req01-alicia-dt_sda_by-arestanov

TREE OF LIFE

Author : Alicia Diana Teresa
Main Cast : Oh Sehun, Kwon Nami (OC)
Genre : Fan fiction, AU, romance
Rate : PG15
Credit poster to Arestanov at School Art Design

“Ini tiket festival kampus Minhyuk Oppa untuk kalian berlima,” ujarku sambil menyodorkan lima lembar kertas berwarna oranye. “Pertunjukanku dua hari lagi, di hari pertama jam tiga sore di aula A.”

“Wah, tiket VIP! Kita dapat tiket VIP! Hei, Nami, apa kau membeli tiket-tiket VIP ini khusus untuk kami?” tanya Soora.

Aku menggeleng, “Tentu saja tidak. Chanyeol Oppa yang memberikannya untuk kalian semua.”

Yunji mengernyitkan dahi dan menatapku curiga, “Wah, Chanyeol? Chanyeol Oppa?”

“Ah!” Tiba-tiba Yongdae nyaris membuat jantung kami terjun. “Omong-omong tentang pria, kemarin apa yang kau lakukan dengan Sehun, Nami? Kemana kau pergi setelah menonton bioskop?” Bagus, Yongdae menghapus topik festival di kampus Minhyuk Oppa dari kepala teman-teman satu grup kami dan menghadirkan topik Sehun dan aku, mumpung Sehunnya sedang tidak ada. Huh, dasar penggosip!

Kini mereka semua menatapku dengan tatapan penuh ingin tahu. Bahkan Seungyoon pun tertular virus penggosip, padahal Seungyoon yang kukenal dulu adalah Seungyoon yang kalem dan tidak begitu melarutkan diri dalam gosip sekolah.

“Cepat ceritakan! Kami tahu, kalian diam-diam pacaran kan?”

Aku mengerutkan dahi, “Apa-apaan sih, Yunji? Pacaran darimananya? Jangan sebarkan berita yang tidak-tidak dong!”

“Makanya beritahu kami yang sebenarnya!” Yongdae sepertinya minta kupukul.

Aku berdeham sebelum mengingat-ingat kembali kejadian tiga hari yang lalu. Entah aku gila atau menderita gejala delusional, tapi sentuhan Sehun masih terasa di kulitku. Suaranya yang berat masih terngiang-ngiang di kedua telingaku. Dan genggaman tangannya…

“Tuh kan, sudah pasti mereka pacaran. Lihat, wajah Nami sampai memerah begitu. Mana ada pria yang mampu membuat wajah Kwon Nami seperti itu?” kata Soora sambil melahap kimbab buatan ibunya.

“Iya! Iya! Aku cerita nih…” dasar, mereka ini kadang sangat menyebalkan tapi kadang sangat menyenangkan. Kenapa aku memilih mereka sebagai sahabatku sih? Hahaha~ aku menceritakan kejadian tiga hari yang lalu bersama Sehun dengan sangat detail. Soora, Yunji, Seungyoon, dan Yongdae sangat terkejut ketika aku sampai di bagian ‘kecelakaan’ di bus dan pelayan di restoran. Coba kalau batere ponselku penuh, aku pasti sudah mengabadikan ekspresi wajah mereka!

Aku mengakhiri ceritaku dengan baik : aku sampai di rumah di antar oleh Sehun kemudian tertangkap basah pulang malam oleh Jinhyuk Oppa. Malam itu bahkan Jinhyuk Oppa melihat aku dan Sehun yang saling melambaikan tangan.

“Jinhyuk Oppa melihat kalian? Lalu apa yang Jinhyuk Oppa katakan?” kedua bola mata Yunji membulat. Sepertinya seru sekali ya mendengarkan ceritaku.

“Jinhyuk Oppa…”

Pintu kelas bergeser kemudian Park Seonsaeng masuk dan berdiri di belakang mimbar. Seungyoon buru-buru pergi keluar kelas sambil mengucapkan salam pada Park Seonsaeng. Ah… terima kasih, Park Sonsaeng. Anda telah menyelamatkan salah satu murid Anda dari keingintahuan teman-temannya yang kelewat besar.

Tak berapa lama setelah Park Seonsaeng masuk, pintu kelas bergeser lagi. Sosok Oh Sehun muncul dari balik pintu itu sambil terengah-engah. “Park Seonsaeng, maaf saya terlambat. Tadi saya diajak main basket sama anak kelas sebelas, Seonsaeng,” ujar Sehun dari samping mimbar.

Park Seonsaeng mengangguk, “Ya sudah, tidak apa-apa. Lain kali jangan terlambat lagi atau saya suruh kamu belajar di luar.” Sehun menghela napas lega sambil berjalan menuju kursinya yang berada di sebelah Soora. “Nah, sekarang buka buku paket kalian halaman 31. Selasa minggu depan saya mau mengadakan ulangan.” Suara keluhan pun terdengar di seantero kelas.

Bel pulang sekolah sudah selesai berbunyi sejak beberapa menit yang lalu. Tapi aku masih sibuk membereskan buku-buku dan alat tulisku yang berserakan di atas meja. Teman semacam Soora, Yunji, Yongdae, dan Sehun sudah meninggalkanku sejak bunyi bel itu terdengar. Huh.

Well, sebenarnya aku tidak apa-apa kok ditinggal seperti ini (astaga, kalimat ini terdengar menyedihkan sekali). Berada sendirian di ruang kelas yang jendelanya terbuka membuatku jadi bisa menikmati angin sepoi-sepoi yang bertiup dari lapangan basket sekolah. Membuatku mengamati ruang kelas yang tidak akan digunakan oleh anak-anak kelas dua belas selama setahun penuh.

Tiba-tiba aku terpaku pada kursi Sehun.

Aduhhh! Aku ini kenapa sih? Hentikan, Kwon Nami!

“Lho, Nami masih disini?”

“Hai, Sehun,” sapaku.

Sehun masuk ke dalam kelas dan menghampiriku, “Kenapa kamu belum pulang?”

Aku melanjutkan membereskan buku-bukuku kemudian merisleting tas dan menyampirkan tas itu di bahuku. “Biasa, buku-bukunya belum kubereskan. Kau sendiri kenapa balik ke kelas? Bukannya tadi kau sudah keluar bersama Soora, Yunji, dan Yongdae?”

Pria berkulit putih susu itu berjalan ke mejanya, “Aku melupakan ini.” Ia mengambil sesuatu dari laci meja. Ah, kacamatanya. Kedua mata Sehun ada silinder dan minus, kalau melihat orang atau benda yang jauh ia membutuhkan kacamata. Jadi yah, kacamata itu harus selalu ada di dekatnya. “Nah, mau pulang bareng, Nami?”

Entah setan apa yang merasukiku, aku mengangguk begitu saja. “Sunbae-sunbae itu tidak akan marah kan, aku pulang bersamamu?”

Sehun tertawa kecil, “Mana bisa mereka marah… mereka tidak punya hak apapun atas diriku. Mereka bukan saudaraku, temanku, apalagi pacarku.”

Omong-omong tentang teman, aku jadi ingat aku belum menyerahkan tiket festival kampus Minhyuk Oppa pada Sehun! Kurogoh-rogoh tas ranselku, mencari dompet.

“Ini tiket apa?” tanya Sehun begitu ia menerimanya.

“Pertunjukkan menyanyi yang diminta oleh ketua senat Minhyuk Oppa itu lho… yang tempo hari kuceritakan pada kau.”

Sehun mengangguk-angguk mengerti, “Hmm, dua hari lagi di Universitas Nasional Korea. Baiklah, aku akan datang. Eh iya, Nami…”

Aku menoleh sambil mengganti sepatu dalam dengan sepatu kets hijau Reebok-ku. “Ya? Kenapa?”

“Umm, tidak. Tidak apa-apa,” kata Sehun sebelum menutup loker penyimpanan sepatunya. “Yuk, pulang sebelum hujan turun. Langitnya sudah gelap sekali.”

Aku mengangguk mengiyakan. Kami pun keluar dari gedung sekolah bersama. Namun sesampainya di gerbang sekolah, rintik-rintik hujan mulai turun membasahi bumi dan aku tidak membawa payung! Lama-kelamaan rintik-rintik itu berubah menjadi aliran air alias hujan deras.

“Ah sial! Kau bawa payung, Nami?” tanya Sehun yang berteriak di tengah hujan deras.

Aku menggeleng, “Lupa! Kau?”

Sehun juga menggeleng. “Balik ke sekolah! Kita tidak bisa pulang!”

Aku mengikuti Sehun yang berlari masuk kembali ke sekolah. Syukurlah(?), tampaknya bukan kami berdua saja yang terjebak oleh hujan. Masih ada beberapa murid lainnya walau jumlah mereka bisa dihitung dengan jari.

“Sehun, kita ke UKS dulu yuk? Pinjam handuk dan ganti baju olahraga.” Pakaian olahraga selalu ada di dalam loker kami jadi di saat basah kuyup seperti ini kami bisa mengganti pakaian yang basah dengan baju olahraga.

“Err, Nami, aku belum punya baju olahraga. Apa di UKS ada baju olahraga lebih?”

Aku mengangkat kedua bahuku, “Entahlah… ah, UKS masih dibuka tidak ya? Semua guru kan sudah pulang, duh.”

Sesampainya kami di depan ruang UKS, benar saja. Pintunya dikunci.

“Apa tidak ada kunci cad…. HATCHIIII!” Sehun bersin. Gawat, dia bisa kena demam!

“Sehun, ikut aku!” Secara otomatis aku menarik tangan Sehun agar ia mengikutiku. Kuambil kunci loker dari tas lalu mengajaknya menuju lokerku yang terletak di depan ruang kelas. Kuraih satu sweatshirt milik Jinhyuk Oppa dan memberikannya pada Sehun. “Ganti pakaianmu sebelum kau terkena demam, Sehun,” ujarku sambil mencari baju olahragaku.

“Ini baju siapa?”

“Umm, milik Jinhyuk Oppa. Aku memakainya karena minggu lalu seragamku ada bercak-bercak kuning. Pakai saja dulu, Jinhyuk Oppa tidak akan marah.” Duh, kemana sih baju olahraga itu? Biasanya kan selalu kuletakkan di loker setiap kali baju itu selesai di cuci di rumah. Uuhh…

…oh iya, aku baru ingat. Bodohnya… baju olahraga itu kupinjamkan ke Lucy, anak kelas 12 A2 yang kemarin terpeleset di toilet.

“Kenapa, Nami?”

Aku menutup loker secepat kilat, “T, tidak, tidak ada apa-apa. Sudah, kau ganti baju dulu sana! Jangan sampai kau sakit.” Aku mendorong Sehun menuju toilet laki-laki.

Sehun mengerutkan dahi sebelum masuk ke dalam toilet, “Kau? Kau tidak ganti baju juga, Nami?”

“Jangan urusi aku, urusi dirimu dulu!” Kudorong Sehun sekali lagi.

Beberapa menit kemudian, Sehun keluar dari toilet dengan sweatshirt Jinhyuk Oppa membalut tubuhnya. Astaga, rambut dan wajahnya yang memiliki efek basah terkena hujan menambah nilai seksi Oh Sehun dalam kepalaku. Aku pun tak tahan untuk tidak melirik hidung serta… bibirnya.

Kedua mataku berhenti di bibir Sehun. Stop, stop, stopppp!

“Nami? Kau tidak ganti baju?” tanya Sehun yang sudah berdiri di hadapanku. Ia menggenggam sejumput rambutku, “Rambutmu masih basah. Baju olahragamu mana?”

“Uh, umm, aku lupa… baju olahragaku dipinjam oleh Lucy,” aku meringis.

Tanpa kusangka, Sehun mengulurkan tangannya dan mengacak-acak rambutku, “Dasar bodoh. Kau mau aku melepas sweatshirt ini?”

Aku cepat-cepat menggeleng, “Tidak usah. Aku ini tahan penyakit. Lagipula sweatshirt itu sudah terlanjut kau pakai kan.”

“Lah, memangnya kenapa kalau sudah kupakai? Jijik?”

“Astaga, bukan itu maksudku… maksudnya yaa, aku merasa canggung. Aku tak biasa bertukar pakaian seperti itu.”

“Ooh, begitu… jadi kau ingin sakit?”

“Tidak. Sudah ah! Tenang saja, aku kan sudah bilang aku ini tahan penyakit. Sekarang hentikan pembicaraan ini. Lebih baik kita keringkan pakaian kita yang basah daripada berdebat seperti ini.”

Aku mendengar Sehun menghela napas panjang sebelum ia pergi mengambil seragamnya dan menjemurnya di bingkai jendela. Kok… kenapa jadi dia yang marah? Dasar orang aneh. Kupungut seragamku dari lantai kemudian kujemur seragam itu di bingkai jendela yang lain.

Huhh, hujannya kapan berhenti sih?

-..-

“HATCHIIII!!!” Aku menggosok-gosok hidungku yang gatal dan agak berair. Wah, gawat… jangan sampai aku sakit radang tenggorokan.

Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku dari belakang, “Hai, Kwon Nami!” suara berat pria itu terdengar tak asing di telingaku.

“Oh, hai, Chanyeol Oppa. Apa kabar? Lama tak berjumpa.” Aku buru-buru bangkit dari tempat duduk kemudian memberi salam pada ketua senat kampus Minhyuk Oppa sekaligus salah satu sahabat Minhyuk Oppa, Park Chanyeol. Aku biasa memanggilnya Chanyeol Oppa karena ia pernah beberapa kali berkunjung ke rumah kami dan memberikan oleh-oleh dari negara-negara tempat band-nya menggelar pertunjukkan.

“Jangan bersikap formal seperti itu, Nami-ya. Biasa saja padaku. Oh iya, apa kau melihat Minhyuk?” suara Chanyeol Oppa yang berat dan… err, seksi tetap menggoda telingaku sejak dulu.

Aku menggeleng, “Tidak. Bahkan aku belum menemui Minhyuk Oppa sama sekali.”

Chanyeol Oppa mengangguk-angguk mengerti. “Ah iya, ada hal yang ingin kubicarakan, Nami-ya. Tapi seharusnya Minhyuk ada disini sehingga aku tidak harus mengulang pembicaraan ini.”

“Apa kau ingin aku menelponnya?”

Sekarang Chanyeol Oppa melirik jam tangan antik melingkar pas di pergelangan tangan kanannya, “Tidak, tidak. Menunggu Minhyuk hanya akan memakan waktu lebih lama sedangkan pertunjukkanmu sebentar lagi kan?” Aku mengangguk mengiyakan. Chanyeol Oppa berdesah, “Jadi begini… kau ingat orang yang akan mengiringimu menyanyi nanti?”

“Shin Hyejeong?”

“Ya, ya, itu dia. Shin Hyejeong. Beberapa menit yang lalu aku menerima telpon dari adiknya. Adiknya mengatakan bahwa Shin Hyejeong mengalami kecelakaan ketika mengemudi mobil menuju kemari. Kecelakaan itu menyebabkan kedua tangan Hyejeong patah.”

Aku menahan napas. “Astaga… kedua tangannya? Lalu bagaimana keadaannya?”

Chanyeol Oppa bergerak gelisah, “Hyejeong dilarikan ke rumah sakit dan ia tidak bisa bermain piano selama dua bulan. Itu berarti kita harus mencari pengganti untuk pengiringmu, Nami-ya.”

“Kenapa harus mencari lagi? Bukannya Oppa bisa menggantikan Hyejeong Eonni?”

“Hei, hei! Kau tahu aku punya demam panggung kan, Nami?”

Sementara itu aku mendengar suara riuh tepukan tangan para penonton yang menandakan bahwa acara di atas panggung akan segera berganti. Astaga, astaga, astaga.

“Apa kau memiliki teman yang pandai bermain piano dan bisa memainkan lagu pilihanmu dalam versi piano?” tanya Chanyeol Oppa.

“Hanya Chanyeol Oppa!” jawabku cepat.

“Astaga…” Chanyeol Oppa menepuk dahinya. Ia menghirup napas dalam-dalam. “Waktu kita tidak banyak. Kau akan tampil setelah ini.”

Aku menarik sebelah tangan Chanyeol Oppa dan menggenggamnya erat-erat, “Oppa, aku percaya Oppa bisa. Anggap saja kita sedang latihan… ya?”

Kedua manik hitam Chanyeol Oppa menatapku tak yakin. Kulihat sinar gelisah sekaligus takut di dalam kedua manik itu. “Kwon Nami… kau yakin?” Kurasakan tangan Chanyeol Oppa mulai berkeringat tanda gugup. “Tak adakah pilihan lain?”

Aku menggeleng lagi, “Ayo, percaya padaku, Oppa. Kau pasti bisa. Kesempatan ini hanya ada sekali seumur hidup. Aku tidak akan tampil di atas panggung lagi setelah ini.”

Sejenak aku tak mengerti apa arti tatapan Chanyeol Oppa padaku sementara jantungku mulai berdetak tak karuan.

“Mari kita sambut Kwon Nami bersama pengiringnya Shin Hyejeong!!!” Tepuk tangan yang meriah membuat jantungku berdetak semakin cepat. “…eh? Apa? Oh, pengiringnya diganti! Kwon Nami akan tampil bersama ketua senat kita, Park Chanyeol!!!” Tepuk tangan itupun semakin menjadi-jadi.

Tapi aku tak bisa gugup sekarang. Aku telah berkata pada Chanyeol Oppa bahwa ia bisa percaya padaku. Maka dari itu aku tak bisa gugup. Aku harus percaya juga pada diriku sendiri bahwa aku bisa menampilkan yang terbaik di atas sana bersama Chanyeol Oppa.

“Nami?” Chanyeol Oppa mengulurkan tangannya yang panjang padaku. “Siap?”

Aku mengangguk mantap. “Aku siap. Ayo, Oppa.” Dan sinar-sinar itupun mulai menerangi kami berdua di atas panggung.

-..-

Malam harinya, aku menerima banyak stiker (aneh) di grup chatting. Seungyoon, Yunji, Soora, dan Yongdae mengirim ratusan stiker berwajah cemberut yang memenuhi notifikasi ponselku. Astaga, mereka ini…

“Ya, Kwon Nami! Kau selingkuh dengan ketua senat?!” Teriak Park Soora ketika aku menjawab telpon darinya. “Kau tahu, kemarin penampilanmu keren sekali! Tapi aku tidak suka. Dengar. Ti-dak su-ka. Aku tidak suka melihat Park Chanyeol yang menatapmu seperti itu! Kasihan Oh Sehun kita!”

“Hei, hei, Park Soora! Ada apa sih? Ya ampun, kau ingin membuat telingaku tuli ya? Bicaralah baik-baik!”

Di seberang sana Soora mendengus kesal, “Park Chanyeol itu menatapmu seperti kau adalah kekasihnya, Nami!” Aku mengerutkan dahi, “Ah masa sih?” Kucoba mengingat-ingat kembali ketika aku berada di atas panggung bersama Chanyeol Oppa. Hmm, yang kuingat Chanyeol Oppa memang beberapa kali melirikku… tapi lirikan itu tidak seperti yang Soora bayangkan. “Itu tatapan yang biasa kok, Soora. Jangan khawatir. Aku hanya menganggap Chanyeol Oppa sebagai temannya Minhyuk Oppa.”

Soora menghela napas panjang, “Kau tahu, Kwon Nami, setelah pertunjukkanmu selesai aku dan Yunji melihat bahu Sehun langsung turun. Bahkan ia tidak mengucapkan sepatah katapun ketika kami pergi ke kafe setelahnya. Tatapan matanya sayu, seakan-akan sudah sepuluh tahun lamanya ia tidak menjumpaimu.”

“Ei, jangan berlebihan, Soora! Masa sih Sehun seperti itu?”

Dug dug dug dug… jantungku mulai berdetak lebih kencang.

“Bahkan Sehun tak sadar waktu aku dan Yongdae memotretnya. Kau mau lihat hasil potretannya? Nanti aku kirim lewat chat, oke?”

Tanpa kusadari sebelah tanganku menyentuh dadaku. Astaga, bolehkah aku berharap? Oh, jantungku… diamlah.

Setelah percakapan itu berakhir, aku memeriksa chat-ku dengan Soora. Ada foto Sehun yang sedang melamun di sana. Ya benar, matanya terlihat sayu. Save foto ini! Save! Save!

Lalu ponselku bergetar karena ada notifikasi baru yang masuk. Notifikasi itu menandakan ada chatting masuk dari Chanyeol Oppa.

Chanyeol : Hei Nami, apa kau ada waktu besok?

Aku : Iya, ada. Tapi setelah pulang sekolah, Oppa. Ada apa?

Chanyeol : Ooh, aku hanya ingin mengajakmu minum teh. Sudah lama aku tidak mengobrol denganmu. Boleh kujemput kau di sekolah?

Whoops, ada apa ini?

Aku : Boleh, boleh. Kita mau kemana, Oppa?

Chanyeol : Ke kafe temanku saja. Letaknya tidak jauh dari sekolahmu kok. Oh iya, aku sudah bilang ke Minhyuk bahwa aku akan mengajakmu pergi dan ia bilang tidak apa-apa.

Aku : Ooh, ya sudah. Sampai jumpa besok, Oppa.

Kwon Nami sent a sticker

Chanyeol : Selamat malam, Nami! Selamat belajar~! Semangat!!!

Park Chanyeol sent a sticker

BRAKKKK!!!

“Hei Kwon Nami!”

Kedua bola mataku membulat ketika melihat Minhyuk Oppa menerjang masuk ke kamarku.

“Yah, ada apa dengan kau dan Chanyeol?” tanya Minhyuk Oppa sambil berdiri di belakangku dan bersedekap.

Aku menggeleng, “Tidak ada apa-apa. Aku hanya berteman biasa dengan dia. Memangnya kenapa?”

“Tadi dia bertanya padaku apakah dia boleh membawamu jalan-jalan besok. Yah… aku kaget saja. Soalnya selama ini, setahuku, dia tidak pernah terlihat jalan-jalan dengan seorang perempuan.”

Whoops.

-..-

Hari Senin, aku pergi ke sekolah seperti biasa. Tapi ada yang aneh dengan Sehun (walau sikapnya padaku biasa-biasa saja). Ia terlihat kurang bersemangat dibanding kemarin-kemarin. Namun saat kutanya ada apa, Sehun hanya menggeleng lemah. Ia bilang ia tidak apa-apa, mungkin hanya kelelahan karena beberapa saudaranya datang dari luar negeri kemarin.

Ah, aku khawatir…

“Eh, apa kau bilang, Nami?” tanya Yongdae yang sedang memasukkan sesendok mashed potato ke dalam mulutnya.

Apa aku menyuarakan pikiranku?

“Kau khawatir tentang apa? Atau siapa?” tanya Yongdae lagi. Ooh, benar. Aku menyuarakan pikiranku.

Aku menghela napas panjang, “Itu… Oh Sehun. Kalau ia terlihat tidak bersemangat seperti itu, aku jadi tak bersemangat juga nih.”

“Dasar pasangan,” seloroh Yongdae sambil meninggalkan meja kami di kantin.

Akhirnya aku berharap hari Senin di sekolah segera berakhir sehingga besok aku bisa melihat Sehun yang kembali ceria.

TIN TINNN!

Aku mendongak dan melihat sebuah motor hitam mengilat berhenti di hadapanku. Pria berhelm yang mengemudikan motor itu melihatku. “Nami?” suaranya teredam oleh helm.

Ya ampun, aku sampai lupa kalau hari ini aku punya janji dengan Chanyeol Oppa. Aku menepuk dahiku sendiri sebelum berlari kepadanya. “Oppaaa! Sudah menunggu lama? Maaf, aku sempat lupa bahwa kita akan pergi hari ini,” ujarku jujur.

Chanyeol Oppa melepas helm yang ia kenakan kemudian menampilkan deretan gigi putihnya, “Belum lama, aku baru saja tiba disini. Ah, Kwon Nami… kau membuatku terluka disini.” Ia menunjuk dada kirinya dan pura-pura meringis. “Padahal aku sampai tidak bisa tidur semalam karena membayangkan acara jalan-jalan kita.”

“Maaf, Oppa. Nah, kita pergi sekarang?”

Chanyeol Oppa mengangguk lalu memberi sebuah helm berwarna hitam padaku. “Pakai ini dulu sebelum kita pergi. Kau mau aku bantu memakainya? Nah sini, begini.” Tanpa sempat kujawab, Chanyeol Oppa dengan baik hati membantuku memakai helm itu. “Nah, kau terlihat lucu! Kepalamu besar sekali, hihihi!”

Kupukul punggungnya, “Sudah, jangan tertawa! Ayo kita berangkat! Nanti keburu malam.”

“Iya, iyaaa,” sahut Chanyeol Oppa sambil menggas motornya. “Kita berangkaaaat!” dan motor itupun melaju menuju kafe temannya Chanyeol Oppa.

Lima belas menit kemudian, kami sampai di sebuah kafe kecil dengan papan nama bertuliskan ‘Rest In Coffee Cafe’. Pemilik kafe tersebut yang sedang berada di balik konter kue buru-buru menyambut Chanyeol ketika ia melihat motor Chanyeol Oppa terpakir di halaman depan.

“Chanyeor-ahhh! Sudah lama tak bertemu!” pria itu memiliki proporsi tubuh mungil yang menggemaskan. Squishy.

“Kyungsoo-yaaa! Apa kabar? Astaga, kau benar-benar tidak bertambah tinggi!” Chanyeol Oppa menyambut pelukan hangat pria bernama Kyungsoo itu. Kemudian Chanyeol Oppa ditendang pantatnya.

“Oh, siapa ini? Kekasihmu?” tanya Kyungsoo begitu ia menyadari kehadiranku. “Wah, akhirnya kau punya kekasih juga, Park Chanyeol! Sudah lama aku tidak melihatmu bersama seorang wanita! Dan sekarang tipemu turun menjadi anak SMA? Tsk tsk tsk…”

TURUN??!

Chanyeol Oppa gelagapan melihat reaksiku dan ucapan Kyungsoo. “Eh, itu… Kyungsoo-ya, dia bukan…” Chanyeol Oppa berdeham. “Belum. Dia belum menjadi kekasihku.”

APA??!

Kyungsoo tertawa renyah sambil membukakan pintu kafenya pada kami. “Silahkan duduk dimana saja. Anggap saja kafe ini adalah rumahku yang nyaman. Kalau mau pesan minuman atau kue, aku ada di balik konter.” Lalu Kyungsoo meninggalkan kami berdua dalam suasana yang menjadi canggung.

Selama beberapa menit aku dan Chanyeol Oppa hanya membereskan barang-barang sendiri dan meletakkan diri kami dalam posisi senyaman mungkin. Kemudian kami sibuk memeriksa ponsel masing-masing. Krik krik krik.

Karena aku tak tahu apalagi yang harus kulakukan sementara Chanyeol Oppa masih cekikikan dengan ponselnya, aku memandangi seisi kafe ini.

Ada dua sampai tiga pasangan muda yang berada di kafe ini. Namun obrolan mereka tertutup oleh alunan musik instrumental yang terdengar dari speaker yang suaranya jernih. Di ujung kafe, sepasang remaja berangkul-rangkulan dan berciuman sangat dalam. Ewhh…

“Nami… Nami!” “Oh?”

Chanyeol Oppa menyodorkan sebuah buku menu padaku, “Kau mau minum apa? Aku mau pesan jus jeruk.”

“Oppa, kau ke kafe dan kau hanya memesan jus jeruk?”

Chanyeol Oppa mengangguk, “Memangnya kenapa? Aku suka jus jeruk. Yah Kwon Nami, cepat! Kau mau pesan apa?”

Aku mengerucutkan bibirku sebelum melihat-lihat menu yang disajikan oleh kafe Kyungsoo ini. Hmm, mungkin segelas hot cappuccino cukup…

Hot cappuccino, itu yang kau mau?”

Apa aku baru saja menyuarakan pikiranku lagi? Aduhhh.

Hot cappuccino?” Aku mengangguk lemah.

Chanyeol Oppa memanggil Kyungsoo lalu menyebutkan pesanan kami dan dua buah Orange Cake. Apakah orang ini adalah penggila jeruk?

Setelah Kyungsoo kembali ke balik konter, Chanyeol Oppa berdesah. “Nah… Nami. Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu.” Ia meletakkan ponselnya di atas meja kemudian menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya. “Aku tahu kau mungkin sudah terbiasa mendengar hal ini, tapi…”

Oh, oh?

“Kwon Nami, aku menyukaimu. Apa kau mau menjadi kekasihku?”

“Aku sudah menyukaimu sejak dua tahun yang lalu ketika aku datang ke rumahmu dan kau memberikan senyumanmu yang manis saat mengantar es limun yang sejuk ke kamar Minhyuk. Aku juga menyukaimu karena kau beberapa kali mau datang menemaniku ke konser kakakku. Aku juga menyukaimu karena…”

“…pokoknya aku menyukaimu.”

Tiba-tiba aku merasa sesak napas. Rasanya ada tali yang mengikat tubuhku erat-erat sehingga membuatku susah untuk mengambil napas dalam-dalam. Oh, apa– bagaimana harus kujawab?

Chanyeol Oppa menarik kedua telapak tanganku dengan kedua tangannya yang besar. Sangat besar. “Aku tahu ini sangat mendadak, Nami. Tapi kalau aku tidak mengatakannya sekarang, aku tidak tahu lagi kapan aku memiliki keberanian seperti ini. Maka dari itu tidak apa-apa kalau kau bingung. Aku akan menunggu jawabanmu…” ia mengacak-acak rambutku yang rapi. Ah!

“Oppa, jangan acak-acak rambutku! Susah merapikannya.” Aku menyingkirkan tangan Chanyeol Oppa dari kepalaku dan merapikan rambutku perlahan.

“Rambutmu berantakan saja kau manis. Bagaimana kalau rambutmu rapi, Nami?” Astaga, pria ini.

Beruntung Kyungsoo datang dengan membawa nampan berisi kue dan minuman kami. Sejenak ia melihat ekspresi wajah kami saat meletakkan Orange Cake. “Ada apa, Kyungsoo-ssi?” tanyaku.

Kyungsoo tetap menatapku selama beberapa saat dan hal itu membuatku tak nyaman. Uh-oh. “Kyungsoo-ya, jangan menatapnya seperti itu. Kau membuat gadis ini takut, Serigala,” ujar Chanyeol Oppa sambil (lagi-lagi) mengacak-acak rambutku.

“Chanyeor-ah, kau cocok dengan gadis ini. Semoga kalian menjadi pasangan.” kata Kyungsoo sebelum ia buru-buru pergi meninggalkan kami.

“Hei, Do Kyungsooo!” Chanyeol Oppa mengejar Kyungsoo kemudian balas menendang pantat pria itu. Ia kembali duduk di hadapanku sambil terkekeh puas. Ya ampun…

Ketika waktu di ponselku menunjukkan pukul sembilan malam, motor Chanyeol Oppa berhenti tepat di depan rumahku. Pria bermata bulat itu melepas helmnya, “Nah, sudah sampai di rumah, Nami. Terima kasih sudah menemaniku hari ini.” Ia tersenyum menunjukkan deretan giginya yang putih bersih.

Aku turun dari motornya dan menyerahkan helm yang telah kulepas padanya, “Seharusnya aku yang berterima kasih. Oppa sudah mentraktirku hari ini. Terima kasih, Oppa.”

“Tidak apa-apa, aku suka mentraktirmu seperti aku suka padamu. Melihatmu tersenyum seperti ini benar-benar menyenangkan bagiku,” ujar Chanyeol Oppa tanpa beban. Ia masih tersenyum lebar. “Oh iya… besok… boleh aku mengantarmu ke sekolah?”

Aku terdiam. Duh, boleh tidak ya? Apa yang harus kujawab?

“Kalau kau diam seperti itu, aku anggap jawabannya adalah ‘iya’. Jadi besok pagi aku akan menunggumu disini dan mengantarmu ke sekolah. Sampai jumpa besok, Nami!” Chanyeol Oppa bersiap memakai helmnya lagi.

“Tunggu! Tunggu!” Aku merebut helm yang hendak ia pakai. “Oppa, besok jangan antar aku. Kumohon. Besok jemput saja aku sepulang sekolah lagi seperti hari ini. Bagaimana?”

Kedua bola mata bulat itu bersinar-sinar, “Oke, oke! Sepulang sekolah ya. Jangan lupa, Kwon Nami. Sampai jumpa besok!” Tanpa kuduga, Chanyeol Oppa mendekat kemudian… ia mencium pipiku. Ia. Mencium. Mencium. Mencium. Pipiku.

Aaah, ya ampun! Aku pun berjongkok dan menutup wajah dengan kedua tanganku saking malunya.

TO BE CONTINUED–


Maaf banget saya baru bisa post chapter 3-nya hari ini!!! Maaf bangeeeet!!!

Belakangan saya lagi menikmati hari-hari saya tanpa roleplaying dan mengurus penjualan komik bekas, ehehe… terus kan dikit lagi juga udah mau libur Lebaran, jadi siap-siap jalan-jalan deh.

Selamat Hari Raya Idul Fitri! (walau saya tidak merayakannya :))

Mohon maaf apabila saya atau blog ini punya salah. Mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya~