You AND I 20131222

YOU AND I Part 5 […AND I]

Author : Alicia Diana Teresa
Main Cast : Bang Yunji, Kim Myungsoo (L)
Genre : Fan fiction, romance, AU
Rate : PG15

Pernahkah kau merasa berada di ruangan yang sangat gelap, dimana kau tidak bisa melihat apa-apa? Dimana kau tidak tahu apakah kakimu menapak di tanah atau tidak. Dimana kau tidak tahu apakah ada orang lain di sana atau tidak. Dimana dirimu berada.

Kalau kau bertanya tentangku… yah, aku pernah.

Aku pernah.

Seperti saat ini. Semuanya terasa sunyi, gelap, dan menakutkan. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada kegelapan.

Aku menyeret kakiku maju beberapa langkah (entah aku berjalan atau tetap diam di tempat) menuju ujung ruangan yang kucari.

Tapi sayangnya ujung ruangan itu tak ada. Aku tak bisa menemukannya dimana pun. Setelah beberapa lama mengitari ruangan hitam itu, aku duduk di sembarang tempat sebelum merebahkan diri ke atas lantai yang dingin.

Baru aku ingin merilekskan diri di atas lantai itu, tiba-tiba lantai itu terbelah-belah menjadi bentuk segi lima yang banyak dan…

…aku terjatuh!

-..-

Perlahan-lahan, jari-jemari Yunji bergerak sementara mesin kotak berwarna abu-abu di sampingnya berbunyi.

Telinga Kang Seungyoon yang mendengar perubahan suara mesin itu pun segera berdiri di samping ranjang tempat Yunji terbaring. “Siyoung Nuna, Yunji mulai membuka matanya!”

Lee Siyoung membuka kedua kelopak matanya kemudian segera menghampiri Yunji dari sisi lain ranjang. “Astaga, Bang Yunji…”

Sementara gadis yang disebut namanya perlahan membuka kedua kelopak matanya. Seungyoon memencet tombol merah untuk memanggil para dokter dan perawat, “Yunji, kau sudah sadar?”

“Eonni, Seungyoon…”

Air mata membanjiri kedua sudut mata Siyoung, “Syukurlah kau sudah sadar. Kau merasa baik-baik saja kan?”

“Hei Yunji, ada yang sakit tidak?”

Kepala Yunji bergerak menggeleng walau hanya sedikti gerakan yang gadis itu lakukan. “Aku haus,” ujarnya dengan susah payah. “Air… tolong…”

“Iya, iya. Hei Seungyoon, dokternya mana? Sudah kau panggil belum sih?”

“Aku sudah pencet tombol merahnya. Mau aku cari keluar?”

Tepat pada saat itu juga pintu kamar Yunji terbuka dan dua orang dokter serta dua orang perawat masuk. “Selamat siang, Lee Siyoung-ssi, Kang Seungyoon-ssi,” kata seorang dokter yang mengenakan kacamata berbingkai putih. Kemudian dokter itu menanyakan beberapa hal mengenai sadarnya Yunji dan mulai memeriksa gadis berumur dua puluh lima tahun itu.

“Apa kita mau memberitahu member INFINITE, Nuna? Yunji kan sudah sadar,” usul Seungyoon yang berdiri di samping Siyoung.

Siyoung menggigit bibirnya sendiri sambil berpikir, “Entahlah… kita harus lihat dulu bagaimana keadaan Yunji, baru setelah itu kita bisa tahu.”

Para dokter yang telah selesai memeriksa Yunji mengajak Siyoung untuk berbicara empat mata sementara Seungyoon pergi ke toko buah dan para perawat masih menyibukkan diri dengan Yunji.

Dokter Choi mendaratkan bokongnya di kursi sebelum membuka pembicaraan, “Siyoung-ssi…”

“Berapa kali harus aku bilang jangan menganggilku seformal itu?” potong Siyoung tanpa menatap kedua mata Dokter Choi. “Kau sudah mengenalku sekian tahun lamanya, jadi jangan kenakan embel-embel -ssi lagi, Siwon.”

“Kau tahu kan aku tak bisa…”

“Apaan sih? Pokoknya panggil aku tanpa embel-embel -ssi! Kau membuat kita semakin canggung!” Siyoung membuang muka ke arah jendela. Well yah, ia dan dokter yang menangani Yunji telah mengenal sekian tahun hingga hubungan mereka bisa dikatakan mendekati jenjang pernikahan. Namun ada beberapa hal yang terjadi sehingga hubungan mereka menjadi seperti ini.

Dokter bernama Siwon itu berdeham dengan tatapan kedua matanya yang sedih memandang Siyoung, “Baiklah, aku akan menjelaskan keadaan Yunji padamu.” Siwon berhenti sejenak, “Bang Yunji mengalami amnesia sebagian sebagai efek dari benturan dari kepalanya.”

Kedua mata Siyoung membulat, menatap Siwon tak percaya. “Amnesia sebagian? Apakah itu fatal?”

Siwon menggeleng, “Untungnya amnesia itu hanya bersifat sementara tapi akan ada beberapa orang yang tidak diingat oleh Yunji.”

“Apakah Yunji akan selamanya melupakan orang-orang itu?”

“Tidak juga, itu tergantung dari Yunjinya sendiri apakah ia mau menerima orang tersebut atau tidak,” kata Siwon.

Dalam hati, Siyoung berpikir, bagaimana kalau Yunji melupakanku? Melupakan teman-teman sekantornya? Melupakan… Myungsoo?

Pria berpotongan rambut klimis itu menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya, “Selain amnesia sebagian, tulang-tulang yang retak sudah mulai sembuh. Sementara jahitan-jahitannya juga sudah mengering. Kalau tidak ada hambatan, minggu depan Bang Yunji sudah bisa pulang ke rumah.”

Setelah keluar dari ruang praktek Siwon, Siyoung tak langsung melangkah ke kamar Yunji. Wanita berpakaian serba abu-abu itu malah pergi di taman yang terdapat di tengah-tengah gedung rumah sakit. Siyoung duduk di sebuah kursi kosong sambil menggigit kuku ibu jarinya, sebuah kebiasaan yang ia lakukan kalau sedang panik atau khawatir.

Bagaimana ini?

Yunji amnesia sebagian… yah walaupun sifat amnesia itu sementara. Tapi tetap saja… apa yang harus kukatakan pada Myungsoo? Apa yang harus kukatakan pada keluarga Yunji? Astaga…

“Siyoung Nuna kan?” seseorang menepuk punggung Siyoung yang melamun sendirian, membuat wanita itu hampir terkena serangan jantung.

Siyoung menoleh dan mendapati Lee Howon, salah seorang member INFINITE, berdiri di belakangnya.

“Boleh aku duduk disini, Nuna?” tanya pria berambut biru itu.

Siyoung mengangguk sambil menyeret tote bag-nya, “Umm, Howon… bagaimana keadaan Myungsoo?”

Howon menyodorkan sekaleng teh chrysantemum pada Siyoung sebelum menjawab, “Bahu dan pinggulnya masih memar dan membuatnya tak bisa banyak berjalan, tapi yang paling parah lukanya terdapat di punggung.”

“Punggung? Lalu… apakah dia…”

“Jangan panik begitu ah, Nuna. Myungsoo selamat kok, hanya saja gara-gara punggungnya itu ia jadi tidak boleh bekerja selama tiga bulan,” Howon tertawa pahit. “Kasihan dia, setelah tulang rusuk kini tulang punggungnya yang bermasalah. Setelah ini Myungsoo harus lebih rajin pergi ke gereja.”

“Aih, kau ini bisa saja, Howon…”

Pria yang biasa dipanggil Hoya itu mengusap bagian belakang lehernya sendiri sambil menatap tanah, “Lalu bagaimana dengan Yunji, Nuna? Apakah Yunji sudah sadar?”

Siyoung menggigit kuku ibu jarinya lagi, “Puji Tuhan, dia baru sadar. Tapi…” apakah tepat kalau aku membicarakan hal ini dengan Howon? “Tapi dia…” Siyoung menelan ludah, “Umm, dokter Choi…” Keringat sebesar biji jagung turun dari pelipis kepalanya sementara Howon menunggu-nunggu jawaban Siyong dengan ekspresi wajah penuh harapan. “Tapi dokter Choi berkata bahwa Yunji mengalami amnesia walau beberapa luka lainnya sudah mengering. Kau mau melihat Yunji, Howon?”

“Hah?” Kedua bola mata pria itu seolah-olah nyaris melompat keluar dari tempatnya. “Benarkah?”

Siyoung mengangguk membenarkan perkataannya tadi. “Aku serius, Howon.”

Kedua tangan Howon membungkus kedua tangan Siyoung yang duduk disampingnya, “Nuna, jangan khawatir. Myungsoo akan segera sembut sementara Yunji pasti akan mengingat kembali kami perlahan-lahan. Memang butuh waktu, tapi amnesia Yunji pasti sembuh. Aku berani jamin itu, Nuna.”

“Howon… terima kasih telah menghiburku.” Hanya itu yang dapat diucapkan oleh Siyoung sebelum tubuhnya masuk dalam pelukan Howon.

-..-

Matahari sudah tak terlihat lagi di ufuk barat dan tugasnya menjaga dunia telah digantikan oleh bulan purnama. Tapi gadis berambut panjang itu masih terjaga di balik jendela, memandang sang bulan dengan tatapan sendu. Seolah-olah ada suatu perasaan janggal dalam dirinya.

-..-

Aku menatap kedua telapak tanganku ketika para perawat telah pergi dan meninggalkanku sendirian di kamar.

Rasanya… ada sesuatu yang kulupakan. Sesuatu penting yang aku tak ingat.

Aku memejamkan kedua mataku lalu berusaha semampuku mengingat-ingat semua hal yang telah terjadi dalam hidupku. Namun tetap saja, perasaan itu terus membayangi pikiran dan hatiku. Tiba-tiba napasku pun terasa sesak sebelum akhirnya aku pasrah dan memejamkan kembali kedua mataku dalam buaian mesin pendingin ruangan.

Pagi hari, seperti dua hari sebelumnya, dokter Choi datang mengunjungiku untuk memeriksa perkembangan fisikku yang katanya makin hari makin baik. Dokter berlesung pipi itu memang tak pernah banyak bicara denganku, tapi dari sorot matanya aku tahu ia dokter yang baik dan dapat dipercaya. Maka pada suatu saat, aku mengutarakan kegundahan hatiku pada dokter Choi.

“Ada apa, Yunji-ssi?” tanya dokter Choi sambil menulis di kertas yang di jepit di papan berjalan.

Aku memberi kode mata pada suster Han dan suster Go untuk meninggalkan kami berdua sehingga aku bisa berbicara secara empat mata dengan dokter Choi. Setelah pintu kamar tertutup, aku mulai membuka mulutku, “Dokter, mungkinkah aku mengalami amnesia atau benturan saat kecelakaan itu?” kuajukan pertanyaanku tanpa basa-basi.

Selama beberapa detik aku sempat melihat sorot mata dokter Choi yang terkejut, seperti baru disengat listrik. Tapi dengan cepat kedua mata itu kembali menyorotkan sinar yang teduh seperti biasanya. Dokter Choi berdeham sebelum berkata, “Sepertinya sudah saatnya saya dan Siyoung mengatakan hal yang sebenarnya padamu, Yunji-ssi.”

Kalau ini adalah manhwa, mungkin sekarang di kepalaku sudah muncul sebuah tanda tanya berukuran raksasa.

“…ya, kau mengalami amnesia.”

Spontan jantungku… begitu sakit.

Astaga…

-..-

TO BE CONTINUED : YOU AND I Part 6

 


Hello, readers🙂 thank you for your comments on the previous chapters *chuckles*

It’s been a long time since I updated part 5. I miss to write fan-fictions again but suddenly WB attacks me /oh God

And da… this part is kinda short, right? Yeah, my head is still in WB, so I can’t make any longer sentences. Pardon me. Hope I can make it longer on part 7.

Thank you once again! *throws sarang*