana popularitas boyband itu di kalangan orang kantoran.

Spontan foto-foto apartemen itu jatuh dari tanganku ke lantai. Oh tidak… kenapa lagi-lagi harus INFINITE? Aku memijat-mijat pelipisku karena rasanya tiba-tiba terkena vertigo.

Setelah Hwang Joonha pulang dengan senyum bahagia dan foto-foto dorm INFINITE-nya, aku buru-buru pergi ke ruang tempat direktur utama perusahaan sekaligus sahabatku menyelesaikan proyek-proyeknya. “Yongdae, bisakah proyek ini di alihkan pada Yixing? Kau tahu kan, aku masih harus mengerjakan tiga proyek besar lainnya,” aku menyerbu Lee Yongdae dengan protes tanpa mengucapkan salam dan menghela napas tanda putus asa.

Lee Yongdae yang sedang bersibuk ria di balik Macbook-nya terkekeh melihatku frustasi seperti ini. Ia senang seolah-olah mendapat bahan gosip yang baru dan asyik, “Tidak bisa, Yunji-ya. Yixing juga punya pekerjaan yang lain dan kau sudah menyetujui permintaan dari Hwang Joonha sebelumnya. Jadi kerjakan apa yang sudah menjadi tanggung jawabmu. Jangan kabur hanya gara-gara proyek kali ini adalah dorm INFINITE, tempat tinggal si Myungsoo.”

“Ya, kau tahu darimana…?”

Yongdae terkekeh lagi, “Siyoung Nuna, hahaha…”

Oh iya, terkadang aku lupa bahwa Yongdae ini adalah sepupu Siyoung Eonni. Argh, Siyoung Eonni pasti bercerita pada Yongdae tentang diriku dan Myungsoo selengkap-lengkapnya seperti yang sudah kuceritakan.

“Yunji-ya, lebih baik kau pikirkan material-material yang akan dipakai untuk dorm INFINITE dan tiga proyek lainnya daripada terus protes seperti ini. Hush hush!” ujar Yongdae mengusirku dari ruangannya.

-..-

Ponselku tiba-tiba berbunyi saat aku baru keluar dari gedung kantor dan hendak membeli makan siang.

Suara pria yang menyebalkan itu menyerbu telingaku sebelum aku berkata apa pun, “Yunji-ya, cepat datang ke dorm sekarang juga!”

Aku mengernyitkan dahiku, “Ya! Sekarang sedang jam kantor! Kau pikir aku bisa bolos seenaknya saja seperti artis?”

Kim Myungsoo berdecak dari seberang sana, “Pokoknya datang sekarang.” Kemudian ia memutuskan sambungan teleponnya begitu saja. Apa-apaan sih?

Tapi akhirnya aku berada di perempatan jalan melewati orang-orang yang masih berlalu-lalang. Aah, di saat orang-orang duduk di belakang meja makan dan mulai mengisi perut, aku masih berada di dalam dorm kemudian membersihkan kamar Myungsoo. Aku melirik pada para pengunjung restoran yang asyik melahap makanan-makanan enak kemudian mengasihani hidupku yang terasa sial setelah bertemu dengan Myungsoo.

Ketika aku muncul di lobi gedung apartemen tempat dorm-nya berada, wajah Myungsoo sudah tertekuk, sepertinya ia sedang bad mood. “Kau ini lama sekali sih,” ujarnya sedingin es. Apa sekarang yang ada di hadapanku adalah L, bukan Myungsoo? Lalu tanpa membiarkan aku berbicara sepatah kata pun, pria itu langsung berjalan menuju lift sebelum memencet tombol ke atas.

Sebenarnya di saat seperti ini aku ingin mengeluarkan suara kemudian melancarkan aksi protesku pada Myungsoo tentang sikapnya yang tidak berperikemanusiaan sejak awal kami bertemu. Tapi entah kenapa ia terasa menyeramkan hari ini, punggungnya terlihat begitu menyedihkan.

Sampai di depan pintu dorm INFINITE, Myungsoo membuka pintunya dan masuk ke dalam. Aku menutup pintu, melepaskan sepatu sebelum melemparkan tas ke sofa. Sementara itu pria berambut hitam itu meninggalkanku dalam kebingungan dan masuk ke dalam kamarnya.

Apa yang akan kulakukan disini?

Semenit-dua menit aku berpikir. Ah, ada baiknya aku mulai membersihkan dorm daripada nanti ketika Myungsoo keluar dari kamarnya ia malah memarahiku. Jadi aku memutuskan untuk membereskan dapur yang penuh dengan alat-alat memasak yang kotor.

Seiring berjalannya waktu, dorm INFINITE jadi semakin bersih. Semua benda yang diletakkan sembarangan sudah kukembalikan ke tempatnya dan baju-baju kotor sudah kucuci.

Aku meregangkan sendi-sendiku sejenak sambil menoleh ke arah jam di dinding. Waktu sudah menunjukkan jam delapan malam… tapi belum ada seorang pun yang pulang selain Myungsoo. Bahkan tidak ada makanan yang pantas di atas meja makan. Apakah mereka selalu seperti ini? Kutinggalkan kemoceng di atas meja kopi di ruang tamu kemudian kuhampiri pintu kamar Myungsoo dan mengetuknya beberapa kali. Tapi tidak ada jawaban apa pun dari dalam. Aneh…

“Kim Myungsoo?” panggilku setengah berteriak. Sementara pikiran-pikiran liar mulai muncul di benakku. Jangan-jangan Myungsoo telah melompat dari jendela kamarnya? Jangan-jangan Myungsoo kabur? Jangan-jangan Myungsoo… aah, pikiran ini!

Di benakku muncul pikiran untuk membuka paksa pintu kamar Myungsoo (kalau tidak ingin dibilang mendobrak). Kulirik kiri-kananku, tidak ada siapa-siapa dan aku tidak mengenal siapa-siapa di sini, kecuali Myungsoo.

KLEK!

Ah, syukurlah pintu kamarnya tidak terkunci. Aku masuk ke dalam kamar itu, kamar yang gelap karena lampunya tidak dinyalakan. Kuraba-raba dinding kamar untuk menyalakan saklar lampu. Ketika sinar putih menerangi kamar Myungsoo, mataku mendapati Myungsoo terkapar di atas kasur dengan keringat membanjiri wajah pucatnya serta sebagian besar bagian tubuhnya.

“Kim Myungsoo-ssi! Apa kau baik-baik saja? Kau mendengarku?” aku menyentuh dahinya yang sangat panas. “Ya ampun! Kau demam tinggi!” Mungkin ini salah satu indikasi bahwa rusuknya mulai membaik atau mungkin… argh.

Aku mengubah posisi Myungsoo yang tengkurap sembarangan di atas kasurnya menjadi terlentang di pinggir kasur. Setelah memastikan Myungsoo tidak mengeluarkan hal yang aneh-aneh (misalnya muntah), aku mengambil topi, masker, dan jaket yang dapat menutupi identitas fisiknya kemudian membawanya turun ke lobi gedung apartemen dan masuk ke dalam taksi pertama yang menghampiri kami.

“Ajusshi, tolong bawa kami ke rumah sakit terdekat! Cepat!” aku menepuk-nepuk jok kursi supir lalu seketika itu juga taksinya melaju semaksimal mungkin.

Sesampainya di rumah sakit terdekat, Myungsoo masuk unit gawat darurat alias UGD. Selain Myungsoo, ada dua sampai tiga orang yang di rawat di bilik-bilik di samping Myungsoo serta empat sampai lima orang penunggu yang duduk di sudut dekat pintu masuk UGD. Untunglah orang-orang itu tidak ada yang menyadari kehadiran Myungsoo.

Dokter jaga yang bertugas datang tidak berapa lama. Dokter wanita itu memakai stetoskop dan dengan cekatan memeriksa Myungsoo. Setelah itu ia bertanya padaku, “Pasien ini benar Kim Myungsoo-ssi?”

Aku mengangguk mengiyakan sementara dokter Kang terus menanyakan beberapa hal yang ingin ia ketahui menyangkut kesehatan Myungsoo hari ini. Dokter Kang menyerahkan papan berjalan pada seorang perawat sebelum berkata, “Demam ini merupakan salah satu indikasi bahwa tulang rusuk Myungsoo mulai membaik. Namun selain itu Myungsoo juga kelelahan. Sepertinya dia tidak berhenti bekerja ya walau pun sedang sakit?” dokter ini tahu bahwa Myungsoo yang baru saja di periksanya adalah L si visual INFINITE.

“Setahu saya, dia beristirahat total dari pekerjaannya sebagai artis. Tapi saya tidak tahu tentang kegiatan yang dia lakukan ketika saya tidak datang ke apartemennya,”

“Hmm… kalau begitu biarkan saja Myungsoo beristirahat sebentar di sini. Saya permisi,” ujar dokter Kang sambil menyibakkan tirai dan meninggalkan kami berdua dalam bilik itu.

Sepeninggal dokter Kang, aku berdiri di sisi Myungsoo. Rasa iba muncul dalam dadaku melihat kondisi Myungsoo yang lemah seperti ini. Infus yang menancap di punggung tangan kirinya serta wajah yang masih pucat cukup memberitahu bahwa keadaannya butuh perhatian khusus.

Aku menghela napas sebelum mengatur rambut pria bermata sipit itu. “Kau sih suka marah-marah padaku. Sudah begitu tidak ramah pula. Lihat kan akhirnya kau kena karma? Hahaha… dan sekarang aku yang membawamu ke rumah sakit. Kau berutang budi padaku, tahu?”

Namun Myungsoo tidak menjawab apa pun, ia masih memejamkan matanya seraya bernapas dengan berat.

“Aku terpaksa menungguimu di sini… aku tidak tahu nomor ponsel Sunggyu Oppa. Aku juga tidak tahu nomor ponsel para anggota INFINITE yang lainnya. Tapi sebelum kita pergi, aku sempat meninggalkan sebuah catatan kecil di atas meja makan. Semoga saja mereka semua cepat kembali dan datang ke sini ya?”

Myungsoo tidak menjawabku lagi tapi ia menggeliat dan mengubah posisi tidurnya sebelum berkata, “…air… Aku haus.”

“T, tunggu sebentar! Aku beli air mineral dulu di kantin,” secepat kilat aku meninggalkan Myungsoo menuju kantin lalu membeli tiga botol air mineral sekaligus.

Sekembalinya ke bilik Myungsoo, ternyata sudah ada Sungyeol Oppa, Sungjong, dan Dongwoo Oppa di sana. Sungjong dengan baik hati menjelaskan pada Sungyeol Oppa dan Dongwoo Oppa mengenai diriku. Sebagai orang yang di besarkan dengan sopan santun, aku memberi salam pada kedua orang itu.

Lalu kusodorkan satu botol air mineral yang telah kubuka pada Myungsoo, “Ini air minumnya, minumlah pelan-pelan.” Sementara itu Dongwoo Oppa dan Sungjong membantu Myungsoo agar dapat minum dengan baik. Tapi sayangnya si Myungsoo itu malah tersedak.

“Ya! Kan sudah kubilang minumnya pelan-pelan. Airnya masih banyak. Lihat, masih ada dua botol lagi!”

Dari belakang, Sungjong menyodorkan sapu tangannya padaku, “Gunakan saja untuk Myungsoo hyung,” ujarnya di sertai dengan senyuman yang manis. Aduh, Sungjong… kamu boleh Nuna bawa pulang?

“Ah iya, kau sudah makan malam, Yunji-ya?” tanya Sungyeol Oppa setelah Myungsoo selesai minum dan aku selesai mengeringkan dagu serta leher Myungsoo yang basah.

Aku menggeleng, “Belum sempat. Apa kalian juga belum makan malam?”

Sungyeol Oppa berkata, “Iya… tadi kami terburu-buru ke sini sampai lupa membawa nasi kotak dari manager hyung,” ia cengengesan. Ah, maksudnya pasti dari Hwang Joonha. “Mau makan bersama, Yunji-ya?”

Sejenak aku melihat Dongwoo Oppa, Sungjong, dan Sungyeol Oppa secara bergantian, “Uh, oh… bagaimana dengan Myungsoo? Siapa yang akan menjaganya?”

“Tenang saja, Myungsoo tidak akan hilang kalau kita tinggal sebentar,” ujar Dongwoo Oppa sambil menarik tanganku menjauh dari bilik Myungsoo.

Baru dua langkah aku berjalan mengikuti Sungjong tapi tiba-tiba aku merasa tanganku ditarik oleh seseorang. Aku membalikkan badan dan mendapati Myungsoo mencengkram pergelangan tanganku erat-erat. “Jangan pergi…”

Hah?

“Kumohon, jangan pergi… jangan,”

Otakku masih tidak merespon. Myungsoo mengigau kan?

Aku melepaskan cengkraman tangan Myungsoo dari pergelangan tanganku, “Hei, jangan bercanda. Kau ini mengigau yang tidak-tidak saja. Sudah lepaskan, aku mau makan malam nih.”

Myungsoo membalasku dengan tatapan matanya yang seolah menembus jantungku. Oh gawat, aku tak dapat memalingkan wajahku darinya.

“…jangan pergi.”

Perlahan ia menarikku sampai tidak ada jarak yang memisahkan kami. Ucapannya telah menghipnotisku dan membuatku tidak menghiraukan pikiran rasionalku.

…bibir kami pun akhirnya bersatu.

Bibir Myungsoo yang panas menyapu bibirku dengan lembut… begitu manis.

Sialnya, para perawat dan dokter yang mengenali Dongwoo Oppa, Sungyeol Oppa, Sungjong, dan Myungsoo pun segera mengambil ponsel mereka lalu memfoto aku dan Myungsoo yang berciuman.

Tahu-tahu kudorong tubuh Myungsoo menjauhi diriku, “Hentikan!” kututup mulutku dengan kedua tanganku. “Oh tidak… apa yang telah kulakukan?” setelah berkata demikian, aku meraih tas-ku yang terletak di samping ranjang dan pergi dari rumah sakit itu sendirian tanpa menghiraukan Dongwoo Oppa yang berlari mengejarku.

Sepanjang jalan menuju rumah Siyoung Eonni, air mataku terus mengalir sehingga orang-orang melihatku. Aku tak peduli. Hal yang kupedulikan saat ini adalah bagaimana besok aku akan pergi ke kantor dan menjalani hidup setelahnya.

-..-

Suara sendok logam yang membentur lantai terdengar dari rumah bercat kuning pucat. Siyoung Eonni mengambil sendok itu kemudian meletakkanya di bak cuci piring. “Myungsoo menciummu?” kedua bola matanya yang bulat seolah akan keluar dan jatuh.

Aku mengangguk lemah sambil menghirup teh ginseng yang hangat.

“Ya ampun, Yunji-ya! Kau beruntung sekali! Kapan-kapan kenalkan aku pada teman-teman Myungsoo yang umurnya sepantaran denganku ya?” kedua bola mata Siyoung Eonni terlihat berbinar-binar.

“Eonni, aku serius! Aku tidak menyukai ini… dan besok foto-fotoku pasti akan ada di tabloid. Kemungkinan besar para sasaeng fans pun akan mulai menyerangku serta Myungsoo…”

Wanita berusia tiga puluh dua tahun itu kembali ke pantry untuk mengambil sendok yang baru, “Bagaimana kalau kau menginap saja di sini sampai beritanya reda? Di sini aku dan Yongdae bisa menjagamu secara bergantian.”

Aku menatap teh ginseng yang mulai mendingin itu dengan tatapan sedih, “Maaf merepotkanmu, Eonni…” Siyoung Eonni hanya tersenyum sambil menghabiskan potongan kue buatannya.

Esok paginya, sesuai dugaanku, berita-berita infotainmen dan website dipenuhi dengan fotoku berciuman dengan Myungsoo walaupun wajahku disensor. Hal itu membuat perasaanku semakin tertekan, membuatku menghindari televisi dan laptop selama beberapa hari.

Yongdae–yang datang ke rumah Siyoung Eonni bersama dengan Nami–mengusap puncak kepalaku, “Jangan panik. Selama kau ada bersama Siyoung Nuna, semua akan baik-baik saja,” ujarnya.

“Tapi kalau seperti ini aku jadi tidak bisa pergi bekerja, Yongdae. Masa aku mau terus bersembunyi dan tidak bekerja?”

Pria berambut blonde platinum itu menyandarkan tubuhnya ke sofa hitam dan terpekur sesaat. “Kau ini bodoh atau apa sih? Tentu saja keadaan ini tidak akan berlangsung selamanya, bodoh.” ia mengetuk keningku dengan keras.

“Ya! Sakit!”

“Cepat atau lambat… kau atau Myungsoo–atau mungkin agensinya Myungsoo akan bertindak,” Yongdae berdiri lalu pergi ke dapur, mungkin ia mau membuat kopi. “Sebab kudengar bulan depan INFINITE akan comeback. Tidak mungkin kan agensi mereka ingin masalah ini menempel terus seperti tahi lalat, yang ada mereka menggunakannya untuk menaikkan popularitas INFINITE.”

Aku tercekat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Yongdae. Digunakan untuk menaikkan popularitas INFINITE. Wajahku seolah-olah tertampar. Sebegitu licikkah dunia entertainmen? Menggunakan penderitaan orang lain untuk mendapatkan keuntungan.

Melihat aku yang semakin terlihat suram, Nami memberikan sebuah pukulan pelan di lengan Yongdae kemudian buru-buru berkata, “Tapi itu kan belum tentu. Tidak semua agensi selicik yang Yongdae pikirkan.” dari balik bantal sofa aku hanya mengangguk lemah, membayangkan Kim Myungsoo yang tak sudi berhubungan denganku lagi setelah INFINITE semakin terkenal.

Tunggu. Kenapa aku terdengar ketakutan begitu?

Kuusir jauh-jauh bayangan itu. Akulah yang tidak sudi berhubungan dengan Kim Myungsoo.

Kwon Nami mengubah posisi duduknya dengan satu kaki dilipat di sofa. Ia tampak memainkan rambut panjangnya beberapa saat. “Hei, Bang Yunji…”

“Apa?” ujarku masih dari balik bantal sofa.

“Sepupumu Jen akan datang ke Seoul kan?” tanya Nami.

Aku mengangguk mengiyakan. Jen Rusch adalah sepupu laki-lakiku dari pihak Ibu. Pekerjaannya sebagai desainer pencahayaan (lightning designer bahasa kerennya) menuntut ia untuk berpindah-pindah dari satu proyek ke proyek lain yang tersebar di seluruh dunia. Beberapa malam yang lalu Jen mengirimkan e-mail padaku yang mengatakan bahwa ia ingin mengunjungiku sekalian mengerjakan proyek baru di Incheon. Tentu saja kunjungan itu kusambut dengan baik karena sudah lebih dari lima tahun kami tidak bertemu. Yah, Jen jarang muncul di acara kumpul-kumpul keluarga karena tuntutan pekerjaannya juga.

Nami terlihat begitu tertarik mengenai perihal kedatangan Jen. Wanita yang lupa bahwa ia telah bertunangan melonjak-lonjak kegirangan, “Asyik! Bagaimana kalau kita pergi ke restoran bersama besok malam?”

“Astaga, Kwon Nami. Kau harus ingat kalau kau sudah punya Oh Sehun,” sahut Yongdae yang keluar dari dapur dengan secangkir kopi dalam genggamannya.

“Memangnya aku bilang ingin pergi berdua? Tidak kan?” dan setelah itu mereka berdua adu mulut.

Aku melirik ponselku yang bergetar, ada satu SMS yang baru masuk. Ah, ternyata dari Kim Myungsoo.

Kau dimana?

Bisa-bisanya ia mengirim SMS padaku setelah… setelah… setelah ia menciumku dan menimbulkan skandal! Kuputuskan untuk tidak membalas SMS itu dan membiarkan hari-hariku selanjutnya diiringi dengan puluhan SMS serta misscall dari Myungsoo.

Oh rasanya aku ingin tenggelam saja.

-..-

Beberapa hari kemudian, Nami, Sehun, Jen, dan aku bertemu di sebuah restoran Italia yang ramai. Nami sudah pernah bertemu Jen dua kali jadi ia tidak terlihat canggung saat berbicara dengan Francis.

Namun berbeda dengan Nami, tunangannya yang bernama Oh Sehun baru kali ini bertemu Jen. Mereka saling berjabat tangan sebelum masuk dalam sebuah perbincangan saham atau reksadana–yang mana pun itulah. Tapi aku merasa lega sebab Sehun tidak terlihat segan pada Jen, begitu juga sebaliknya.

“…seperti itu! Bisa kalian bayangkan tidak? Semua rekan kerjaku yang bekerja di lantai itu sangat terharu sampai yang wanita menangis semua.” ujar Sehun sebelum memasukkan segumpal fetuccini ke dalam mulutnya.

Aku menyandarkan tubuhku ke kursi mewah yang empuk, “Romantis sekali. Lalu apakah mereka sudah memberikan undangan pernikahan untuk kalian?”

Sehun menggeleng, “Hmm, belum.” jawabnya.

“Bagaimana kalau kalian yang memberikan undangan pernikahan ke mereka?” usul Jen sambil tersenyum.

“Astaga, kami belum sesiap itu, Jen!” Nami menyapukan tangannya di udara sementara wajahnya merona merah karena malu.

“Cepatlah menikah! Aku ingin punya keponakan yang tampan dan cantik, hehehe,” ujarku.

Salah satu ujung bibir Sehun naik sehingga ia tampak menyeringai, “Tentu saja… tentu saja. Bersabarlah, Yunji. Keinginanmu akan terwujud tak lama lagi.”

Kedua bola mataku dan Jen membulat, “EEHHH??!”

“Apa maksudmu? Nami! Sehun!” tapi yang ditanya hanya tertawa tak mau menjawab pertanyaan lebih lanjut. Ah, gila! Aku jadi penasaran. Awas kau, Kwon Nami!

“Bang Yunji?”

Aku mendengar Nami terkesiap setelah melihat ke asal suara yang memanggilku. Ada apa? Kenapa Nami sampai sebegitu kagetnya?

Kemudian aku memutar tubuhku dan melihat sosok yang paling ingin kulenyapkan dari dunia ini.

“Kim Myungsoo…”

-..-

TO BE CONTINUED – NEXT : YOU AND I Part 4