req01-alicia-dt_sda_by-arestanov

TREE OF LIFE

Author : Alicia Diana Teresa
Main Cast : Oh Sehun, Kwon Nami (OC)
Genre : Fan fiction, AU, romance
Rate : PG15
Credit poster to Arestanov at School Art Design

Hari ini hari dimana tahun pelajaran baru dimulai. Kelopak-kelopak bunga sakura turun seolah memanggil-manggil kami untuk cepat kembali ke sekolah.

Ah, tak terasa tahun ini adalah tahun terakhirku di SMA. Aku harus belajar lebih giat agar diterima di universitas negeri di kotaku.

“Nami! Nami!” beberapa orang memanggil namaku. Di bawah salah satu pohon sakura, teman-temanku melambaikan tangan mereka, menyuruhku datang.

“Apa kau sudah lihat pembagian kelas?” tanya Bang Yunji ketika aku sudah berada di dekat mereka.

Aku menggeleng, “Belum. Memangnya ada apa?”

Park Soora meraih tanganku dengan penuh semangat, “Ada murid pindahan! Laki-laki!”

“…lalu?”

“Ya! Kau ini perempuan atau bukan sih? Kau tidak tertarik pada laki-laki ya?” seru Lee Yongdae mencercaku. “Astaga, baru kali ini aku punya teman perempuan yang tidak peka seperti Nami.”

Yunji memukul-mukul punggungku, “Sudah lah, mungkin Nami perlu melihatnya secara langsung.”

Ada apa sih? Kenapa dengan murid baru itu?

-..-

Pintu kelas bergeser kemudian wali kelasku masuk dan berdiri di belakang mimbar.

“Selamat pagi, anak-anak.” wanita itu tersenyum. “Perkenalkan, nama saya Song Jaehee. Saya akan membimbing kalian selama setahun ke depan. Mohon bantuannya,”

Soora yang duduk di sebelahku berbisik, “Wah, cantik sekali wali kelas kita! Semoga ia juga memberikan nilai yang cantik untuk kita! Hahaha!” sementara aku hanya menatap Soora dengan tatapan datar.

“Omong-omong, tahun ini juga kalian mendapat teman baru. Ia adalah pindahan dari sekolah swasta kota sebelah. Silahkan masuk!”

Sekali lagi pintu kelas bergeser. Dari balik pintu, seorang laki-laki seumuran kami berdiri canggung.

Saat melihat sosok murid baru itu untuk pertama kalinya, teman-teman sekelas langsung berkomentar “oh” tanda kagum. Tapi aku… dalam kepalaku terputar suatu kejadian yang terjadi saat aku sakit perut untuk pertama kalinya karena kebanyakan makan es krim.

“Dia…”

Soora menoleh padaku, “Kau mengenalnya, Nami?”

Aku menggeleng, “Tidak. Aku rasa aku salah orang,”

Murid baru itu berdiri di sebelah mimbar lalu membungkuk pada kami. “Selamat pagi! Saya Oh Sehun, pindah ke kota ini karena Ayah saya pindah kerja. Mohon bantuannya!”

Setelah Sehun selesai memperkenalkan diri, murid-murid perempuan saling berteriak menginginkan Sehun duduk di sebelah mereka sehingga Song Seonsaeng harus mengetuk-ngetuk mimbar untuk mengheningkan seisi kelas.

“Semuanya jangan berisik!” teriak Song Sonsaeng. “Sehun akan duduk di sebelah…” ia mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan. “…Park Soora. Sehun akan duduk di sebelah Park Soora.”

Para murid perempuan spontan berseru kecewa sambil memberikan pandangan iri pada Soora. Sementara Sehun menuruti perkataan Song Seonsaeng dan segera meletakkan tasnya di kursi barunya.

Sudut mataku memperhatikan Sehun dan Soora yang asyik berkenalan. Nanti saja aku berkenalan dengan Sehun… toh masih ada dua kali istirahat dan jam pulang sekolah.

-..-

Tapi aku terlalu santai.

Saat istirahat pertama, meja Sehun langsung di penuhi oleh para murid perempuan yang ingin berkenalan dengannya. Begitu juga dengan istirahat kedua. Mungkin aku terdengar berlebihan, tapi memang itu kenyataannya. Setiap kali istirahat meja Sehun tidak terlihat karena para murid perempuan berdiri di sekitar meja itu. Bahkan susah bagi Soora untuk keluar dari kerumuman yang menjebaknya.

“Terlalu berbahaya dekat-dekat dengan Sehun,” komentar Soora ketika kami menyusuri salah satu koridor sekolah.

“Kenapa?”

Soora menancapkan sedotannya ke kotak susu kemudian menghirup susu itu sampai setengah. “Murid-murid perempuan di kelas kita langsung menjadi penggemarnya dan sudah terbentuk klub pencinta Oh Sehun.”

Aku terkikik geli, “Oh? Sudah seterkenal itukah Sehun?”

Soora mengangguk mengiyakan, “Ya. Murid-murid itu terus menanyakan pertanyaan yang sama berulang-ulang. Dimana orang tuamu bekerja? Kau tinggal dimana? Apa kau punya saudara disini? Kenapa kau memilih sekolah ini? Apa kau punya kenalan di sekolah ini?”

Aku terkikik lagi. “Biarkan sa…”

“NAMI, AWAS!”

BRUKKK!!!

“Aduh!”

Seseorang menabrakku dengan kencang sehingga membuatku dan orang yang menabrakku itu sama-sama terjungkal.

“Maaf, maaf! Aku tak sengaja!” ujar si penabrak.

Aku bangkit berdiri sambil mengusap-usap bagian tubuhku yang masih sakit, “Tidak apa-apa… ini tidak terlalu sakit kok,” aku terperanjat ketika melihat siapa yang menabrakku barusan.

Oh Sehun.

“Sehun! Sehun! Kau dimana?”

“Oh Sehun~!”

“Jangan lari dari kami, Sehun!”

Dari ujung koridor yang lain, suara-suara para murid perempuan yang mencari Sehun semakin terdengar. Hal itu membuat wajah Sehun memucat. Ia meraih sebelah tanganku, “Tolong sembunyikan aku!” sebelum aku sempat menjawab permohonannya, ia sudah menarikku dan berlari sepanjang koridor meninggalkan Soora sendirian.

Sambil berlari, Sehun berkata, “Hei, dimana tempat yang aman untuk bersembunyi?”

“U, umm… gudang olahraga! Gudang olahraga!”

Aku tak menyangka Sehun berlari secepat ini. Tanpa mempedulikan diriku yang mulai terengah-engah, Sehun menarik diriku menuju gudang olahraga yang kutunjuk.

Gudang olahraga itu terletak di gedung sekolah yang lama. Sudah jarang ada yang datang ke sana, bahkan guru-guru pun tidak lagi datang ke gudang olahraga ini. Sehingga secara spontan kupikir tempat itu adalah tempat yang aman dari kejaran para murid perempuan.

Sehun menutup pintu gudang olahraga sambil berusaha mengambil napas sebanyak-banyaknya. “Akhirnya… aman juga.”

Aku menunggu sampai murid baru itu tenang dan mengamatinya. Kemudian nostalgia itu pun di mulai lagi…

Kedua sorot matanya begitu mirip dengan kedua sorot mata anak laki-laki yang ada dalam ingatanku.

Tapi hanya sorot matanya… karena suara dan wajahnya sedikit berbeda.

“Hei, kenapa mengamatiku seperti itu?”

Ah, sudahlah. Jangan terlalu yakin atau curiga. Oh Sehun itu kan murid baru, kasihan kalau aku membuatnya takut di hari pertama ia berada di sini.

“Oh, maaf. Sekilas kupikir kau mirip dengan kenalanku,” ujarku jujur.

Sehun duduk di lantai bersandar pada pintu gudang olahraga. “Benarkah? Aku juga merasa seperti itu. Kau mirip dengan kenalanku.”

Itu hanya perasaanku. Abaikan.

“Omong-omong bagaimana hari pertamamu di sekolah ini?” tanyaku mengalihkan bahan pembicaraan. “Minus para murid perempuan itu ya.”

Sehun tersenyum miris, “Aku tak menyangka hari pertamaku akan seperti ini… di kejar-kejar murid perempuan. Ya ampun…” ia menunduk di antara kedua lengannya yang putih dan panjang. “Sebelumnya aku tak pernah seperti ini.”

“Ya, aku kan sudah bilang minus para murid perempuan!”

“Baiklah, baiklah,” deretan gigi putih yang tersusun rapi terlihat dari celah mulutnya. “Umm, mengesankan.”

Spontan sebelah alisku naik, “Benarkah?”

Tangan Sehun yang besar menyentuh puncak kepalaku kemudian mengacak-acak rambutku, “Wajahmu lucu sekali saat sebelah alismu naik,” ia tertawa.

Kupukul pelan lengannya yang kokoh itu, “Jangan tertawa! Hentikan!” namun ia tak berhenti, malah tertawa terpingkal-pingkal di hadapan papan halang rintang.

Setelah suara tawanya hilang, Sehun menghembuskan napas panjang. Pria berambut cokelat itu mengintip dari celah pintu gudang olahraga, siapa tahu para murid perempuan masih mengejarnya.

“Ayo, berdiri. Di luar sudah aman,” ujar Sehun sambil mengulurkan tangannya padaku.

Kusambut uluran tangannya dan bangkit berdiri. Uh, oh… masa hanya karena berpegangan seperti ini wajahku memanas? Oh, tidak.

Ia tetap menggenggam tanganku saat kami berjalan menyusuri taman sekolah. Tangannya yang besar membuatku merasa dilindungi dan nyaman. Seolah Sehun mengungkapkan bahwa semua akan baik-baik saja.

Oh, tidak… jangan bilang kalau aku mulai menaruh perasaan pada Sehun.

-..-

TOK TOK TOK!

“Nami, ini Oppa. Boleh masuk?” suara Minhyuk Oppa terdengar dari balik pintu kamarku.

“Eo, masuk saja.” seruku sambil terus membuat poster fan fiction dengan menggunakan sebuah software komputer.

Minhyuk Oppa duduk di sampingku, “Ini poster untuk siapa?” tanyanya berbasa-basi.

Aku memindahkan sebuah gambar dari satu sudut lembar kerja ke sudut lainnya, “Umm, seorang kenalan…” Minhyuk Oppa hanya mengangguk-angguk tak minat.

“Omong-omong apa Sabtu ini kau ada waktu, Nami?”

Kututup software itu lalu meletakkan kacamataku sebelum berputar menghadap Minhyuk Oppa, “Ada apa memangnya?”

Pria berusia 21 tahun itu menaikkan salah satu sudut bibirnya, “Yah, kau tahu kan… kau ini lumayan terkenal di kampusku.”

Ah, I get it.

Sejak beberapa bulan yang lalu Minhyuk Oppa sering berbicara padaku mengenai hal ini. Karena teman-temannya banyak yang menyukaiku, satu per satu dari mereka mulai meminta bantuan Minhyuk Oppa untuk bertemu denganku. Maka sejak saat itu hampir setiap akhir minggu teman-teman Minhyuk Oppa mengajakku keluar, baik itu ke cafe maupun bioskop. Namun sayangnya mereka selalu kutolak.

“Pasti tentang date dengan salah satu temanmu itu kan, Oppa?” tebakku.

Minhyuk Oppa menggeleng, “Teng tong!” ia menyilangkan kedua jari telunjuknya membentuk tanda “X”. “Kali ini bukan tentang para fans-mu. Kali ini tentang festival yang akan di adakan oleh universitasku.”

“Eh? Festival?”

“Iya, festival olahraga bulan depan, Nami.” Minhyuk Oppa mengutak-atik iPod-ku sehingga sebuah lagu Katy Perry terdengar. “Ketua panitia acara itu adalah ketua senat-ku, Park Chanyeol, dan ia ingin kau mengisi acara di festival.”

Aku terkejut, “Hah? Mengisi acara? Apa yang harus kulakukan di sana?”

“Err, menyanyi mungkin?”

“Tapi aku belum pernah menyanyi di depan umum! Selama ini aku hanya menyanyi di kamar mandi.”

Minhyuk Oppa mengangkat kedua bahunya, “Entahlah, tapi Chanyeol ingin kau tampil. Coba saja menyanyi… siapa tahu suaramu bagus. Nanti aku tanya Chanyeol lagi untuk detailnya. Dah,” kemudian ia meninggalkanku sendirian lagi di kamar.

Ugh, bagus, Oppa.

Apa yang harus kunyanyikan? Penonton akan bubar kalau aku menyanyikan lagu Demi Lovato yang berjudul Skyscraper. Itu kan lagu sedih… masa di festival menyanyikan lagu sedih.

Merasa membutuhkan saran, aku meraih ponsel kemudian membuka grup live chatting yang anggotanya adalah aku, Soora, Yunji, dan Yongdae.

Aku : MENYANYI! Minhyuk Oppa menyuruhku bernyanyi di festival univ-nya bulan depan TT^TT

Yunji : Jangan sampai kau menyanyikan lagu Skyscraper! Hahaha!

Bang Yunji sent a sticker

Yongdae : Memangnya suaramu bagus?

Kwon Nami sent a sticker

Yunji : Coba nyanyikan lagu grup perempuan Korea, seperti SNSD dan 2NE1.

Aku : Suara SNSD terlalu tinggi TT^TT

Kwon Nami sent a sticker

Soora : Kalau begitu 2NE1 saja. Nyanyikan 2NE1 – Missing You. Penggemarmu pasti akan bertambah banyak :3

Kwon Nami sent a sticker

Umm… 2NE1? Kupikir bukan ide yang buruk walau aku hanya sekali-dua kali mendengarkan lagu mereka.

Alhasil malam itu suara-suara 2NE1 menemaniku hingga larut malam.

-..-

“Jadi bagaimana? Bagaimana?”

Yunji, Soora, dan Yongdae berdiri mengelilingi mejaku saat bel istirahat pertama tiba berbunyi.

Aku sibuk membereskan buku pelajaran sebelumnya ke dalam laci meja, “Bagaimana apanya?”

Yongdae berdecak sambil menumpukan sebelah tangannya ke mejaku, “Itu… lagu yang akan kau nyanyikan di festival universitas Minhyuk Hyung.”

“Aku memilih lagu Ugly, lagunya 2NE1. Kupikir lagu itu liriknya paling netral,” ujarku malu-malu.

Spontan Soora dan Yunji bersorak, “Horee!” kedua Blackjack itu mengacungkan masing-masing jempol kepadaku. “Bagus! Kita bisa latihan sepulang sekolah nanti!”

“Hari ini?” aku terkejut.

Yunji mengangguk mengiyakan, “Mau kapan lagi? Sebulan itu tidak lama lho, Nami. Latihan, latihan, dan latihan… lalu tak terasa sudah tiba hari H.” sambil berkata demikian, wajah Yunji di penuhi senyum khasnya.

“Tenang, hari ini Soora akan membayar semuanya. Berhubung hari ini adalah ulang tahunnya! Yey!” seru Yongdae tiba-tiba, membuat orang yang disebut namanya melotot pada Yongdae.

“Tapi… aku masih belum terlalu bisa menyanyikannya lho,”

Yunji menepuk-nepuk sebelah bahuku, “Jangan khawatir, ada dua Blackjack di sini.” aku tersenyum, ia pun tersenyum. “Nah, ayo kita ke kantin! Perutku sudah bunyi dari tadi!”

Karena ajakan Yunji, kami berempat pun pergi ke kantin sekolah yang berada di gedung terpisah. Namun herannya, pagi itu kantin ramai sekali. Banyak murid perempuan yang berdiri di sekitar pojok kantin, banyak juga yang duduk.

Soora memperhatikan keramaian itu seperti halnya aku. “Pasti gara-gara Oh Sehun lagi.” ujar Soora.

“Dia…?” celetuk Yunji.

“Iya, Oh Sehun si murid pindahan. Tadi pagi saja mejanya sudah penuh dengan bekal buatan dan surat-surat berwarna pink. Dasar anak populer,” sementara itu aku hanya memberikan ekspresi seadanya.

Memang sih, para murid perempuan duduk mengelilingi Sehun yang asyik melahap jatah makanannya bersama beberapa murid laki-laki yang mulai akrab dengannya. Bahkan murid perempuan paling cantik di sekolah, Nam Hwayoung, sedari tadi sibuk mencari perhatian Sehun. Err, tapi yang terakhir itu kurasa karena para murid laki-laki di sekolah kami rata-rata berwajah… di bawah rata-rata.

Aku berbaris di belakang Soora sambil mengamati Sehun yang tidak menghiraukan perhatian dari para murid perempuan itu.

Pria berkulit putih susu itu mengedarkan pandangannya ke beberapa arah sampai secara tak sengaja kedua mata kami bertemu pandang. Dan pandanganku terkunci. Aku tak dapat mengalihkan pandangan dari Sehun, dari kedua bola mata hitam itu. Kedua bola matanya seolah mengekspresikan kerinduan.

…kerinduan?

“Hei, Nami. Maju,” kata Yongdae menghamburkan lamunanku.

Soora yang berdiri di depanku terkikik kecil, “Kenapa, Nami? Kau mulai menyukai Sehun yaa?” tatapan jahilnya muncul menggodaku.

“Apa sih, aku tidak melihat dia kok.” sergahku, mencoba menyembunyikan wajah yang lagi-lagi memanas.

“Ei… aku tahu wajahmu memanas dan kini memerah, Nona Kwon Nami.” ujar Soora.

Aku tak menjawab godaan itu dan memalingkan wajah. Sementara antrian mulai bergerak, membuat kami berempat mengambil nampan masing-masing kemudian mengisinya dengan macam-macam makanan yang kami dapatkan.

Yunji selesai mengangkut sarapannya terlebih dahulu sehingga ia harus mencari tempat untuk kami. Tapi karena Sehun, kantin menjadi lebih ramai dari biasanya. Nyaris semua kursi telah di tempati oleh para murid perempuan yang memusatkan perhatian mereka pada Sehun.

Soora berdiri di sebelah Yunji sambil mengedarkan pandangannya, “Umm… tidak ada tempat duduk yang kosong ya?” tanyanya.

Yongdae berkata, “Ada sih. Tapi…”

“Lee Yongdae!” tiba-tiba seseorang memanggil Yongdae. Spontan membuat kami berempat menoleh. “Lee Yongdae! Duduk sini saja!” orang itu melambaikan tangannya, menunjuk kursi di sebelahnya yang kosong.

Buru-buru kami menghampiri Kang Seungyoon, orang yang memanggil Yongdae, lalu meletakkan nampan kami masing-masing dan duduk bersebelahan.

“Kantin hari ini penuh sekali,” keluh Yongdae sambil melahap Japchae-nya dengan rakus. Mungkin ia tak sempat sarapan di rumah, seperti biasa.

Kang Seungyoon mengangguk menyetujui, “Ini gara-gara Sehun,” ia meringis menunjukkan deretan giginya yang rapi sebelum meninju pelan orang yang duduk di sebelahnya. Oh Sehun. “Oh iya, Sehun, kau sudah kenal dengan mereka semua kan?” tanya Seungyoon sambil mengunyah makanannya.

Sehun tersenyum simpul menjawab pertanyaan Seungyoon, “Sudah. Lee Yongdae, Bang Yunji, Kwon Nami, dan Park Soora.” ujarnya menyebut nama kami berempat satu per satu.

“Selamat bergabung dengan kami, Sehun! Akhirnya jumlah laki-laki di perkumpulan ini seimbang juga dengan yang perempuan,” Yongdae mengirimkan tatapan menang pada Yunji yang duduk di sebelahnya. Sementara perempuan berambut cokelat itu memalingkan wajahnya dari Yongdae.

“Omong-omong…” Park Soora menghirup jus jeruknya sampai setengah gelas sebelum berkata, “Ya, Kwon Nami, kenapa kau diam saja?”

Aku tersentak saat namaku tiba-tiba dilibatkan. “Apa? Apa diam itu salah?” tanyaku polos.

Yongdae buru-buru berbicara sebelum Soora sempat membuka mulutnya, “Tidak kok, hanya saja rasanya aneh hari ini kau mendadak jadi pendiam.”

Aku mengangkat kedua bahuku dengan cuek, “Biasa saja ah. Aku hanya…” sudut mataku menangkap sosok Sehun yang ikut-ikutan seru menginterogasiku bersama teman-teman. “…aku hanya… hanya…” oh yang benar saja. Tenggorokanku tercekat ketika melihat kedua bola mata Sehun yang berbinar dan rahang bawahnya yang kokoh.

“Hanya apa?”

Pertanyaan Seungyoon menarikku kembali ke dunia nyata. Apa yang kupikirkan tadi? Membawa Sehun pergi dari sini lalu “menghabisinya”? Oh aku terlalu banyak membaca novel dewasa.

“Umm, tidak, bukan apa-apa.” aku tersenyum singkat sebelum pergi dari meja dengan membawa nampan makanan ke tempat penampungan sementara nampan yang telah digunakan. Aku sengaja kabur agar kelompok penggosip dadakan itu tidak mewawancaraiku lagi.

Karena waktu istirahat sudah mau selesai, aku harus antre lagi untuk meletakkan nampan makanan dan seperti mengambil makanan tadi, antreannya panjang. Mungkin butuh sepuluh menit hingga giliranku tiba.

“Mau kubawakan nampanmu?” sebuah suara pria menyapaku dari belakang.

Aku menoleh lalu mendapati Sehun berdiri tepat di belakangku dengan nampan makanannya. “Uh, oh… ini… tidak usah, terima kasih. Aku bisa membawanya sendiri.”

Sehun menarik kembali sebelah tangannya yang sudah siap menyambut nampanku. Namun beberapa detik kemudian suara Sehun terdengar lagi di telingaku, “Kwon Nami, apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

Jantungku berdetak lebih cepat saat ia melontarkan pertanyaan itu. Apa yang harus kujawab?

“Maaf kalau aku lancang, tapi tadi di kelas aku merasa kita seperti sudah pernah bertemu. Entah dimana… mungkin sudah beberapa tahun yang lalu.” ujar Sehun.

Aku tak tahu reaksi apa yang harus kuberikan pada Sehun sementara detak jantungku semakin cepat dan rasanya nyaris meledak. “Yah, mungkin kita pernah berpas-pasan di jalan,” sahutku pura-pura tak peduli.

Dari sudut mata, Sehun terlihat mengerutkan dahinya. Ia tak yakin bahwa kami hanya berpas-pasan di jalan. Pasti ada hal lain yang kami lakukan dulu, misalnya saling menyapa atau berkenalan atau bahkan lebih… umm, bertetangga?

Akhirnya setelah meletakkan nampan di tumpukan paling atas, aku pergi dari kantin ke koridor yang menghubungkan gedung kantin dengan gedung sekolah. Udara yang dingin akibat di mulainya musim semi membuat sebagian murid masih mengenakan sweater atau jaket berwarna kelabu. Namun sebagian lagi lebih memilih untuk hanya mengenakan seragam musim dingin sekolah yang di desain hangat, contohnya aku, Yunji, dan Sehun.

Ketika aku berbelok menuju koridor lain yang berada dalam gedung sekolah, Sehun tiba-tiba berjalan di sampingku sambil menyenandungkan nada-nada abstrak.

“Ya, kau mengikutiku?”

Sehun menaikkan salah satu sudut bibirnya, “Tidak. Kebetulan aku juga sedang jalan-jalan di sekitar sini. Terus kita ketemu deh.”

Mataku menatap Sehun dengan tatapan menyelidik, tapi pemuda itu justru mengeluarkan cengiran yang mampu melelehkan hati para murid perempuan. “Mumpung jam pelajaran kita kosong, bagaimana kalau kau menemaniku keliling sekolah? Hitung-hitung tur gratis.” Kali ini ia tersenyum. Walau hanya sekilas, senyumannya itu membuat beberapa murid perempuan yang berada di sekitar kami tersipu.

“Hmm, boleh juga. Lagipula rasanya bosan hanya berdiam di kelas.” Aku merentangkan tangan ke atas, merilekskan sendi-sendi yang kaku. “Kau mau mulai tur dari mana, Sehun?”

Pria berambut cokelat itu tampak berpikir sejenak, “Selain kantin, dimana lagi tempat yang asyik?”

“Umm, ruang kesenian, UKS, taman tengah, perpustakaan, auditorium, aula, gedung olahraga, dan ampitheater. Teman-temanku suka pergi ke tempat-tempat itu kalau sedang bad mood.” Kusebutkan tempat-tempat yang sering menjadi area berkumpul para murid saat pulang sekolah dan jam kosong. Yah, bukan rahasia lagi kalau di sekolah ini sering ada jam kosongnya, jam dimana seharusnya guru mengajar di kelas tapi karena mereka ada kepentingan lain maka para murid belajar mandiri.

Sehun tak menjawab namun kaki kami secara otomatis mengarah ke perpustakaan yang pada saat itu tidak terlalu dipenuhi oleh murid-murid.

Perpustakaan sekolah kami termasuk sebagai perpustakaan sekolah yang lengkap koleksi bukunya, mulai dari tugas-tugas kliping murid sampai buku setebal kotak sepatu pun ada.

“Biasanya buku apa yang kamu baca di sini?” tanya Sehun ketika kami memasuki sebuah ruangan besar dengan puluhan rak buku raksasa yang terlihat bagai pilar bangunan.

“Manhwa, bahasa, biografi, motivasi diri, novel… macam-macam. Banyak buku yang menarik di perpustakaan ini, tapi sayangnya sangat susah untuk membaca semua buku itu, hahaha~” jawabku sambil terkikik kecil. Kemudian aku mulai menjelaskan bagian-bagian dan perpustakaan layaknya seorang tour guide profesional. “Selanjutnya mau kemana? Kita masih punya dua puluh menit untuk mengakhiri tur ini.” Aku menoleh ketika Sehun sedang mengambil sebuah buku hard cover dengan latar sinar matahari yang masuk dari celah-celah jendela perpustakaan. Sosoknya yang memunggungi matahari sungguh indah… bahkan Keanu Reeves kalah banding dengan Sehun di saat seperti ini.

Aku begitu asyik berimajinasi, sampai-sampai sebelah tangan Sehun bergerak naik-turun di hadapan wajahku. “Boleh aku pinjam buku ini? Sudah lama aku mencari-carinya,” ujar Sehun sambil memperlihatkan sampul buku yang ia ambil tadi.

“Tapi kamu butuh kartu pelajarmu, Sehun.”

Raut bahagia di wajah Sehun perlahan memudar. Ia teringat bahwa ia belum punya kartu pelajar. “Aduh, tapi aku sudah lama mencari buku ini. Apa kamu bawa kartu pelajar, Nami?”

Aku merogoh-rogoh dompetku yang kucel mencari kartu pelajarku kemudian memberikannya pada Sehun sambil berkata, “Nih. Kita hanya boleh meminjam maksimal tiga buku selama seminggu. Kalau telat mengembalikan, kena denda satu won per hari.” kami pun melanjutkan tur menuju bagian perpustakaan lainnya.

Terkadang perpustakaan bisa menjadi tempat yang bagus untuk memuaskan hasrat manusiawi-mu. Bahkan di perpustakaan sekolahku tak sedikit murid-murid datang ke perpustakaan dan mencari sudut sepi untuk berkasih-kasihan dengan pacarnya. Di sudut-sudut itu mereka bisa dengan leluasa melakukan skinship tanpa ada pengawasan dari guru. Lihat saja sepasang murid yang duduk di dalam ruang baca khusus kelompok belajar. Aku yakin sebentar lagi mereka akan berujung di love hotel, seperti yang tertulis di novel-novel dewasa.

O, oh… aku memang terlalu banyak membaca jenis novel seperti itu.

Sinar matahari yang masuk dari celah-celah jendela terus mengantarkan kami menuju bagian paling dalam perpustakaan.

“Oh Sehun! Ternyata kau ada disini ya!”

Sehun dan aku menoleh pada asal suara, seorang murid perempuan dengan seragam kekurangan bahan yang berlari-lari kecil menuju Sehun. Ma Hyeonju atau yang sering dipanggil Victoria (ia lebih menyukai nama Amerika-nya), salah satu murid perempuan tercantik selain Nam Hwayoung. Ah, rupanya ia juga berusaha menjadikan Sehun miliknya.

“Aku mencarimu di kelas tapi tak ada satu pun yang melihatmu,” ujar Hyeonju sambil bergelayut manja di lengan Sehun.

Pria berleher jenjang itu mengirimkan sinyal mata kepadaku, “Tolong lepaskan aku dari perempuan ini!” begitu yang terlihat dari sinar matanya. Namun apa daya, bahkan Hyeonju tak menyapaku yang berdiri tepat di sebelah Sehun. Aku memasang wajah bersalah melihat Sehun tak bisa lepas dari Hyeonju.

Sementara perempuan berambut merah itu terus berbicara, beberapa teman yang satu geng dengannya berdatangan menghampiri kami, oh, menghampiri Sehun. Kemudian mereka tampak seperti selir-selir Sehun yang minta dikasihani.

Aduh, kenapa sih dari tadi bicaraku begitu ketus?

Aku memijat-mijat pelipisku, berusaha bersikap netral dan melupakan semua kata-kata dan perasaan negatif yang melesak ketika melihat para murid perempuan itu memuja Sehun.

“Maaf ya, aku harus pergi, Sunbae,” ujar Sehun, diikuti dengan sorakan kecewa para pemuja Sehun. Cepat-cepat Sehun melepaskan semua lengan-lengan yang menempel padanya. “Sampai jumpa nanti, Sunbae,” ia menarik tanganku pergi dari perempuan-perempuan yang kecewa itu.

Di luar perpustakaan, Sehun menghela napas lega diiringi oleh tawa geli. “Kenapa tertawa?” tanyaku tak mengerti.

Sehun berkata di sela-sela tawanya, “Kau lihat ketika aku menarik tanganmu dan pergi dari mereka?”

“Tidak,” jelas tidak, sebab perhatianku sepenuhnya tertuju padamu, Oh Sehun.

“Ah, ya sudah… tidak jadi.”

“Umm, Sehun… tanganku…” aku melirik tanganku yang berada dalam genggaman tangan Sehun. Sebenarnya aku bisa saja mengambil kesempatan ini untuk berlama-lama merasakan sentuhannya. Tapi setelah itu jantungku akan meledak saking cepatnya berdetak.

Sehun yang baru menyadari hal itu melepaskan tanganku sambil meringis, “Maaf, aku tak sengaja,” katanya sebelum mengedarkan pandangan ke arah lain, atau bahasa jujurnya membuang muka.

Selama beberapa detik, suasana di antara kami jadi hening dan canggung. Hanya terdengar langkah kaki yang lembut dan suara para murid lainnya dari kejauhan. Apa aku harus memulai percakapan baru dengannya? Kalau iya, apa? Apa? APA?

“Emm, setelah ini pelajaran siapa, Nami?” untunglah Sehun berinisiatif sendiri. Rasanya tanpa sadar kali ini aku yang menghela napas lega.

Aku melihat jam tanganku, nyaris jam dua siang. “Mungkin kesenian, Park Leejoon Seonsaeng. Ayo kembali ke kelas,”

Ia menyetujui ajakanku dan mengikutiku berjalan menuju kelas, tempat dimana ketiga kembar sok-ingin-tahu itu sudah melototiku dengan pandangan penasaran ketika aku dan Sehun sampai di kelas.

TO BE CONTINUED–