You AND I 20131222

YOU AND I Part 4 [YOU…]

Author : Alicia Diana Teresa
Main Cast : Bang Yunji, Kim Myungsoo (L)
Genre : Fan fiction, romance, AU
Rate : PG15

Inspired by The Piano Player (Maksim Mrvica’s album)

“Kim Myungsoo…”

Selama beberapa menit aku dan Kim Myungsoo hanya terpaku di tempat masing-masing, tak menduga bahwa kami akan bertemu di sebuah restoran yang ramai seperti restoran ini.

“Bang Yunji…”

Aku menatap nanar pria berkulit pucat di hadapanku yang berdiri canggung. Sialnya kedua bola matanya yang hitam legam balas menatapku hingga membuatku nyaris tak sadar dimana aku berdiri.

Seseorang menarik ujung kemeja yang kukenakan dan membawaku kembali ke restoran. “Yunji… kau tidak apa-apa?” tanya Kwon Nami dengan nada khawatir.

Menyadari bahwa sebagian pengunjung restoran itu mengamati kami, aku pun bergegas meraih tasku lalu lari keluar restoran tanpa menghiraukan Jen yang menyusulku.

“Yunji! Yunji! Bang Yunji!” suara bass Jen yang keras membuat beberapa orang di jalanan melihat kami. “Yunji, tunggu aku!”

Tanpa kusadari tetes demi tetes air mataku mengalir saat Jen menarik lenganku. “Yunji, kau tidak apa-apa?”

Aku menggeleng lemah sambil menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan air mata yang tidak bisa berhenti.

“Tadi itu siapa? Kenapa kau lari dan meninggalkan kami semua?”

Aku menggeleng lagi sebelum menyeka hidungku yang berair.

Melihat aku yang kekeuh tak menjawab, Jen menghela napas panjang dan melepaskan cengkramannya dari kedua lenganku. Ia menunggu beberapa saat tapi aku tak kunjung berkata apa-apa.

“Yunji, ada apa? Aku tak pernah melihatmu seperti ini. Yunji yang aku kenal adalah wanita ceria yang penuh semangat dan bisa mengatasi masalahnya sendiri. Bukan wanita dengan air mata banjir seperti ini,” Jen menuntunku menuju sebuah bangku kosong di taman yang sepi.

Kuseka hidungku untuk kesekian kalinya, “Jen… tadi itu Kim Myungsoo.” ujarku masih sambil sesegukkan. Kemudian aku menceritakan awal pertemuanku dengan Myungsoo pada Jen walau tak begitu detail.

Setelah aku selesai bercerita, aku menghela napas sambil menatap langit dengan tatapan kosong. Kenapa… kenapa perasaanku menjadi lebih rumit setelah bertemu dengan Kim Myungsoo?

“Sudahlah… jangan menangis, Yunji. Kau ini wanita yang kuat. Aku tahu kau bisa mengatasi masalah ini. Berpikirlah dengan jernih dan berdoa. Oke?” Jen menghapus air mataku dengan ibu jarinya sambil tersenyum padaku. Inilah hebatnya Jen. Ia bisa menenangkan dan meyakinkanku di saat aku sedang terpuruk. Aku beruntung punya sepupu seperti Jen. “Nah, sekarang tersenyumlah. Jangan tunjukkan wajah sedih itu padaku.”

Perlahan-lahan kutarik kedua sudut bibirku hingga membentuk sebuah senyuman.

“Nah, kalau begini kan cantik.”

Senyumanku semakin lebar dan aku pun memeluk Jen erat-erat seakan-akan tak ingin kehilangan dirinya.

-..-

Suatu malam setelah Jen menelponku dan memastikan bahwa aku baik-baik saja, aku dibawa oleh Kang Seungyoon, Yoo Hyewon, dan Ma Gyujin ke sebuah warung makanan di belakang gedung Kei Departement Store.

Kata Gyujin, warung ini selalu ramai oleh pengunjung dari pagi hingga jam tutupnya. Hyewon sangat menganjurkanku untuk makan di warung ini selagi ada promo karena mereka bertiga tahu aku sangat menyukai hal-hal bagus yang di diskon.

“Mari kita beralih ke berita selanjutnya. Baru-baru ini ada beberapa foto salah satu anggota boyband INFINITE, L, yang terlihat berciuman dengan seorang wanita.”

“Berciuman?”

Suara pembawa acara infotainmen di televisi membuatku tersedak kuah sup rumput laut. Cepat-cepat kuambil es teh-ku kemudian meminumnya.

Layar televisi menampilkan foto-fotoku berciuman dengan Kim Myungsoo yang buram. “Ini di rumah sakit, bukan?” tanya seorang pembawa acara yang lain.

Pembawa acara pertama mengangguk, “Ya. Lihat sendiri kan, ada dokter dan suster disana.” Kemudian studio acara infotainmen itu dipenuhi oleh kasak-kusuk para penonton. “Karena foto-foto yang mulai beredar di publik ini, para fans INFINITE mulai emosi dan mencari-cari identitas wanita yang mendapat ciuman keberuntungan dari L.”

“Ah begitukah?”

Pembawa acara itu mengangguk lagi kemudian ia terus berbicara, “Mari kita lihat liputan dari teman kita, Han Myungwon, yang sekarang berada di depan gedung Woollim Entertainment.” gambar di televisi pun berubah menjadi seorang reporter wanita yang berlatar belakang keramaian di halaman gedung agensi dimana INFINITE bernaung.

Spontan Yoo Hyewon mengentakkan botol bir-nya keras-keras di atas meja sambil berceloteh, “Ah, gila… lihat, sekarang public figure pun dengan mudahnya berciuman di tempat umum. Apakah ia tidak pernah diajarkan rasa tahu malu? Ah, aku prihatin dengan artis-artis zaman sekarang.” Aku tahu Hyewon sudah mulai mabuk tapi tetap saja celotehannya itu agak menusuk hatiku. Sebab wanita di berita itu kan aku…

“Sudah sukses dan terkenal sekarang malah main perempuan.” Dari sudut ruangan yang lain aku mendengar sekumpulan bibi-bibi mencibir. “Anak muda di zaman ini memang berbeda, sesekali harus diberi pelajaran!”

Aku merasa tertohok. Rasanya sup rumput laut ini terasa hambar di lidahku. Ocehan-ocehan dari Hyewon dan para bibi itu membuatku kehilangan selera makan untuk siang ini, bahkan aku mulai mual dan ingin muntah.

Kang Seungyoon mengubah posisi duduknya, “Kalau di lihat dari foto itu… sepertinya si L itu menarik si wanita.”

Hyewon memukul bagian belakang kepala Seungyoon, “Ya! Kaum laki-laki memang lemah dengan wanita! Pantas saja kalian banyak ditipu dan ditinggalkan oleh wanita-wanita.”

Seungyoon mengaduh kesakitan sambil mengusap-usap bagian kepalanya yang di pukul oleh Hyewon, “Astaga, Hyewon… kau ini kan wanita juga. Lagipula kita tidak bisa menghakimi sendiri seperti itu,” gerutunya. Sementara aku dan Gyujin hanya tersenyum geli melihat kedua orang yang mulai mabuk itu bertengkar.

“Sudahlah, kita tidak perlu mengurusi masalah gosip. Toh, bukan urusan kita, lagipula cepat atau lambat masalah ini pasti akan reda dengan sendirinya,” ujar Gyujin sebelum menghirup habis teh hangatnya. Dan kali ini aku hanya diam sambil mencoba menyembunyikan suatu perasaan aneh dalam dadaku.

Esok paginya, ponselku berdering sehingga membangunkanku dari tidur yang nyenyak. Kuusap wajahku beberapa kali sebelum melirik benda persegi panjang tipis yang tak berhenti bunyi itu. Ah, ya ampun… bisakah ponsel itu berhenti berdering? Walaupun dering ponsel mengeluarkan suara Bill Kaulitz, tapi ini kan hari Minggu! Dan aku berhak menikmati waktu tidurku lebih lama. Uugh!

Namun akhirnya aku meraih ponsel dari nakas lalu menekan tombol jawab tanpa melihat identitas penelpon.

“Umm, yeoboseyo?”

“Yeoboseyo? Yunji?”

Mendengar suaranya spontan jantungku seolah-olah berhenti berdetak.

Setelah membuat skandal, ia masih memiliki keberanian untuk menghubungiku? Dasar pria bermuka tebal!
Buru-buru kuputuskan sambungan itu. Aku kan sudah bilang kalau aku tidak mau berhubungan lagi dengan Kim Myungsoo.

Dua menit kemudian, suara Bill Kaulitz terdengar lagi. Ketika kulihat layar ponselku, namanya terpampang jelas di sana. Argh, pria ini! Kuubah mode ponsel itu menjadi mode silent sebelum aku pergi mandi kemudian membuat pancake saus cokelat sebagai menu brunch-ku.

Bahkan setelah aku selesai makan, pria itu masih terus menghubungiku! Aku ingin tahu kepala pria itu terbuat dari apa. Keras kepala sekali. Dalam hati aku merasa ada untungnya juga aku tinggal sendiri. Kalau tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada ponselku yang terus berbunyi ini.

Setelah melakukan miss call sebanyak dua puluh satu kali, akhirnya aku terpaksa mengangkat telepon dari Kim Myungsoo. Aku tidak mau membiarkan ponsel ini berbunyi dan membuat para tetangga mendatangiku. Lagipula apa sih mau Kim Myungsoo meneleponku terus? Perasaan penasaran, emosi, dan sedih berkecamuk dalam dadaku.

Jari telunjukku menggeser layar ponsel, “Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo? Bang Yunji? Ini… ini Kim Myungsoo.” Suaranya terdengar parau di telingaku.

“Hmm…”

Myungsoo berdesah gelisah di seberang sana, “Apakah ini tersambung padamu? Apakah kau mendengarkannya, Yunji?”

Aku bersandar di kusen jendela sambil menunggu apa yang akan Myungsoo katakan selanjutnya.

“Kumohon jangan emosi dulu sebelum mendengarkan apa yang akan kukatakan padamu.” Ia menghirup napas sebanyak-banyaknya. “Pertama-tama… maafkan aku.” kemudian ada jeda lama sebelum ia melanjutkan telepon itu.

“Aku sungguh menyesal atas apa yang terjadi tiga minggu lalu di rumah sakit. Saat aku menarik tanganmu dan mendekatkan dirimu padaku… aku benar-benar tak sadar–tapi Sungjong dan Dongwoo hyung memberitahuku. Maaf karena aku telah menyeretmu dalam sebuah skandal dan membuat hidupmu tak lagi nyaman. Aku…”

Ia terus berbicara sedangkan aku hanya menatap ruas-ruas jalan di bawah tanpa arti. Suaranya menyusup masuk dari telinga kiri ke telinga kananku, alias tidak terlalu kudengarkan dengan seksama. Tetapi desahannya, hembusan napasnya, dan bayangan wajahnya memenuhi kepalaku. Oh, aku pasti sudah gila.

“Yunji, sesungguhnya aku…” Myungsoo mulai berkata lagi. “Aku… aku su, eh, aku ingin memberitahu suatu hal padamu. Agensiku akan mengadakan konferensi pers mengenai kejadian itu tanggal 14 April di sebuah hotel. Disana aku akan memberikan penjelasan bahwa sebenarnya kejadian itu bukan apa-apa, hanya kecelakaan.”

Lalu hening yang lama. Aku tidak memberikan reaksi apa pun tapi kenapa dadaku terasa sesak?

“Yunji…” ia menyebutkan namaku dengan lembut, seolah-olah takut kehilanganku. “Kuharap kau mendengarnya. Umm, yah, kalau tidak mendengarnya juga tidak apa-apa. Kupikir… apa yang telah kukatakan padamu ini memalukan. Hanya itu yang ingin kusampaikan padamu. Semoga harimu menyenangkan,” Sambungan itu terputus setelah ia berkata demikian. Tak ada lagi kata-kata yang tersisa. Bahkan aku tak sempat mengucapkan sepatah katapun padanya.

Aku meletakkan ponselku kembali di atas nakas sebelum mengambil cardigan dan keluar rumah menuju sebuah taman. Beberapa saat aku hanya berdiam diri dan mengulang-ulang perkataan Myungsoo tadi dalam benakku. Konferensi pers… bahwa kejadian itu bukan apa-apa.

Tanpa kusadari lagi-lagi tetes demi tetes air mata mengalir membasahi wajahku.

“Hei, kenapa menangis?”

Suara seseorang menghentikan tangisku sementara. Aku mengangkat wajahku dan mendapati seorang pria yang beberapa tahun lebih tua di atasku menatapku khawatir.

“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya lagi sambil mensejajarkan pandangannya dengan pandanganku. Aku mengusap air mata yang tersisa di wajah tanpa menjawab pertanyaan pria itu. Siapa dia sampai aku harus menjawab pertanyaannya. “Aku bukan orang jahat kok, tenang saja.” ujar pria itu seakan tahu apa yang ada di benakku. Ia mengulurkan tangannya sambil tersenyum, “Perkenalkan, aku Lee Jonghyun. Kamu?”

-..-

Kwon Nami menghirup seperempat gelas latte sebelum memasukkan sepotong Smoked Beef ke dalam mulutnya. “Kau harus banyak makan supaya kebahagiaanmu meningkat,” katanya sebelum mengunyah sepotong Smoked Beef lainnya.

“Kalau aku banyak makan sepertimu bisa-bisa berat badanku naik lima kilogram dalam seminggu!”
Wanita berlesung pipi itu menghirup latte-nya lagi dan mengalihkan pembicaraan, “Jadi… bagaimana kabarmu dan Kim Myungsoo?”

Aku menghela napas sambil mengamati orang-orang yang berlalu-lalang di luar kafe, “Hopeless. Woollim Entertainment akan mengadakan konferensi pers mengenai skandal itu tanggal 14 April. Myungsoo akan mengatakan bahwa kejadian itu hanya kecelakaan, bukan apa-apa.” garis bawah untuk kata bukan apa-apa. “Myungsoo menelponku dua hari yang lalu.”

Kedua bola mata Nami membulat, “Benarkah?”

Aku mengangguk meyakinkan Nami tentang perkataanku sebelumnya. “Tapi aku hanya diam mendengarkannya berbicara.”

“Astaga, Bang Yunji…”

“Astaga apa?”

“Kupikir sebenarnya Kim Myungsoo menyukaimu.”

Kali ini kedua bola mataku yang membulat, “Tidak mungkin! Kau gila, Kwon Nami?” aku memukul permukaan meja karena terkejut, membuat beberapa pengunjung kafe lainnya menoleh pada kami. “Oh maaf…”

Nami terkikik kecil, “Santai saja, Yunji. Omong-omong kau tahu apa yang aku dan Sehun rahasiakan dari kau dan Jen waktu itu?” ah, ia mengalihkan pembicaraan lagi sekaligus membuat rasa penasaranku kembali muncul.

“Apa? Apa?”

“Jangan bilang pada Sehun kalau kau mengetahuinya dariku.” Nami tersenyum jahil sebelum menghirup latte-nya sampai habis dan berbisik. “Aku dan Sehun akan memiliki anak.”

“YANG BENAR? Ups,” teriakanku sekali lagi membuat para pengunjung memperhatikan kami.
Nami mengangguk mengiyakan, “Iya. Makanya bulan depan kami berencana menikah.”

Aku menggelengkan kepalaku sambil memotong Cheese cake-ku, “Kalian berdua gila, lebih gila dariku.” namun Nami hanya terkekeh kemudian memeriksa ponselnya, siapa tahu Sehun menelepon.

“Hei, Yunji. Aku harus pergi. Sehun ingin bertemu denganku,” kata gadis berambut cokelat itu sementara kedua tangannya sibuk membereskan meja yang kotor dan barang-barangnya yang berserakan di atas meja. “Tenang saja, hari ini kau kutraktir. Duluan ya.” Setelah itu ia beranjak dari sofa mini lalu menuju kasir, meninggalkanku sendirian.

Ekor mataku menangkap sosok Nami yang cerita keluar dari kafe kemudian berjalan ke seberang jalanan sambil bersenandung kecil. Dalam hatiku, ada perasaan iri pada kehidupan Nami. Ia bertemu Sehun, beruntungnya keduanya saling menyukai. Tak lama berkenalan, mereka pun resmi menjadi sepasang kekasih. Lulus SMA, mereka masih berhubungan hingga kini mereka akan menjadi sepasang orang tua walau belum menikah.

Sekali lagi aku menghela napas panjang. Entah sudah berapa kali aku seperti ini dalam beberapa hari terakhir. Mungkin sebenarnya kalian sebal melihatku galau terus ya? Mungkin kalian mengharapkan cerita yang lebih seru. Hah…

…maafkan aku.

“Lho, sedang apa kau disini?” sebuah suara menghentikan perasaan sedihku sesaat. Kuangkat wajahku dan mendapat sosok Jonghyun dengan senyumnya berdiri di samping mejaku. “Boleh aku duduk?” ia menunjuk pada kursi yang tadi diduduki oleh Nami.

Aku mengangguk memperbolehkan. “Umm, Jonghyun… terima kasih untuk yang kemarin-kemarin itu.”

Pria berkulit putih itu memiringkan salah satu sudut bibirnya, “Tidak apa-apa. Gadis yang sedang menangis memang seharusnya dihibur. Mereka tak cocok dengan air mata di wajah. Lebih cocok dengan senyuman manis seperti kembang gula.”

Astaga, pria ini…

“Kau ini tipe pria perayu ya, Jonghyun?” Aku terkekeh mendengar perkataannya yang terdengar seperti ingin merayuku.

“Bukan,” Jonghyun tertawa. “Aku hanya menyuarakan isi pikiranku saja. Lagipula itu kenyataan kok… kau lebih cocok tersenyum, Yunji.” aku tersipu hingga aku yakin wajahku terasa panas. “Omong-omong apa kau sudah merasa lebih baik? Tak sedih lagi, maksudku.”

“Tidak juga… tapi berkat kau, setidaknya aku sedikit terhibur.” Aku terkekeh sebelum menghirup sedikit Earl Grey hangat. “Sedang apa kau disini, Jonghyun?”

Jonghyun memanggil seorang pelayan sebelum menatapku lagi, “Oh, aku sedang janjian dengan seorang teman. Tapi sepertinya aku datang terlalu cepat,” ia melirik jam tangannya yang mengkilat yang melingkar di pergelangan tangannya. “Kau sendiri?”

“Tadi aku bersama seorang teman dan biasalah… girl’s time.”

Pelayan datang dengan membawa papan menu dan kertas untuk mencatat pesanan Jonghyun. “Apa kau mau pesan lagi, Yunji?”

“Tidak, tidak. Terima kasih…” ucapku lirih.

Selesai mengulang pesanan Jonghyun, pelayan itu pergi meninggalkan kami kembali berdua.

Selama beberapa saat, hanya keheningan yang terisi di antara kami. Aku tak tahu harus berbicara apa pada Jonghyun. Sedangkan pria itu terlihat sedang sibuk berpikir. Kami baru berkenalan dua hari yang lalu dan… suasana ini sangat canggung.

“Bang Yunji, boleh aku tanya beberapa hal mengenai dirimu?” Untunglah Jonghyun berinisiatif membuka pembicaraan. Fiuh…

“Boleh.”

Jonghyun menyandarkan tubuhnya yang besar di sofa yang empuk, “Jadi kau kuliah dimana?”

“Oh, aku sudah lulus kuliah… kira-kira dua sampai tiga tahun yang lalu.” Wah, zaman sekarang masih ada yang mengira aku anak kuliahan. Apakah aku terlihat awet muda? Hahaha. “Sekarang aku sudah bekerja.”

Mendengar jawabanku, Jonghyun gelagapan. Mungkin ia tak mengira aku sudah bekerja dan merasa bersalah karena telah menganggapku sebagai anak kuliahan. “Oh maaf… kukira kau masih kuliah.”

“Tidak apa-apa. Aku malah senang, jadi kelihatan awet muda kan?” Aku menghirup Earl Grey lagi. “Bagaimana denganmu, Jonghyun? Sudah bekerja jugakah?”

Pria berhidung mancung itu mengangguk tegas, “Ya, di sebuah stasiun televisi. Kau sendiri? Dimana kau bekerja?”

Selama kurang lebih satu jam, Jonghyun dan aku asyik bertanya jawab mengenai diri masing-masing. Aku baru tahu ternyata Jonghyun satu SMA denganku tapi beda angkatan, ia lebih tua tiga tahun dariku. Pantas saja aku tidak pernah melihatnya di sekolah. Aku juga baru tahu ternyata ia pernah menjadi bintang iklan sebuah toko perawatan wajah di Korea Selatan, tapi karena aku jarang menonton televisi maka aku tak pernah melihatnya.

Kemudian saat kami masih tenggelam dalam sesi tanya jawab, ponsel Jonghyun berdering. “Yeoboseyo?”
Aku menunggu dan menduga, temannya pasti sudah datang.

Jonghyun menjejalkan ponselnya ke dalam saku jeans sebelum mengalihkan pandangannya padaku, “Tadi itu temanku. Dia sudah berada di sekitar sini.” Ia kembali mengumbar senyuman.

“Oh baiklah, aku juga harus pergi.” Aku meraih gelas Earl Grey yang sudah kosong seraya bangkit berdiri diikuti oleh pria itu. “Terima kasih atas obrolan yang menyenangkannya, Jonghyun.”

“Justru seharusnya aku yang berterima kasih, Yunji. Kau telah berbaik hati meluangkan waktu menemaniku menunggu temanku.” Aku hanya tersenyum tipis dan melambaikan tangan yang mengisyaratkan “Oh, tak perlu repot-repot”. Kemudian pria yang mengenakan kemeja berwarna biru langit itu pun pergi menghampiri temannya yang sudah berada di pintu kafe.

Di luar kafe, angin berhembus dengan kencang. Rupanya matahari telah pergi diusir oleh awan-awan sehingga sekarang langit terlihat mendung. Aku berhenti di tengah trotoar, ingin mengambil payung lipatku. Tapi, oh sial, semalam payung itu baru kucuci dan kujemur di balkon. Ya ampun, aku harus cepat kalau tak ingin basah kuyup! Semoga hujan baru turun saat aku sampai di rumah Siyoung Eonni.

Angin yang berhembus makin kencang memperlambat langkahku, secara aku berjalan melawan angin. Orang-orang yang masih berlalu lalang di sekitarku sudah siap dengan jas hujan menempel di tubuh mereka, sedangkan yang lain mengenakan payung. Jika hujan turun sekarang, mungkin besok aku tidak bisa pergi bekerja. Padahal rencanaku aku ingin kembali ke aktivitasku seperti biasa mulai besok.
Ketika aku berada di halte bus, rintik-rintik hujan mulai membasahi bumi dan membuat aroma tanah yang akrab merasuki hidungku. Oh bagus, aku terjebak di halte bus.

Sementara itu kuperhatikan orang-orang yang kukira senasib denganku, tak membawa payung ataupun jas hujan. Ada dua wanita dan seorang pria berdiri berjajar di belakangku. Dua wanita itu terlihat seperti baru pulang dari tempat karaoke sedangkan si pria terlihat misterius dengan topi hitam, kacamata hitam, dan jas tebal hitamnya.

Aku melirik pria itu sambil berhati-hati. Siapa tahu dia adalah penjahat yang selama ini dikejar-kejar polisi atau pembunuh yang baru-baru ini melakukan aksinya di Seoul. Ah, membayangkannya saja sudah membuat bulu kudukku merinding.

Celakanya, pria itu menyadari bahwa aku tengah mengamatinya. Ia pun balas menatapku sebelum mengamatiku dari ujung kepala sampai ujung kaki, seolah-olah ada yang salah dengan diriku. Bertepatan dengan hal itu, sebuah bus datang. Dua wanita tadi masuk ke dalam bus meninggalkanku bersama pria mencurigakan itu.

Sekarang apa yang harus kulakukan? Lari dari halte dan kehujanan? Atau tetap bertahan di halte bersama pria menyeramkan ini?

Mulutku komat-kamit mengucapkan doa agar pria ini tidak menyerangku. Bagaimanapun, aku tidak sekaya yang dia kira. Dandananku tidak menor-menor amat. Aku tidak memiliki barang berharga dalam tasku, kecuali ponsel dan tab, tentu saja.

Saat pria itu berdiri (ia masih tetap menatapku dari balik kacamata hitamnya), tanpa sadar aku mundur selangkah. Kemudian pria itu berjalan ke hadapanku, membuatku mundur beberapa langkah sebelum kusadari bahwa aku sudah kehujanan–pakaian yang kukenakan basah, luar dan dalam.

“M, maaf! Tolong jangan dekati aku! Aku tak punya barang berharga!”

Namun pria itu tidak mengacuhkan teriakan dari mulutku yang sudah gemetar. Ia malah mengulurkan tangannya sementara aku memejamkan kedua mataku dan menyerahkan segala sesuatunya pada Tuhan.

“Apa yang kau lakukan?”

Suara pria yang tak asing membuat napasku berhenti beberapa detik sebelum aku membuka kedua mataku, mendapati Jonghyun di bawah naungan payungnya mencengkram tangan pria mencurigakan itu.
Jonghyun mengalihkan tatapannya padaku, “Yunji kau tidak apa-apa?” Ia memayungiku sambil mendorongku dalam pelukannya.

Pria bertopi hitam itu melepaskan kacamatanya tepat ketika sudut mataku menangkap sosoknya dengan lebih jelas.

“Jadi sekarang kau bersama pria ini, Yunji?” Myungsoo membuka suaranya yang terdengar parau, berbeda sekali dengan suara Myungsoo yang kuingat.

“Kau siapa?” balas Jonghyun sambil melindungiku protektif.

Myungsoo memamerkan senyum palsunya pada Jonghyun, “Aku teman Bang Yunji dan aku ingin berbicara dengannya. Sekarang. Empat mata,” kedua mata hitam pria itu berkilat-kilat tak suka. Bahkan tanpa kusadari kini salah satu lengannya mencengkram lenganku erat-erat, seolah-olah aku adalah kekasihnya yang direbut oleh pria lain. Cih.

“Lepaskan! Aku tidak ingin berbicara denganmu, Myungsoo!”

Ucapanku membuat kedua bola mata hitam itu membulat dan menghunus tajam seperti katana. “Aku ingin bicara,” kata Myungsoo yang memberi penekanan di setiap kata.

“Kenapa kau keras kepala seperti ini? Aku sudah bilang, aku tidak ingin bicara! Lepaskan!” Aku meronta-ronta dan berusaha melepaskan cengkraman Myungsoo. Tapi susah sekali. Myungsoo malah memberikan sorot mata yang… entahlah, mungkin aku salah melihatnya. “Kim Myungsoo, lepaskan aku…”

Sudut-sudut rahang pria berkulit pucat itu mengeras, “Bang Yunji…” kedua matanya menyipit, memandangku dengan tatapan penuh luka. Oh, kumohon jangan tatap aku seperti itu… “Kau… sebegitu bencikah kau padaku?”

Untuk kesekian kalinya panas menyengat wajah hingga membakar pembuluh kapiler dalam kedua bola mataku. Jangan menangis, Yunji. Jangan menangis, apalagi di hadapan Kim Myungsoo, aku menguatkan diri.

“Bang Yunji!”

Aku berusaha melepaskan cengkramannnya dari lenganku, “Sudahlah, Myungsoo. Hentikan… tak ada gunanya lagi kau bersikeras padaku. Toh…” leherku tercekat. “…kejadian itu bukan apa-apa, seperti yang agensimu katakan.” Jangan menangis, Bang Yunji. “Sekarang lepaskan aku, Myungsoo.”

Aku pergi dari halte terkutuk itu tanpa menghiraukan tanggapan Myungsoo dan Jonghyun yang sedari tadi hanya menonton.

Saat ini…

…aku hanya ingin sendiri. Meratapi perasaan serta diriku yang terlihat begitu menyedihkan di bawah guyuran hujan.

-..-

Siyoung Eonni duduk di belakang tumpukan buku yang berserakan di atas meja makan. Ia menaikkan sebelah alisnya ketika sibuk membolak-balikkan halaman buku-buku tersebut. Untuk sejenak diam-diam aku mengamati sosok Eonni yang menjadi temanku sejak sepuluh tahun yang lalu. Kemudian kembali ke posisi semula : menelungkup di atas meja makan seperti baru hangover efek minum-minum sampai pagi.

“Aigoo, aigoo… hari ini kau terlihat jauh lebih menyedihkan,” ujar Siyoung Eonni. “Pasti gara-gara Kim Myungsoo lagi kan? Aku tahu itu.” Wanita berambut hitam panjang itu menghirup teh herbalnya sementara aku mulai membuka-buka sebuah buku tua dengan malas.

“Aku bertemu dengannya seminggu yang lalu.”

Siyoung Eonni menutup buku yang ia baca dan mengalihkan perhatiannya padaku. “Benarkah? Dimana?”

“Di halte setelah aku bertemu dengan Kwon Nami.”

“Ceritakan padaku apa yang terjadi! Kok dia bisa menemuimu seperti itu?”

Kutaro sebuah buku bersampul cokelat di sembarang tempat sebelum aku menerawang kemudian menceritakan apa yang terjadi di halte itu, bahkan nama Lee Jonghyun pun kusebut.

Wanita dalam balutan blus berwarna pastel itu menyandarkan dirinya sambil memainkan sebatang pensil kayu, “Kasihan Kim Myungsoo… kau sadar kan, tindakan-tindakanmu itu sedikit-banyak telah melukai hatinya, bahkan harga dirinya?” Aku hanya diam termenung sambil memutar kejadian di halte itu di kepalaku untuk kesepuluh kalinya. “Nasihatku sih, sebaiknya kau bicara baik-baik pada Kim Myungsoo. Katakan kalau kau sudah tak mau lagi berhubungan dengannya. Lupakan aku dan hiduplah dengan baik, katakan saja seperti itu.”

“Tidak mau… aku…” kata-kataku tenggelam di balik sweater abu-abu yang kukenakan.

Tangan Siyoung Eonni menyentuh puncak kepalaku lalu mengusap-usapnya dengan lembut. “Coba kau introspeksi diri, Yunji,” ujar Eonni sebelum meninggalkanku sendirian di ruang makan.

Sore hari setelah menerima saran-saran dan kata-kata semangat dari Siyoung Eonni, aku berjalan tanpa tujuan. Angin berhembus kencang, membuat daun-daun berguguran sehingga aku baru sadar bahwa musim telah berganti ke musim gugur. Bahkan daun-daun pohon momiji telah berubah warna menjadi kemerahan. Toko-toko pakaian mulai memajang poster diskon khusus untuk musim gugur sampai tujuh puluh persen.

Kakiku bergerak sendiri memasuki sebuah butik yang menjadi tempat langgananku membeli pakaian. Aku mengambil dan mencoba beberapa potong atasan serta gaun sebelum membawanya ke kasir. Ketika aku keluar dari butik itu, lampu-lampu pun menghiasi kota menggantikan sinar matahari.

Hmm, sore-sore begini enak pergi kemana ya?

Sauna? Ah tidak, tidak. Bisa-bisa ada orang yang mengenali wajahku.

Karena tak tahu harus pergi kemana, kakiku membawaku lagi berkeliling kota. Dimana warna pakaian dan aksesoris mulai di dominasi oleh warna gelap.

Tanpa sadar aku berdiri di depan gedung dorm INFINITE. Kenapa aku kesini?

Hatiku mencelos padahal aku baru menginjakkan kaki di halaman depan gedung. Aku tahu aku harus pergi supaya Myungsoo tak bertemu denganku. Tapi kaki ini berkhianat. Kaki ini tetap melangkah maju memasukki gedung dorm INFINITE dan kini jantungku berdetak kencang tak karuan seolah-olah bom waktu akan meledak di dalamnya.

Aku membiarkan tanganku memencet tombol naik di lift kemudian memencet tombol nomor lantai tempat dorm INFINITE berada. Oh tidak, aku ngapain sih? Seperti pencuri aku mengendap-endap di lorong yang kosong. Aku jadi teringat ketika aku dan Myungsoo bertemu untuk pertama kalinya… aku menyikut tulang rusuknya, hahaha. Setelah itu kami bertengkar sampai akhirnya aku mengalah dan mau membantunya membereskan dorm serta pekerjaannya sedikit demi sedikit.

Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar mengadu lantai berkarpet merah marun di lorong. Jantungku yang sudah tenang kembali berdetak kencang. Jangan sampai… ooh, untunglah itu hanya tetangga. Aku menghela napas lega dan memandang pintu dorm INFINITE dengan tatapan sendu. Biasanya kalau jam segini aku pasti sedang melempar baju-baju yang berserakan ke keranjang sementara Myungsoo asyik mengurung diri di dalam kamarnya. Hah.

Tidak bisa… ingatanku tentang dirinya disini terlalu banyak.

Aku menghela napas sekali lagi sebelum keluar dari gedung dorm.

-..-

Beberapa hari kemudian, Siyoung Eonni memintaku menemaninya berbelanja di sebuah department store di pusat kota yang sedang diskon. Karena pada hari itu aku tidak memiliki jadwal untuk mengunjungi proyek, aku langsung menyetujui permintaan Siyoung Eonni. Kebetulan aku juga butuh beberapa pakaian dan sepatu baru.

Kami janjian di bawah lampu lalu lintas yang terletak tepat di depan pintu masuk department store.

Ketika waktu menunjukkan pukul enam sore, Siyoung Eonni melambaikan tangannya dari jauh padaku yang berdiri di antara orang-orang yang ingin menyebrang. “Sudah lama menunggu?” tanya wanita ber-stiletto cokelat hari ini.

“Untungnya sih belum. Aku juga baru sampai kok, subway penuh sekali tadi. Entah ada apa…” ujarku sambil menunggu Siyoung Eonni selesai mengatur napasnya. Setelah menjadi lebih tenang, Eonni menggaet lenganku dan kamipun masuk ke dalam department store yang ramai itu.

Gedung Kei Department Store terletak di salah satu ujung perempatan kota yang strategis yang terdiri atas sepuluh lantai. Lantai satu sampai lantai lima untuk toko serta lantai enam sampai lantai sepuluh untuk perkantoran. Siyoung Eonni menarikku ke area pakaian wanita di lantai dua sambil menceritakan klien-kliennya yang datang ke tokonya hari ini.

“Lalu… lalu… aku melihatnya, Yunji!” ujar Eonni dengan penuh semangat.

Kuraih sehelai blus berwarna biru pucat dari gantungan, “Melihat apa?”

Siyoung Eonni menepuk punggungku kencang-kencang, “Ya! Kau ini makhluk apa sih? Kau tidak melihat televisi semingguan ini ya?”

Aku menaikkan sebelah alis, “Tidak… deadline proyekku sebentar lagi. Jadi aku harus benar-benar fokus.”

“Pantas saja,” Eonni membalikkan tubuhnya kemudian pergi ke bagian aksesoris.

Hmm, televisi? Semingguan ini? Bisa duduk saja sudah merupakan suatu istirahat bagiku. Demi menyingkirkan Myungsoo dari kepalaku, aku menerima beberapa proyek lain yang ditawarkan oleh Youngdae dan akibatnya aku jadi benar-benar sibuk. Garis bawah untuk kata benar-benar. Nah, kalau sudah begini mana sempat aku membuka televisi dan mendengarkan gosip-gosip terbaru?

Setelah puas membeli sepasang sepatu dan empat pakaian, aku keluar dari gedung Kei Departement Store bersama Siyoung Eonni. Wanita berkaki jenjang itu berbelanja lebih banyak daripada aku, ia menenteng tiga kantong dari Kei di sampingku.

Kami berjalan tanpa arah selama beberapa saat, entah berapa lama. Ketika kami berhenti di sebuah perempatan besar, langit sudah membiru dan matahari nyaris tenggelam seutuhnya. “Bagaimana kalau kita makan di restoran sushi? Kudengar ada all you can eat di sana,” saran Siyoung Eonni.

Aku mengangguk menyetujui, “Boleh. Kebetulan aku ingin makan sushi… Rasanya sudah lama tidak makan kimbab, hahaha.”

“Sushi kok disamakan dengan kimbab…”

Aku hanya meringis sambil menerobos lautan manusia yang lalu-lalang di hadapan kami.

“Eonni, nanti malam aku menginap di rumah Eonni saja ya?” Kutolehkan kepalaku ke samping. Tetapi…

“YU, YUNJI!!!”

“AWAS, YUNJI!!!”

Uh, oh.

Aku mendengar bunyi keras… ada sesuatu yang menabrak sesuatu yang lain. Bahkan aku mendengar bunyi sesuatu terjerembab ke tanah sebelum semuanya menjadi gelap gulita dan tak berbunyi.

-..-

TO BE CONTINUED – NEXT : YOU AND I Part 5

YOU AND I Bang Yunji 20140309