EMPTY HEART

“Maaf, maafkan aku.”

“Kenapa?”

“Maaf…”

Sejak saat itu Kaede tak lagi menunjukkan batang hidungnya di hadapan Taiyou sekalipun Taiyou mengancam akan bunuh diri sebelum melompat dari atas jembatan.

Sejak saat itu kehidupan Taiyou bagai kapal yang diombang-ambing di tengah samudera. Gadis berambut merah itu tak lagi mau makan bersama keluarganya. Gadis berkulit pucat itu menolak pergi ke dokter, baik itu dokter kejiwaan maupun dokter kandungan. Gadis dengan pipi bersemu merah itu hanya duduk di pinggir jendela kamarnya, meratapi kehilangan Kaede.

“Taiyou… makanlah sedikit. Kalau kamu tak makan seperti itu akan berakibat buruk bagi janinmu, Nak,” ujar ayah Taiyou, Taiga Konamatsu. Pria tengah baya itu mengepalkan tangannya keras-keras di atas permukaan pintu kamar Taiyou. “Taiyou… ayo keluar, makan bersama Ayah dan Ibu.”

Namun di dalam kamar gadis berhidung bangir itu hanya menguburkan wajahnya di antara lututnya sambil merasakan dinginnya angin malam yang berhembus masuk. “Tidak, Ayah. Aku ingin menunggu Kaede. Setelah Kaede pulang, baru aku akan makan malam…” bisik gadis itu.

Di luar kamar, Taiga dan istrinya Erika hanya saling menatap satu sama lain dengan pasrah. Lagi-lagi seperti ini. Mungkin sudah ribuan kali Taiga dan Erika menghampiri kamar Taiyou tiap malam dan mengajak Taiyou makan. Tapi semua usaha itu sia-sia.

“Taiyou, Sayangku, ayo keluar kamar, Nak. Ayah, Ibu, dan Kak Shuhei ingin makan bersamamu,” kata Erika dengan menelan segenap kepahitan yang ia rasakan. “Saat bertemu denganmu Kaede juga pasti tak ingin melihatmu seperti ini.”

Taiyou hanya menggeleng lemah sambil menatap jalanan yang kosong dan gelap, menunggu Kaede pulang.


MY DEAR SARA

James tahu dirinya bukan lagi seorang manusia. Ia tak lagi bisa tinggal di sisi orang-orang yang dikasihinya, terutama Sara.

Lalu “apakah” ia?

James masuk ke sebuah rumah kayu bercat putih yang sepi. Pria bermata biru itu melangkah perlahan-lahan ke dalam rumah seolah-olah takut membangunkan sang pemilik. Tapi tak seorang pun dapat mendengar suaranya sekali pun ia berteriak sekuat tenaga.

Tanpa perasaan takut, James terus melangkah ke lantai dua rumah itu. Senyumnya membuat ia terlihat sangat tampan saat ia melihat lukisan-lukisan dan foto-foto tua yang terpajang di dinding tangga. Hatinya tergelitik saat ia menyadari di salah satu foto-foto itu terdapat foto dirinya dan Sara, serta anak-anak mereka, Pax, Adele, Peter, serta Vivienne.

James berhenti di depan sebuah pintu tua di lantai tiga. Ia ingin mengetuk pintu itu, tapi takut seseorang akan mendengar ketukannya. Maka James berjalan menembus pintu seperti yang suka ia lakukan sejak lima puluh tahun yang lalu.

Dari pojok kamar, pria berambut pucat itu melihat wanita pujaannya tengah tertidur nyenyak di antara bantal-bantal empuk dan selimut yang hangat. Kendati keriput dan uban menghiasi wajah Sara, wanita itu tetap meninggalkan bekas-bekas kecantikan di masa mudanya.

Jari-jemari James berusaha menyentuh Sara, tapi gagal. Sebab jari-jemari James malah menembus ke dalam pelipis Sara dan membuat wanita tua itu berdesah dalam tidurnya.

“Sara… Sara… Sara…”

Seperti rasa sakit, air mata yang mengalir dari pelupuk mata James mengalir semakin deras. Walau fisiknya tak lagi ada, ia tetap bisa merasakan semua rasa yang dimiliki oleh manusia, termasuk rasa sakit dan sedih.

“Oh Sara, aku tak bisa menyentuhmu, Sayang…”

“Sara… Sara…”

“Andaikan aku dapat menyentuhmu sekali ini saja… Sara…”

“Sara, maafkan aku…”

James merebahkan kepalanya di samping Sara, di tempat dimana ia biasa menatap kedua bola mata Sara yang cemerlang sebelum terlelap dalam tidur. “Lima puluh tahun adalah waktu yang cukup lama bagi manusia kan?”

“Andai saja aku bisa kembali dan menemanimu membesarkan anak-anak kita… melihat Pax dan Peter menjadi pria idaman di sekolah. Mendengar cerita Adele dan Vivienne tentang pria yang mereka sukai. Berbicara dengan mereka berempat mengenai masa depan kita semua. Menulis surat untuk anak-anak kita yang bersekolah di luar kota…”

“Sara…” “…James.”

Spontan kedua bola mata James membesar lalu gerakan tangan pria itu berhenti di pipi Sara yang penuh keriput. Ia menoleh ke belakang…

“…SARA!!!”

Secepat kilat James berlari sebelum menabrak Sara dan memeluk wanita itu erat-erat. Namun Sara yang berada di hadapan James bukanlah Sara tua yang “terlihat” tidur nyenyak di atas ranjang mereka. Sara yang berada di hadapan James memiliki sosok yang ramping, muda, jelita, dan… sempurna bagi James.

“Oh Sara, aku sangat merindukanmu, Sayang.”

“Kau pikir aku tidak merindukanmu, James? Kau tahu berapa lama aku sudah menunggu?”

“Maaf… maafkan aku, Sayang…”

Senyuman Sara membuat lesung pipinya nampak, “Aku sudah memaafkanmu sejak aku kehilangan dirimu, James.”

Semakin erat James memeluk Sara, “Terima kasih… aku mencintaimu, Sara.”

Tiba-tiba seorang pria masuk ke dalam kamar dengan sebuah nampan dalam kedua tangannya. “Ibu, makan siang sudah siap,” ujar pria itu sebelum meletakan nampan di nakas kemudian mengguncang-guncangkan sebelah tangan Sara tua.

“Ibu, ayo bangun… jangan tidur terus. Ibu harus makan siang,” pria itu kini mengelus pipi Sara.

James menggenggam tangan Sara yang berdiri di sampingnya, “Itu… Peter?”

Sara mengangguk mengiyakan, “Ya, Peter kita. Peter kecil yang selalu mengikutimu kemanapun kamu pergi.”

“PAX! ADELE! PAXXX!!! ADELEEE!!!”

“…astaga, aku tak mengenalinya lagi, Sayang.”

“Tentu saja, kau sudah tak pernah melihatnya lagi sejak ia berumur empat tahun kan?”

Berikutnya seorang pria lain dan seorang wanita masuk ke dalam kamar dengan napas terengah-engah. “Ada apa, Peter? Kenapa kau panik sekali?” tanya si wanita.

Peter menggenggam tangan Sara tua erat-erat, “Ibu… Ibu…”

Seolah-olah mengerti apa yang Peter maksud, Pax dan Adele menghampiri Sara tua. Adele yang berprofesi sebagai dokter memeriksa nadi dan napas Sara. Tangan yang ia gunakan untuk memeriksa napas Ibunya bergetar sementara air matanya mulai mengalir.

“Ibu… Ibu…”

“Ibu sudah tiada…”

“Astaga, Ibu! Ibuuu! IBUUU!!!”

Beberapa menit kemudian seorang wanita berambut hitam pendek masuk ke dalam kamar sambil menutup mulut dengan kedua tangannya. Ah, bahkan kedua matanya sudah sembab.

“Itu… jangan katakan kalau itu Vivienne kita.” James menoleh pada Sara untuk mendapatkan kepastian.

Sayangnya Sara mengangguk dan tersenyum, “Ya, itu Vivienne.”

“Astaga, anak-anakku…”

Sara masih tersenyum, wanita berambut hitam itu melingkarkan lengannya pada lengan James dengan mesra. “Nah, sekarang ayo kita pergi, James.”

James menatap Sara kemudian mencium sekilas bibir istrinya itu, “Ayo, aku sudah cukup banyak melihat anak-anak kita… dan dirimu yang tua.”

Sara memukul pelan dada James, “Kau curang! Aku belum pernah melihat sosok tuamu.”

James hanya terkekeh sementara keduanya terus berjalan menuju terang dan menghilang bersamaan dengan tenggelamnya matahari di ufuk barat.


A MEETING

Ia menghirup Americano-nya dengan perlahan-lahan. Aroma kopi yang kuat membuat pria berambut abu-abu itu rileks. Aah, kafe memang surgaku, pikirnya. Kemudian jari-jarinya menari di atas keyboard mengetikkan beberapa kata yang mengakhiri sebuah cerita.

Seseorang mengetuk kaca di hadapan Luke–pria itu beberapa kali, membuat Luke mengangkat wajahnya sebelum tersenyum dan menyuruh orang itu untuk bergabung bersamanya.

“Apa kabar?” tanya wanita yang menarik kursi lalu duduk di samping Luke.

Luke menyandarkan tubuh ke kursi, “Seperti yang kau lihat, kabarku seperti ini.” Ia menghirup Americano lagi. “Kau sendiri bagaimana? Kudengar kau bertunangan dengan pemilik People Group?”

Wanita bernama Sara itu mendengus pelan, “Kabar basi, Luke. Sudah berapa bulan kau tidak menonton TV? Aku dan Josh tidak memiliki ikatan apapun sekarang.” Ia menghela napas dan menerawang saat mulai berkata, “Josh ketahuan berselingkuh dengan sekretarisnya, padahal malam itu aku sudah membuatkan makanan favoritnya. Ketika ia mengejarku, aku melemparkan cincin yang terpasang sempurna di jari manisku lalu meninggalkannya.”

“Oh, aku minta maaf.” Ujar Luke.

Sara mengibaskan tangannya di udara, “Tidak apa-apa, kejadian itu sudah agak lama. Lagipula keluargaku juga tidak menyukai karakter Josh.”

Tiba-tiba seorang pelayan muncul dan meletakkan segelas Cappuccino dingin di hadapan Sara. “Aku tidak memesan minuman. Kurasa kau salah meja,” kata Sara.

Namun pelayan itu tidak segera kembali. Pelayan itu berkata, “Ini bonus dari Tuan ini. Silahkan dinikmati,” kemudian ia pergi dari antara Luke dan Sara.

Sepeninggal pelayan itu, kedua bola mata Sara menatap wajah Luke. “Kenapa kau menraktirku?”

Luke tidak menjawab, pria bermata biru itu hanya tersenyum simpul. Ia menggerakkan dagunya, memberi isyarat pada Sara untuk meminum Cappuccino itu.

Tegukan demi tegukan membuat Cappuccino itu habis seiring dengan berlalunya obrolan Luke dan Sara. Hingga suatu saat Sara tersedak sesuatu di tenggorokannya. Luke buru-buru menyodorkan tisu pada Sara sambil berusaha mengelus punggung wanita itu. “Minumnya pelan-pelan saja. Jangan serakah seperti itu,” ujar Luke.

“Akh, aku… puih,” sebuah benda mungil berkilauan mendarat tepat di tangkupan tangan Sara. Sejenak benda itu membuat Sara terpaku dan Luke berhenti mengelus punggung Sara.

“Luke… Luke… ini…” Sara nyaris menangis karena terharu. Sementara pria yang disebut namanya itu tersenyum dan berlutut di samping Sara.

“Sara, would you marry me?”


Random banget cerita di atas xD
Ya iyalah, namanya juga udah lama nggak buat tulisan. Tiba-tiba jadi sering nggak ada ide dan tanganpun jadi males gerak.
Tapi untungnya masih mau sedikit-sedikit ngetik cerita pendek kayak gini yang akhirnya tragis-tragis (mungkin) bahagia.
Lagian saya juga udah nggak begitu update lagi tentang dunia K-Pop. Kalaupun baca berita, cuma yang beredar di timeline WordPress dan twitter aja, berhubung saya masih main roleplayer.
Apa pelan-pelan saya mulai pindah ke dunia Barat? Hehehe~
Nggak juga, saya lagi balik dengerin lagu-lagunya F4 (JVKV) nih. Tau kan, grup 4 orang yang isinya Jerry Yan, Vanness Wu, Ken Zhu, sama Vic Zhou? Yang main Meteor Garden? Coba deh dengerin lagu mereka yang judul-judulnya kayak Liu Sing Yi sama Wo Shi Zhen De Zhen De Hen Ai Ni. Enak banget lho xD
….dan saya baru tau kalau Vanness Wu udah menikah. Tapi nggak pa-pa sih, toh dia bukan bias saya. Daridulu yang jadi bias saya di F4 yaa Jerry Yan sama Vic Zhou, hahaha~

Omong-omong ada yang ikut SM GLOBAL AUDITION 2015?