From 10 Years Ago 20150701

FROM 10 YEARS AGO

Author : Alicia Diana Teresa
Main Cast : Do Kyungsoo, Seo Hyori
Rate : PG15
Note : Tulisan yang di cetak miring adalah flashback dan isi surat
Terinspirasi dari surat-surat dan amplop-amplop koleksi yang tak sengaja ditemukan saat bongkar-bongkar barang di kamar🙂

Pada suatu pagi, terdengar suara hiruk-pikuk dari sebuah apartemen mungil bertingkat dua yang terletak di pinggir kota Seoul. Pemilik apartemen itu rupanya sedang membereskan barang-barang yang tersimpan di dalam istananya selama bertahun-tahun. Di samping pemilik apartemen, tampak beberapa teman si pemilik juga ikut membantu. Entah sudah berapa jam mereka membongkar kamar yang satu dan kamar yang lain, namun mereka masih juga sibuk mengeluarkan dan memasukkan barang sampai saat ini.

Si pemilik apartemen, seorang gadis berambut cokelat, menepuk-nepukkan tangannya pada sebuah kardus bekas tempat sepatu. “Ah, kotak ini…” gadis itu tersenyum geli mengingat-ingat kenangan yang terdapat di dalam kotak sepatu itu. Ia membuka penutup kotak perlahan, mengingat debu yang melapisi kotak itu bisa membuatnya bersin-bersin selama seminggu penuh.

Di balik penutup kotak, kedua mata si gadis mendapati setumpuk surat-surat lama yang kini berwarna kekuningan. Ia meletakkan penutup kotak di lantai kemudian meraih segenggam amplop-amplop tanpa perangko. Tampak tulisan ‘to : Do Kyungsoo’ di bagian depan amplop. Gadis itu tertawa kecil dari balik maskernya sambil membuka sebuah amplop bergambar kelinci kartun.

Seoul, 14 September 2011

Hai, Kyungsoo~

Aku tahu baru beberapa bulan sejak aku mulai menyukaimu. Tapi rasanya aku sangat sangat jatuh cinta padamu.

Aku tidak bisa berhenti membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Akankah aku dekat padamu? Akankah kita saling berbicara? Ah, kau terlihat tampan sekali.

Kyungsoo, semoga kau sehat-sehat saja~

Gadis itu tertawa semakin besar saat membaca isi surat yang ia tulis sepuluh tahun yang lalu. “Astaga, aku norak sekali… Menulis surat cinta seperti ini. Benar-benar menjijikan,” ujarnya di sela-sela tawanya. Ia melipat kembali surat itu dan memasukkannya ke amplopnya seperti semula. Lalu ia mengambil amplop lain berwarna kuning.

Seoul, 23 November 2011

Kyungsoo, ada apa denganmu? Kenapa dimataku, kau selalu terlihat menghindari diriku? Apa salahku padamu? Walaupun begitu aku tetap menyukaimu.

Oh iya kemarin aku senang sekali. Aku beberapa kali pas-pasan denganmu di koridor sekolah~ semoga kita bisa lebih sering pas-pasan lagi, Kyungsoo

“Lho, Hyori? Apa yang kau tertawakan?” seorang teman memanggil gadis itu dari luar kamar. “Ah, surat-surat lama… Dari siapa?”

Gadis bernama Seo Hyori itu tertawa geli sambil membuka surat yang lain, “Ini kutulis untuk Kyungsoo… Sepuluh tahun yang lalu. Kau masih ingat Do Kyungsoo kan, Nami?”

“Aku tahu dia. Dulu kau benar-benar menyukainya selama empat tahun. Kyungsoo beginilah, Kyungsoo begitulah. Bahkan kau selalu mengucapkan selamat ulang tahun padanya walau ia hanya berbicara seperlunya padamu,” kata Nami. “Omong-omong bagian mana lagi yang harus kubereskan, Hyori?”

Kepingan-kepingan memori sepuluh tahun yang lalu terbayang di kepala Hyori. “Untuk hari ini cukup sekian saja. Besok kita lanjut lagi.”

Setelah Nami dan beberapa teman lainnya pamit, Hyori kembali duduk di hadapan kotak sepatu itu. Ia membaca surat yang ia buka tadi dan surat-surat lainnya hingga larut malam.

“Ya ampun, apakah dulu aku benar-benar menyukainya sampai seperti ini? Surat ini isinya norak sekali!” Seo Hyori mengoceh sambil membaca kertas surat yang kekuningan itu.

Seoul, 18 April 2014

Halo, Kyungsoo~

Kau dingin sekali padaku kemarin-kemarin. Kenapa sih?

Aku mulai lelah menyukaimu. Teman-temanku pun menyuruhku untuk move on. Tapi bagaimana ya? Sudah lama aku menyukaimu. Hyung-mu pun tahu bahwa tak mudah bagiku untuk move on darimu.

Dua sampai tiga tahun bukanlah waktu yang mudah bagiku untuk menyukaimu. Tak mungkin aku melupakan perasaan ini dalam waktu singkat.

“Bahkan sampai sekarang pun kadang-kadang aku masih merindukanmu, Kyungsoo…”

Tapi kupikir aku tak akan bisa berhenti menyukaimu. Kenapa? Soalnya aku benar-benar menyukaimu. Seperti Shinichi bilang, ‘apakah butuh alasan untuk menyukai seseorang?’

Sudah dulu ya, Kyungsoo. Aku harap aku bisa terus menulis surat seperti ini kepadamu. Bahkan aku harap kau bisa membaca isi surat ini… Suatu hari nanti. Hahaha~

Semoga kau selalu sehat dan suatu saat akan menyukaiku, Kyungsoo!

Hyori terkikik membaca surat-surat lain. Tidak hanya surat untuk Kyungsoo, tetapi juga surat-surat yang ia terima dari sahabatnya dulu.

Lalu kedua mata Hyori terpaku pada sebuah amplop putih polos yang kini kekuningan. Di bagian depan amplop terdapat tulisan ‘untuk diriku sepuluh tahun lagi’. “Ah, ternyata surat ini tersimpan disini… Tepat juga ya, sekarang sudah sepuluh tahun sejak aku menulis surat ini,” ujar Hyori sambil membuka amplop tersebut.

“Kyungsoo-ya, bagaimana kalau kita berpasangan? Aku jadi ketuanya dan kau jadi wakilnya.”

Pemuda bernama Kyungsoo itu menggeleng, “Tidak, terima kasih. Aku ingin bergabung dengan OSIS ini mulai dari kedudukan terbawah, sebagai anggota.” Setelah berkata demikian, Kyungsoo pergi tanpa menoleh ke belakang lagi. Sementara Hyori menatap kecewa punggung Kyungsoo yang terlihat semakin menjauh.

Esok harinya mereka bertemu lagi di dalam sebuah ruangan. Kyungsoo duduk dua deret dari kursi Hyori. Seorang pria paruh baya yang merupakan guru mereka berdiri di belakang podium dan menjelaskan tahapan-tahapan yang harus mereka lalui sebagai bakal calon ketua dan wakil ketua OSIS. “Sekarang saya akan mendata nama-nama bakal calon ketua dan wakil ketua. Silahkan sebutkan nama pasangan Anda mulai dari Seo Hyori,” guru itu menunjuk Hyori.

“Seo Hyori dengan Park Soora.”

“Selanjutnya.”

“Jo Youngmin dengan Do Kyungsoo.”

Youngmin dengan Kyungsoo?!

Hyori menatap kedua orang itu lamat-lamat. Ia tidak menyangka Kyungsoo lebih memilih berpasangan dengan si murid baru Youngmin daripada berpasangan dengannya. Padahal sehari-hari Hyori sudah membayangkan akan berada di satu ruangan yang sama dengan Kyungsoo setiap harinya. Merencanakan acara sekolah bersama. Berbagi tugas. Kemudian mereka pun jadi semakin dekat dan akhirnya berpacaran. Ah… pupus sudah harapan Hyori.

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Hyori membulatkan tekadnya. Ia yakin bahwa pilihan yang dipilihnya adalah benar. Maka gadis itu menghampiri seorang guru pendamping OSIS lalu mengatakan bahwa ia mengundurkan diri dari pencalonan ketua OSIS.

Pada akhirnya Hyori menjadi ketua bagian di OSIS dan Kyungsoo menjadi wakil ketua OSIS. Ini semua terjadi karena Kyungsoo yang menolak berpasangan dengannya. Ah… tapi mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Kini Hyori sudah berdiri di antara teman-temannya untuk menerima pin tanda keanggotaan OSIS.

Beberapa bulan kemudian, sebagian anggota OSIS berkumpul di aula sekolah untuk mempersiapkan sebuah acara tahunan. Hyori dengan semangat melukis, menempel, dan memasang hiasan-hiasan. Walaupun harus menghias aula sekolah sampai jam tujuh malam, hal itu tidak menyurutkan semangat Hyori. Sebab Kyungsoo juga ada di aula itu. Kyungsoo sibuk menelpon toko percetakan poster dan berbicara dengan guru-guru.

Sampai tiba-tiba Kyungsoo menghampiri panggung sambil menggenggam ponsel di tangan kanannya. “Ah, maaf ya… Aku harus pulang. Ibuku sudah mencariku.”

Tentu saja tidak ada yang bisa Hyori lakukan untuk menahan kepulangan Kyungsoo. Gadis bermata bulat itu hanya mengangguk mengiyakan kemudian turut mengucapkan salam seperti teman-temannya yang lain. Dan Hyori pun baru pulang saat waktu di ponselnya menunjukkan jam sembilan malam.

Gadis itu gelisah. Sangat gelisah. Nyaris setiap malam ia lewati dengan memimpikan pria yang sama padahal ujian masuk universitas tinggal enam bulan lagi. Ya, ia memimpikan Kyungsoo nyaris setiap malam. Orang-orang berpikir ia pasti sudah gila, memimpikan seorang pria sampai seperti itu. Padahal si pria itu belum tentu menyukai si gadis. Apalagi dengan adanya gosip-gosip…

“Kau tahu tidak, katanya Kyungsoo menyukai Eunsoo.”

“Eunsoo?” “Iya, Shin Eunsoo yang satu angkatan dengan Kyungsoo.”

“Ah, aku tahu. Eunsoo kan temanku saat SMP.” Sudahlah, untuk apa aku memikirkan gosip? Tidak apa-apa mereka berdua saling menyukai. Selama aula pernikahan dan pendeta belum disewa, aku masih memiliki kesempatan untuk menyukai Kyungsoo.

“Katanya Eunsoo juga menyukai Kyungsoo lho.”

Kata-kata seperti itu seakan-akan sudah menjadi lauk bagi telinga Hyori. Selama tiga setengah tahun menyimpan perasaan pada Do Kyungsoo, beberapa temannya mengirimkan gosip-gosip yang santer terdengar tentang si wakil ketua OSIS. Bahkan seorang teman Hyori yang tadinya menjadi tempat bercerita Hyori malah berbalik mendukung Kyungsoo dan Eunsoo.

Beberapa minggu kemudian, Hyori duduk di sebuah bangku putih dengan seorang pria di sampingnya. Pria itu adalah teman Hyori di OSIS, namanya Chanyeol. Chanyeol tahu apa yang terjadi di antara Hyori dan Kyungsoo. Ia sering menjadi tempat bercerita Hyori, seperti sekarang ini.

“Apa yang harus kulakukan, Chanyeol? Ujian tinggal sebentar lagi. Aku tidak bisa berkonsentrasi kalau seperti ini terus, di bayang-bayangi oleh perasaan suka padanya,” ujar Hyori.

Chanyeol bertanya, “Apa kau pernah terpikir untuk mengungkapkan perasaanmu padanya? Supaya kau lega, Hyori.”

Hyori menatap Chanyeol, “Kau… Serius?” Chanyeol mengangguk. “Tentu saja.”

Tadinya Hyori ingin mengungkapkan perasaannya setelah class meeting berakhir, berhubung class meeting ini adalah acara terakhir yang ia susun di SMA. Namun setelah bel pulang sekolah berbunyi, Kyungsoo pergi entah kemana. Hyori pun terpaksa membatalkan rencananya dan terus menunggu saat liburan musim dingin.

Waktu terus berjalan hingga liburan musim dingin selesai. Hyori tak bisa menahan perasaannya lebih lama lagi. Bisa-bisa ujiannya gagal kalau ia terus terbayang-bayang seperti ini. Begitu sekolah dimulai lagi, aku harus mengungkapkan perasaanku padanya! Harus!

Beberapa teman Hyori ada yang salah mengartikan ‘mengungkapkan’ sebagai ‘menembak’. Padahal tidak, keinginan Hyori tidak seperti itu. Ia hanya ingin mengungkapkan perasaannya agar ia lega. Apabila Kyungsoo membalas ungkapan itu, tentu saja ia akan sangat bergembira. Tapi kalau tidak yaa tidak apa-apa juga. Yang penting perasaannya sudah lega.

Dan akhirnya, tanpa bisa dihindari lagi, terjadilah hari itu.

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Hyori bertemu dengan Chanyeol di depan gedung sekolah. Chanyeol menyarankan agar Hyori menelpon Kyungsoo, jangan mengirim pesan singkat. Hyori pun menelpon Kyungsoo. Jantungnya berdetak sangat cepat sampai-sampai ia menjadi gugup.

“Ha, halo? Kyungsoo?”

“Ya?”

“Apa kau sedang sibuk?” tanya Hyori. Chanyeol menepuk dahinya sebelum memberi isyarat pada Hyori untuk melanjutkan pembicaraan itu. “Kyungsoo, aku hanya ingin mengatakan ini supaya aku lega. Bukan maksudku untuk ‘menembak’-mu, aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku karena sebentar lagi aku akan menghadapi ujian. Sebenarnya…”

Chanyeol megap-megap di udara, menyuruh Hyori untuk terus berbicara. Namun selama beberapa detik, hanya kata ‘sebenarnya’ yang keluar dari bibir Hyori. Hal ini membuat Chanyeol gemas.

“Sebenarnya… Aku sudah menyukaimu sejak 2011. Sejak kita berada di jambore di Gangwon-do. Tapi tidak apa-apa… Eh, kau tidak perlu menjawabnya. Aku kan hanya ingin mengungkapkan perasaanku. Terima kasih ya.” Pembicaraan itu langsung di putus oleh Hyori.

Di hadapan Hyori, Chanyeol berusaha menahan tawanya, “Hyori, aku tahu kau pasti malu sekali. Sekarang cepatlah kau lari meninggalkan sekolah ini dan kembali ke rumahmu.” Tanpa berpikir panjang, Hyori pun lari secepat kilat dari sekolah. Ah, tubuhnya terasa ringan sekali saat ia berlari. Seolah-olah seluruh beban di tubuhnya telah sirna. Sungguh melegakan.

Tanpa diduga, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Hyori pada jam delapan malam hari itu juga. Sebuah pesan singkat dari Kyungsoo.

Hyori memasukkan kembali amplop-amplop kekuningan itu ke dalam kotak sepatu. Ia tersenyum sekali lagi sebelum kotak itu diletakkannya di sudut ruangan, di antara tumpukan barang-barang yang masih ingin disimpan. Ah, masa lalu… Kalau diingat-ingat sekarang, semuanya terasa begitu menggelikan.

Gadis dengan kulit sawo matang itu mengambil ponselnya lalu mengetikkan sesuatu di situ.

Hari ini aku menemukan surat-surat cintaku untuk seseorang. Bolehkah aku menyimpan surat-surat itu, Sayang?

Ia mengirim pesan singkat itu kepada seseorang. Entah siapa itu yang ia panggil dengan sebutan ‘Sayang’. Kyungsoo? Seseorang yang lain? Entahlah… Hal itupun masih menjadi misteri bagi sang penulis cerita.

THE END


Ficlet yang saya buat waktu lagi beres-beresin barang-barang di kamar karena baru pulang ke rumah. Asal tau aja, kamar saya penuh sama komik, novel, kertas gambar, dan macem-macem yang intinya berbau kertas dan buku.

Hari apa gitu pas saya beresin, saya ketemu surat-surat dan amplop-amplop koleksi dan dari temen, hihihi. Lucu banget pas saya baca lagi satu-satu😀 dan saya pengen juga cobain nulis surat buat diri saya sepuluh tahun mendatang. Tapi belum sempet, soalnya sibuk ngurusin Kyungsoo sama Chanyeol, hahaha~