req01-alicia-dt_sda_by-arestanov

TREE OF LIFE

Author : Alicia Diana Teresa
Main Cast : Oh Sehun, Kwon Nami (OC)
Genre : Fan fiction, AU, romance
Rate : PG15
Credit poster to Arestanov at School Art Design

Benar saja dugaanku saat aku, Yongdae, Yunji, dan Soora menikmati siraman matahari sore di trotoar sepulang sekolah menuju tempat karaoke di Apgujeong-dong. Ketiga sahabatku itu langsung mencecarku dengan berbagai macam pertanyaan, seperti paparazzi.

Lee Yongdae si penggosip maut menarik lenganku sehingga aku berdiri tepat di sebelahnya. “Tadi kalian kemana saja setelah makan di kantin? Kok kami tidak melihat kalian di kelas.”

“Iya, iya! Apalagi kau juga meninggalkan ponselmu di loker, Kwon Nami,” sahut Park Soora ikut-ikutan sementara Bang Yunji hanya terkekeh melihatku diserbu seperti itu. Huh, dasar mereka ini.

“Hmm, jangan-jangan… mereka…” Yongdae menggantungkan ucapannya sambil melirikku dengan mata jahilnya. “Jangan-jangan sebenarnya ada sesuatu di antara mereka. Hei, Kwon Nami! Kau menyembunyikan sesuatu dari kami ya?”

Aku menggeleng cepat, “Tidak! Kalian pikir sudah berapa tahun kita berteman, hah? Kalian pasti tahu kalau ada apa-apa aku akan bercerita. Kalian tidak percaya padaku?” Kuserbu balik mereka bertiga dengan pertanyaan retoris–tidak perlu dijawab.

Bang Yunji menyelipkan lengannya yang putih ke lenganku tanpa rasa canggung seperti yang sering kami lakukan, “Bukan begitu, Nami. Kau tahu kan kami menginginkan yang terbaik bagimu? Yah, Yongdae dan Soora cerewet-cerewet begitu juga untuk kebaikanmu.”

“Ya, ya, aku tahu kok… kau ini terlalu serius, Yunji!” aku mencoba menyentil dahi Yunji sambil tertawa.

Park Soora menyahut, “Maklum otak Yunji sedang stress karena ujian tengah semester. Ya kan, Yunji?” Gadis berambut hitam bergelombang itu terkikik, membuat wajah Yunji merona merah. “Sudahlah, jangan terlalu memikirkan ujian tengah semester! Nikmati dulu karaoke kita hari ini, Yunji!”

“Omong-omong setelah karaoke kita mau pergi kemana?” tanya Yongdae mengalihkan pembicaraan. “Aku ingin membeli giwang baru,” tambahnya.

Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam kantong sweater yang hangat, “Astaga, Lee Yongdae! Bukankah baru minggu lalu kau membeli giwang?”

Pria berambut cokelat kemerah-merahan itu mengangkat kedua bahunya seraya memasang ekspreri tak mau tahu di wajahnya.

Lalu beberapa menit kemudian kami berempat sampai di tempat karaoke yang kami tuju. Seorang pelayan berkemeja warna pastel mengantarkan kami ke sebuah ruangan berukuran tiga kali empat meter yang di dominasi oleh gaya minimalis, mulai dari desain wallpaper-nya sampai ke pajangan meja. Sebelum pergi pelayan itu mengucapkan selamat berkaraoke ria dan menutup pintu tebal yang lumayan berat.

Spontan Park Soora dan Bang Yunji melempar tas masing-masing ke atas sofa kemudian meraih dua microphone yang telah disediakan. “Baiklah! Hari ini kita akan mulai melatih Kwon Nami menjadi penyanyi profesional. Apa kau siap, Soora?” suara Yunji yang jernih terdengar di seluruh ruangan. “Mari kita mulai dengan 2NE1 – Ugly!” Soora memencet sebuah tombol sehingga tepuk tangan riuh menyambut lagu 2NE1 di ruangan kami.

“Nami, coba perhatikan dulu bagaimana aku dan Soora bernyanyi. Setelah itu baru kau mencoba, oke?”

Aku mengangguk mengiyakan sambil menyandarkan punggung ke sofa yang empuk di sebelah Yongdae yang menggenggam maracas. Sementara suara Soora dan Yunji mulai mengiringi instrumental dari lagu 2NE1 – Ugly. Mereka berdua berduet dengan semangat hingga tak terasa sudah lima lagu mereka nyanyikan. Hahaha, sebenarnya yang mau latihan nyanyi itu aku atau Soora dan Yunji? Ah, sepertinya Yongdae tak menyadari Soora dan Yunji sudah bernyanyi begitu lama. Biarlah, biar mereka yang stress bergembira. Aku bisa latihan sendiri di kamar mandi, hahaha.

Sebelum Yongdae memulai lagu ke-enam, Yunji tersenyum kepadaku. Tapi kemudian senyumnya hilang digantikan dengan bentuk huruf “O” di mulutnya. “Astaga, aku lupa! Seharusnya Nami yang nyanyi, bukan kita!” Buru-buru Yunji mengulurkan sebuah microphone padaku kemudian menarikku berdiri ke depan layar TV.

“Oh iya, kita kan mau melatih Nami ya, bukan nyanyi-nyanyi sampai puas, hahaha. Aku lupa,” ujar Soora sambil menepuk dahinya. Gadis yang memiliki tiga kakak laki-laki itu meletakkan microphone di atas meja sebelum pergi ke sofa dan duduk di sampingku. “Sana, bernyanyilah.”

Aku mengambil microphone dan menelan ludah. Bisakah aku bernyanyi? Suara musik intro telah dimulai. Rasanya telapak tanganku jadi berkeringat.

“Balkge useobojiman, nae mame deulji anha… nan yeppeuji anha areumdapji anha, oh oh oh oh…” dan aku merasa diriku begitu ringan saat bernyanyi. Suara-suara yang begitu bersemangat dan indah keluar entah dari mana. Aku tak memedulikan lagi sorak-sorai suara Soora, Yunji, dan Yongdae yang ikut bernyanyi di belakang sambil memainkan maracas. Rasanya begitu… bebas.

“Don’t lie to my face, cause I know I’m ugly…”

Aku mengakhiri lagu Ugly yang dipopulerkan oleh 2NE1 itu dengan satu tarikan napas panjang. Lalu ketiga sahabatku itu bertepuk tangan heboh dan memencet tombol yang menimbulkan suara tepuk tangan riuh lagi di seluruh ruangan karaoke.

“Wowowow! Keren sekali, Kwon Nami!” kata Yongdae sambil mengacungkan kedua ibu jarinya. “Bagaimana kalau kau mendaftar jadi trainee YG Entertainment?”

“Setelah ini lebih banyak lagi pria yang jatuh cinta pada Kwon Nami kita. Yehey!” seru Park Soora.

“Aduh, apa-apaan sih kalian? Suaraku tidak sebagus itu.”

Bang Yunji meneguk segelas cola sebelum ikut berkomentar, “Ya, suaramu memang masih biasa-biasa saja. Tapi kalau dilatih terus pasti bisa jadi lebih bagus. Kwon Nami, semangat~”

Aku meletakkan microphone di sembarang tempat kemudian duduk di sebelah Yongdae, “Iya, terima kasih… kalian baik sekali.”

Mereka bertiga nyengir sebagai reaksi dari ucapan terima kasihku. Namun, suasana haru tersebut hanya berlangsung beberapa detik sebab tak lama setelahnya Yongdae mengambil alih microphone dan ia menyanyikan lagu-lagu Girls Generation dengan suaranya yang agak-agak tidak sampai, apalagi pas bagian Taeyeon.

Ya astaga, Lee Yongdae. Sejak dulu pria itu tak henti-hentinya bernyanyi seenak jidat padahal Soora, Yunji, dan aku sudah memaksanya untuk mengambil les olah vokal. Aku menghela napas sebelum meneguk jus stroberiku.

Kuharap setelah acara ini kepalaku tidak sakit karena suara Yongdae.

Esok paginya adalah hari Sabtu, hari dimana kami–para murid tidak pergi ke sekolah alias libur. Sekolahku memang hanya memberlakukan hari Senin sampai Jumat sebagai hari sekolah. Tidak seperti sekolah Jinhyuk Oppa yang dulu, sekolahnya dari hari Senin sampai Sabtu.

Untunglah kepalaku tidak sakit setelah mendengar nyanyian Yongdae yang tidak terdengar seperti nyanyian. Lagipula entah kenapa hari ini aku bangun lebih pagi dari biasanya.

“Nami!!!” suara Ibu memanggilku. Buru-buru aku meletakkan ponselku di atas nakas dan turun ke lantai satu, menghampiri Ibu yang sedang memasak di dapur.

“Ya, Ibu?”

Ibu mengoseng-oseng wajan dihadapannya sambil berkata, “Tolong beli bubuk lada hitam, garam, daun seledri, dan fillet ikan dori di supermarket ya?”

Aku mencolek semangkuk bumbu cair berwarna hitam dan memakannya, “Kenapa tidak minta tolong pada Oppa? Aku baru bangun, Bu.”

“Jinhyuk baru pulang tadi subuh. Masa kau tega membangunkannya dan menyuruhnya ke supermarket? Ia pasti lelah. Lagipula Minhyuk sudah pergi entah kemana.”

Aku menghela napas. Apa boleh buat… ah iya, sekalian beli es krim saja. Hmm, mungkin kali ini aku bisa beli sepuluh stik es krim kali ya?

Ibu memberiku dompet yang biasa ia bawa kalau berbelanja ke pasar. “Pergilah setelah merapikan diri,” ujarnya.

Karena berpikir bisa membeli es krim, akupun membersihkan diri dengan semangat sehingga dua puluh menit kemudian aku sudah siap pergi ke supermarket. “Nami, sebelum pulang mampirlah ke toko Kim Minjun. Minjun akan memberimu sesuatu.”

“Iya, Bu. Aku pergi dulu!” kataku setelah selesai memakai sepatu.

Aku pergi ke supermarket langganan keluarga yang letaknya dua stasiun kereta dari rumah. Agak jauh memang. Tapi hanya supermarket itulah yang memiliki harga termurah di kota. Selain itu ada es krim koin disana. Ah, bayangkan saja es krim koin itu seperti sistem pembelian es krim di IKEA.

Oh astaga, es krim. Aku tergila-gila dengan es krim. Sejak kecil aku bisa makan es krim lebih dari lima belas stik es krim. Tapi sejak kejadian itu…

“Halo, Kwon Nami kan?”

Aku berhenti membayangkan masa kecilku dan mendapati seorang pemuda tengah berdiri di sampingku. “Kau mau pergi kemana?” tanyanya sekali lagi.

“Ke supermarket di kota sebelah. Kau sendiri?” Aku menunjukkan tas belanja dan kertas catatan padanya.

Pemuda berkulit putih susu itu memasukkan kedua tangannya ke saku celananya, “Wah, kebetulan sekali… aku juga mau pergi ke sana. Bagaimana kalau kita jalan bersama?”

Aku mengangguk mengiyakan, “Apa yang ingin kau beli disana?”

“Umm, daging ayam, minyak olive, lada, dan masih banyak lagi. Hyung-ku dan istrinya baru datang dari Indonesia, jadi Ayah memintaku membeli bahan-bahan itu dan memasaknya untuk mereka,” ujar Oh Sehun seraya masuk ke dalam kereta bersamaku.

“Kau punya kakak laki-laki?”

Kami duduk di salah satu deret kursi yang kosong. “Ah, dia sepupuku. Aslinya sih, aku hanya mempunyai satu adik perempuan, namanya Oh Seolgi.”

Ooh, begitu…

“Bagaimana denganmu, Nami?”

“Eh, oh? Err, aku anak bungsu. Ada dua kakak laki-laki, yang satu sudah bekerja dan lainnya masih kuliah.”

Sehun manggut-manggut, “Berarti kau ini satu-satunya anak perempuan di keluarga?” Aku mengangguk mengiyakan, “Iya, benar.” Lalu pembicaraan kami meluas ke banyak topik, mulai dari jadwal pelajaran di kelas sampai ke apa yang kulakukan di festival kegiatan kampus Minhyuk Oppa.

“Jadi kau bakal menyanyikan lagu 2NE1?” Tanya Sehun ketika kami keluar dari stasiun bersama.

“Iya. Kemarin aku baru saja pergi ke karaoke bersama Soora, Yongdae, dan Yunji. Umm, kata Soora sih suara-ku baik tapi masih butuh latihan lebih banyak. Apalagi festival itu diadakan tiga minggu lagi.”

Kami berjalan berdampingan di trotoar kota sebelah yang ramai akan pejalan kaki. Sebenarnya tidak butuh waktu lama untuk sampai di supermarket itu, hanya sepuluh menit dari stasiun. Tapi penuhnya trotoar hari ini membuat kami harus berdesak-desakan dan mengucapkan kata “permisi” berulang kali. Ada apa sebenarnya di trotoar hari ini?

“Pamanku itu pelatih vokal para calon penyanyi. Bagaimana kalau kau berlatih dengannya?”

“Tidak, tidak perlu! Aku kan hanya menyanyi sekali itu saja. Buat apa berlatih sampai segitunya? Biasa sajalah,” aku meringis pada Sehun. Tapi sebenarnya bukan itu saja alasanku… menyewa pelatih butuh biaya. Darimana aku bisa mendapatkan biaya itu? Mengandalkan uang jajan? Tidak rela. Minta Ibu? Umm, tidak, tidak. Minta Oppa? Tidak juga. Tuh kan.

Sehun hanya mengangguk-angguk, entah apa artinya. Bertepatan dengan selesainya pembicaraan kami, kami tiba di depan supermarket yang didominasi oleh warna biru itu. Masing-masing dari kami mengambil troli kemudian mendorongnya masuk ke dalam supermarket.

“Sehun, aku pergi ke arah sana ya. Kita berpisah disini,” ujarku sambil menunjuk bagian buah-buahan.

Ia mengangguk lagi sebelum berkata, “Tapi nanti pulangnya barengan lagi ya?”

Aku tertegun sesaat. “I, iya, baiklah.” Lalu buru-buru aku pergi ke bagian buah-buahan dan meraup buah pir secukupnya. Oh iya, tenang saja, aku juga pergi ke bagian tempat barang-barang yang Ibu pesan diletakkan. Umm… setelah itu…

…es krim!

Angin dingin langsung menyambutku begitu kotak penyimpanan es krim kubuka. Aku mengambil sepuluh batang es krim tanpa melihat-lihat lagi harganya berapa (ini kebiasaan burukku begitu melihat es krim, jangan ditiru ya). Astaga, sudah berapa lama aku tidak makan makanan manis ini? Sebulan? Dua bulan? Yang jelas aku sudah tidak sabar ingin mencicipi es krim ini.

Setelah membayar semua barang belian, aku keluar supermarket dan langsung membuka salah satu bungkus es krim. Benda dingin itu menyentuh lidahku lalu hilang dalam sekian detik, tidak sampai semenit. Lalu es krim yang kedua, yang ketiga, yang keempat…

“Hai, Nami. Sudah selesai belanja?”

“UHUK! UHUK! UHUK!”

“Ya! Kau kenapa?” suara Sehun membuatku tersedak es krim. Astaga, konyol sekali aku ini. Aku jadi malu… wajahku pun memanas. “Jangan panik, coba keluarkan napasmu, Nami. Nah, sekarang tarik napas. Hembuskan lagi. Iya, bagus. Sudah lebih baik?”

Aku mengangguk sambil tetap megap-megap seperti orang (nyaris) tenggelam. “Hah, kau mengagetkanku saja, Sehun.”

“Maaf,” ia mengedipkan sebelah matanya padaku dan seketika itu juga rasanya jantungku seperti dijatuhi bom. Apa nih? “Ya sudah, yang penting sekarang sudah tidak apa-apa lagi kan? Mau pulang?”

“Mau lah. Ayo, cepat kita pulang sebelum jam empat sore! Aku mau belajar Kimia untuk ulangan Senin besok.”

Sehun berhenti melangkah lalu ia menatapku, “Ulangan Kimia?” Aku mengangguk lagi menjawab pertanyaannya. “Wah, gawat. Aku tidak tahu Senin besok ulangan. Bahannya apa?”

“Kimia Karbon… senyawa turunan Alkana. Kau sudah pernah belajar itu kan?”

Sekarang Sehun yang mengangguk. “Sudah sih, tapi… aku merasa kurang yakin. Boleh kita belajar bareng?”

Nah, jantungku rasanya copot mendengar pertanyaannya. “Be, belajar bareng?”

Sehun mengangguk lagi, “Iya. Kau mengerti eter, keton, begitu-begitu kan, Nami?”

“Mengerti sih, tapi…”

“Ya sudah, kalau begitu aku akan datang ke rumahmu setelah meletakkan barang-barang ini dan mengambil alat tulis. Oke?” Entah kenapa kedua bola mata Sehun terlihat senang. Ah, aku jadi tak tahu bagaimana harus menolak pria ini.

“Oke.”

-..-

Aku membereskan alat tulisku yang berserakan di atas meja sebelum memasukkan kotak pensil secara asal ke dalam tas sekolah. Bel pulang sekolah sudah berbunyi lebih dari lima belas menit yang lalu tapi aku baru bisa keluar kelas sekarang. Sementara itu kelas sudah kosong, tinggal aku sendiri. Huft.

Ah, hari ini Soora, Yongdae, dan Yunji tidak bisa menemaniku latihan karaoke. Mereka bertiga punya kesibukan masing-masing yang anehnya ada berbarengan di hari ini. Ugh, kenapa sih mesti hari ini? Pergi karaoke sendiri kan rasanya… krik krik. Tapi setelah kupikir-pikir mungkin ada baiknya juga pergi karaoke sendiri. Mau nyanyi sejelek apapun tidak akan malu di depan ketiga orang itu, hahaha.

Seperti biasa aku pergi ke karaoke yang sering kami berempat kunjungi. Beberapa pegawai disana sudah mulai mengenal wajahku saking seringnya aku ke sini beberapa minggu belakangan ini. Omong-omong, ini tinggal seminggu lagi menuju festival di kampus Minhyuk Oppa. Wuoh, memikirkan hal itu kini membuat jantungku berdetak lebih kencang!

Astaga, tenanglah jantungku.

Aku menghela napas panjang sebelum meraih microphone dan mulai menyanyikan lagu A Pink – Mr. Chu.

-..-

Sehun : Nami, besok mau nonton bioskop sepulang sekolah tidak?

Aku : Boleh. Ada apa ini? Kok tiba-tiba kau mengajak aku nonton bioskop?

Oh Sehun sent a sticker

Aku : Ei, apa itu main rahasia-rahasiaan? Beritahu aku, Sehun!

Oh Sehun sent a sticker

Sehun : Pokoknya besok tunggu aku di gerbang sepulang sekolah. Filmnya “Deliver Us From Evil”, mulai jam enam sore

Aku : Oke deh. Omong-omong besok perginya sama Yongdae, Seungyoon, Yunji, dan Soora juga kan?

Lama kutunggu balasan dari Sehun tapi pria itu tak kunjung membalas pesan terakhirku. Membacanya saja pun tidak. Kemana dia? Ngajak orang pergi lalu hilang begitu saja.

Eh iya… “Deliver Us From Evil” itu bukannya film thriller ya? Duh…

Esok harinya sepulang sekolah, aku menunggu Yunji, Yongdae, Soora, Seungyoon, dan Sehun di gerbang seperti yang telah disepakati. Ternyata semuanya belum ada di gerbang itu. Kukira mereka sudah menungguku duluan karena sepulang sekolah tadi pada keluar duluan dari kelas, meninggalkanku. Ah, kemana mereka? Kulirik jam tangan yang melingkar di lengan kiriku. Jarum jam sudah menunjukkan jam lima sore. Kalau kami tak jalan sekarang, kami bisa terlambat masuk bioskop.

Aku mengetikkan sesuatu di grup live chatting.

Aku : Pada ada dimanaaa? Filmnya mulai jam 6 kan? Kalau kita tidak jalan sekarang, nanti bisa telaaaat

Yongdae : Film apa sih? Memangnya kita punya janji bertemu hari ini?

Bang Yunji sent a sticker

Aku : Lho, bukannya kita mau nonton “Deliver Us From Evil” di bioskop hari ini?

Yunji : Ei, Kwon Nami… kau mau kencan dengan siapa?

Seungyoon : Jangan-jangan sama Sehun ya? Tadi dia pegang tiket bioskop gitu saat mau pulang

Lee Yongdae sent a sticker

Yongdae : SERIUS?

Yongdae : KWON NAMI, JAWAB PERNYATAAN ITU. KAU PACARAN DENGAN OH SEHUN?

Yongdae : HEI, KWON NAMI!

Yongdae : HEI, PULAU NAMI!

Jadi hanya aku yang diajak oleh Sehun?

Astaga, kenapa pula wajahku memanas seperti ini?

“Nami, kau sudah menunggu lama?”

Aku menoleh, melupakan chat itu dalam sekejap dan mendapati Sehun yang sudah mengganti kemejanya dengan kaos berdiri di hadapanku. Tampak keringat menghiasi sisi-sisi wajahnya. “Nami, maaf ya. Tadi gerombolan Nam Hwayoung memanggilku… yah, biasalah. Aku dicegat. Kau sudah menunggu lama?” ia mengulang pertanyaannya lagi.

“Yah, lumayan lama sampai aku bisa menghabiskan sepuluh stik es krim disini.”

“Waduh! Maaf bangeeeet! Nanti aku traktir es krim deh di bioskop, oke?”

Aku menyeringai, hahaha. Yes.

Sementara ponselku masih berisik akibat grup yang penasaran apa yang terjadi denganku dan Sehun hari ini.

Bioskop yang kami tuju terletak di daerah pusat kota, agak jauh dari sekolah namun masih dekat dari rumah kami. Selama berada di bus, aku hanya diam mendengarkan lagu lewat earphone sambil membaca berita-berita tentang selebriti. Sementara Sehun kadang-kadang cekikikan, entah apa yang ia lakukan dalam ponselnya.

Tiba-tiba ia mencolek lenganku. “Hei, Nami…”

CKITTT!

“Aduh!”

Sial, bus itu ngerem mendadak. Aku akan jatuh di antara para pekerja kantor kalau Sehun tidak menahan tubuhku. Hah, untung ada dia di belakangku. Tangan-tangan Sehun yang besar dan panjang dengan cepat menggapai tubuhku saat bus itu ngerem.

“Nami, kau baik-baik saja?” tanya Sehun, nada suaranya terdengar khawatir.

Aku mengangguk, “Aku baik-baik… OH SEHUN, TANGANMUUU!!!” Spontan aku memukul tangan Sehun yang ternyata… ternyata menyentuh… dadaku. Astaga.

“AAAA! MAAF, NAMIIIII!!!”

Orang-orang di bus jadi memperhatikan kami. Uhh, aku malu sekali. Bagaimana ini? Bagaimana mau nonton bioskop setelah kejadian ini? Astaga, astaga, astaga. Mati aku.

Entah beruntung atau sial, bus berhenti di halte selanjutnya. Aku buru-buru turun dari bus itu dan berjalan cepat menuju bioskop yang sudah terlihat plang namanya.

“Hei, Kwon Nami! Tunggu!”

Bagaimana aku mau berhenti berjalan kalau aku tak bisa menatap wajahnya?

“Kwon Nami, tunggu kubilang!”

Oh Sehun menarik lengan kiriku sehingga kini aku berhadap-hadapan dengannya. Uuh, walaupun berhadapan dengannya aku masih tak mampu menatap wajahnya. Aku masih tertunduk menatap kakiku dan kakinya.

Sehun melepaskan genggamannya pada lenganku, “Nami, itu tak sengaja. Aku tak tahu…”

“Sudahlah, aku tahu itu hanya kecelakaan. Err, umm, ayo, sekarang kita jalan ke bioskop. Filmnya sudah mulai.” Aku tak tahu reaksi apalagi yang pantas kuberikan padanya karena rasanya aku ingin lari ke sungai Han dan menceburkan diri di sana. Aku maluuuuu!

Alhasil, kami masuk ke studio bioskop dengan canggung. Layar bioskop sudah menunjukkan wajah Eric Bana yang merasa aneh di rumahnya sendiri. Ah, benar… disini aku hanya perlu fokus pada film. Lupakan soal kejadian tadi, Kwon Nami!

-..-

Tepukan-tepukan kecil di pipiku membuat kedua bola mataku terbuka. Lho, filmnya sudah selesai? Aku… aku tertidur? “Sudah puas tidurnya, Nami?” tanya Sehun sebelum meneguk teh lemon dari gelas kertasnya.

“Aku tertidur…?”

Sehun mengangguk mengiyakan sambil meletakkan gelas kertas yang sudah kosong di bawah kursi. “Yuk, keluar dari sini dulu. Lapar nih, aku butuh restoran.” Aku mengikutinya keluar dari studio bioskop.

“Kau ini parah sekali ya, hahaha… baru dua puluh menit duduk, kepalamu sudah jatuh di bahuku,” kata Sehun di tengah tawanya. “Mana pas tidur mulutmu terbuka.”

Yuk, pergi ke Sungai Han. Terjun dari Sungai Han. Astaga, aku malu sekali! Kenapa aku tidur dengan mulut terbuka sih? Aduhhh! Aku mengusap-usap mulutku untuk memastikan tidak ada air liur yang bertengger di sana. Euh.

“Makan di restoran itu yuk? Sepertinya ada yang enak di situ,” Sehun menarik tanganku.

Kenapa kali ini terasa berbeda saat kurasakan genggaman Sehun di tanganku? Kali ini rasanya aku begitu menikmati setiap sentuhan dari telapak tangannya yang besar. Dunia di sekitarku seolah-olah bergerak lebih lambat. Satu hal yang bisa kulihat hanya punggung Sehun yang ada di hadapanku, selainnya jadi hitam putih.

Seperti di film-film romantis, aku ingin agar waktu berhenti disini sehingga aku bisa menikmati momen ini selama mungkin.

Restoran penuh dengan (lagi-lagi) para pekerja kantor yang kebanyakan adalah pria. Dari pintu masuk aku bisa mencium aroma bir dan ayam goreng… menu favorit masyarakat belakangan ini. Ah, sesekali aku ingin mencoba bir juga nih. Melihat ekspresi para pekerja kantor setelah meneguk sebotol bir, mungkin boleh juga kalau aku minum bir setelah ujian semester.

Aku dan Sehun memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela. Dari situ kami bisa melihat para pejalan kaki dan kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang. Lalu seorang wanita dengan make-up tebal meletakkan buku menu di atas meja kami. Wanita itu hanya melihat Sehun. Ia menyenggolku dan menyentuh lengan Sehun.

“Hai, tampan~ kau mau pesan apa?”

PFFTTT!

Dari balik tubuh wanita itu Sehun mengirim sinyal “jangan tertawa kalau masih ingin hidup” sementara aku menahan tawaku mati-matian.

“Apa kau ingin aku yang memilihkan menu untukmu, tampan?”

Sehun melepaskan sentuhan wanita itu dari lengannya kemudian menarikku ke dalam pelukannya, “Maaf ya, aku ingin memilih menu bersama pacarku. Kau bisa kembali lagi nanti.” Sehun tersenyum menatapku.

Wanita itu mencibir jengkel sebelum akhirnya meninggalkan kami dan membanting nampan di konter minuman.

“Akhirnya dia pergi juga…” ujar Sehun lega. Ah, aku masih berada dalam pelukannya. “Nah, kamu mau pesan makanan apa, Nami?”

Tunggu. Apa Sehun tidak sadar bahwa ia masih memelukku? Apa Sehun tidak sadar dagunya berada di puncak kepalaku? Apa Sehun tidak sadar tangannya melingkari tubuhku?

Ah, kurasa aku mengerti perasaan tadi, perasaanku dimana aku ingin waktu berhenti. Sebab kali ini perasaan itu muncul lagi… dan seolah-olah mau meledak dari dalam hatiku. Astaga, aku menyukai Oh Sehun.

TO BE CONTINUED–