BLUTIGEN HÄNDEN Sequel 20150825BLUTIGEN HÄNDEN
How I Met Her (Again)

Author : Alicia Diana Teresa
Main Cast : Kim Junmyeon (Suho)
Genre : Fan fiction, family
Rate : PG15
Note : Sekuel dari Blutigen Händen yang dipersembahkan khusus buat Kak Dini Anggraeni

Musim panas – London, Inggris

“Namanya Park Soora. Lahir pada tanggal 3 September. Kedua orang tuanya bernama Park Jungsoo dan Han Sohee. Kim Yoonpyo sepertinya memiliki hubungan khusus dengan keluarga itu. Yah, mereka sangat akrab… kadang kala Park Jungsoo dan si tikus itu pergi bersama ketika keluarga Park sedang pulang ke Korea.” jelas Yue panjang lebar sambil melempar beberapa lembar kertas ke atas meja kaca yang ada di depannya.

Jangan sampai Ayah merebut kebahagiaan keluarga itu…

Rahang Suho mengeras saat mendengar penjelasan dari Yue. Dari sudut matanya, pria berusia dua puluh tahunan itu mengamati air muka Suho yang berubah. “Silahkan saja kalau kau ingin menghabisi si tikus itu. Kurasa sekarang adalah waktu yang tepat…”

Spontan Suho menoleh pada Yue, “Kau serius?”

Yue mengangguk mengiyakan, “Serius. Kau telah menemukan timing yang tepat. Sementara itu aku juga telah menemukan mangsaku,”

Suho meraih jaket jinsnya lalu berdiri dan berjalan menuju pintu rumah, “Boleh aku bertanya satu hal?”

“Ya?”

“Siapa nama aslimu?”

Yue menyeringai sebelum meneguk sebotol Vodka sampai isinya tinggal setengah, “Aku Wang Jiyue.”

Saint Petersburg, Rusia

Seorang pemuda berambu hitam legam meremas koran yang ia genggam hingga menjadi sebuah bola utuh. Dengan sekali lemparan ia membuat bola koran itu masuk ke dalam tong sampah di sebuah taman kosong.

“Akhirnya mati juga kau, pria tua,” ujar pemuda itu sambil menarik kopernya yang juga berwarna hitam dan pergi dari taman tersebut.

RRRRR!!! RRRR!!!

Pemuda itu merogoh sakunya sebelum menerima telpon itu, “Halo, Suho Kim disini. Ada apa? Ah, Daejoon… Apa kabarmu? Bagaimana kau bisa menemukan nomor ponselku? Ayah…?” suara Suho bergetar. “Kapan? Siapa pelakunya??!” Di seberang sana terdengar suara Daejoon yang berusaha menjelaskan segala yang ia ketahui pada Suho.

“Kembali ke Seoul…?” Suho memandang langit Saint Petersburg yang bersih tanpa awan. “Daejoon, mana bisa aku membeli tiket pesawat secepat itu? Kau tahu aku tidak hidup mewah disini.”

Sebuah kalimat yang diucapkan oleh Daejoon langsung membuat Suho menepuk dahi kepalanya. Ah iya, Daejoon kan masih memegang beberapa uang Ayah… Sial.

“Baiklah, malam ini juga ya? Kirimkan saja tiketnya ke e-mailku. Alamatnya akan kuberitahu lewat pesan singkat. Iya, iya… Sampai jumpa di Seoul. Terima kasih, Daejoon.” Suho memutuskan sambungan telpon itu kemudian menjejalkan kembali benda persegi panjang tersebut ke dalam sakunya setelah mengirim pesan singkat kepada Daejoon, asisten ayahnya dahulu. Ya, dahulu. Barusan Daejoon memberitahu Suho bahwa Kim Yoonpyo, ayahnya, ditemukan meninggal dalam keadaan mengenaskan di kantornya di London. Hal tersebut membuat Suho harus kembali ke Seoul, Korea Selatan, dan mengurus jenazah ayahnya serta menerima semua warisan yang dimiliki ayahnya.

Huh, warisan.

Harta.

Memikirkannya saja sudah membuat Suho muak.

Harta. Itulah yang membuat ayahnya berubah menjadi pria busuk. Ayah busuk. Suami busuk. Demi seonggok kekayaan duniawi, Kim Yoonpyo tega memanfaatkan sang istri dan meninggalkan anaknya. Demi seonggok kekayaan duniawi, Kim Yoonpyo tega membunuh.

Membunuh…

Sebuah kata itu memunculkan ingatan tak baik di kepala Suho. Bau busuk jenazah. Ruangan yang lembab. Cipratan darah di seluruh dinding ruangan. Suho segera menghampiri toilet umum lalu membuang sarapan dan makan siang dari dalam lambungnya ke kloset.

…sial!

Seoul, Korea Selatan

“Kami turut berduka cita atas meninggalnya Tuan Kim,” ujar sepasang lansia yang membungkuk memberi hormat pada Suho. “Semoga Tuan Kim bahagia di atas sana bersama Ibu Anda.”

Bahagia bersama Ibu? Omong kosong. Ayah sudah pasti tidak masuk ke surga.

Berulang kali ucapan turut berduka cita diterima oleh Suho, berulang kali juga kalimat sumpah serapah Suho ucapkan dalam hati kepada ayahnya. Tentu saja dengan akting yang mantap tidak seorang pun mencurigai suasana hati Suho yang sebenarnya. Bahkan Daejoon pun tidak tahu.

Dan beberapa jam kemudian, warisan senilai sebelas triliun won telah sah menjadi milik Suho. Hal ini membuat Suho menggantikan ayahnya menjadi orang nomor dua terkaya di Korea Selatan. Tapi Suho sama sekali tidak bangga menjadi salah satu orang terkaya di negaranya. Dengan sekali perintah, setengah dari warisan itu Suho sumbangkan ke semua panti sosial yang tersebar di seluruh penjuru Korea Selatan. Setengah dari sisa yang ia pegang ia berikan pada semua pegawai ayahnya sebagai pesangon. Sedangkan yang lainnya ia gunakan untuk nanti… Entah untuk apa.

-..-

Musim gugur – Seoul, Korea Selatan

Pemuda berusia enam belas tahun itu menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. “Baru musim gugur tapi sudah dingin sekali,” ujar pemuda itu sambil menepuk-nepuk pipinya yang dingin. Suho, dalam usia enam belas tahun, tadinya adalah salah satu orang terkaya di Korea Selatan. Namun ia membagi-bagikan harta yang baru saja ia miliki dan hal tersebut menjadikannya sebagai pahlawan negara serta orang kesekian terkaya di Korea Selatan.

Sudah lima bulan terakhir Suho kembali pada hidupnya selama tinggal bersama Yue. Kerja sambilan. Ya, Suho yang itu. Kim Junmyeon alias Suho, putra Kim Yoonpyo dan Hwang Maerin. Selama lima bulan Suho hidup berbagi kamar dengan asisten ayahnya dahulu, Hong Daejoon. Selama lima bulan Suho mengambil lima kerja sambilan di lima tempat berbeda. Selama lima bulan Suho hidup layaknya pemuda yang tidak melanjutkan kuliah dan lebih memilih untuk bekerja.

RRRRR!!! RRRR!!!

“Halo, Kim Junmyeon disini. Ada apa? Ah, Daejoon… Aku masih di jalan. Umm, kemungkinan malam ini aku tidak pulang. Aku akan tidur di tempat kerja. Apa? Tidak, tidak. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Dah.”

Selama lima bulan jugalah Daejoon masih memperhatikan Suho layaknya tuan muda. Padahal predikat tuan muda itu sudah Suho buang sejak bertahun-tahun yang lalu. Siapa sudi sih memakai predikat menjijikan itu.

Setelah berjalan beberapa menit, Suho masuk ke sebuah kafe melalui pintu belakang. Ia menyapa rekan-rekan kerja sebelum mengganti kaus belelnya dengan seragam waiter. Dan Suho si mantan tuan muda pun kini menjadi Suho si waiter tampan yang memiliki banyak penggemar wanita.

Yeah, banyak penggemar wanita. Walaupun Suho baru dua bulan bekerja sebagai waiter di kafe kecil ini, penggemarnya sudah bejibun. Desas-desusnya pun cepat beredar dari satu mulut wanita ke mulut wanita yang lain. Tak lama kemudian nyaris setiap hari Suho menerima tip lebih dari sembilan puluh ribu won. Hal ini tentunya menyulut api iri di antara beberapa rekan kerja Suho lainnya. Namun karena sudah terlatih, Suho bisa mengatasi semua gangguan-gangguan dari para rekan kerja yang iri itu tanpa meninggalkan jejak apapun.

Selain menjadi waiter, kadang Suho juga menggantikan rekan kerjanya menjadi penjaga kasir. Seperti sekarang ini contohnya. Rekan kerjanya itu seenaknya saja meminta Suho menjaga kasir sementara ia menemui kekasihnya di pintu belakang kafe. Cih.

“Semuanya jadi lima puluh ribu won, Nyonya. Anda mau membayar dengan uang tunai atau kartu kredit atau debit?” Suho mengumbar senyumnya yang mampu menarik seratus penggemar wanita baru.

Wanita di hadapan Suho sibuk mengobrak-abrik isi tas tenteng-nya dengan panik, “Astaga, dimana dompetkuuu! Dompet, dompet, dompet! Aduh, ponselnya juga hilang! Ya ampunnn!”

Jadi dia tidak mau bayar?

“Astaga, Tuan… Maaf… Dompetnya hilang…” ujar wanita itu takut-takut. “Bagaimana kalau saya pinjam uang Tuan dulu? Akan saya kembalikan secepatnya setelah saya melapor ke kantor polisi.”

Adalagi kasus seperti ini! Apa yang harus Suho katakan pada supervisor-nya? Suho mendengus napas kesal, “Nyonya, silahkan menghadap atasan saya daripada meminjam uang pada pekerja sambilan seperti saya. Ruangan atasan saya ada di lantai tiga. Silahkan naik ke atas sekarang juga.”

“Tuan… Tidakkah Tuan memiliki belas kasihan? Tuan kan sudah sering melihat saya datang ke kafe ini. Masa Tuan tega menyuruh saya langsung menghadap atasan Tuan? Ya Tuan? Kali iniii saja,” wanita itu berusaha merayu Suho dengan wajahnya yang… yah, Suho akui, wajah itu termasuk cantik untuk wanita berusia empat puluhan.

Suho menghela napas, “Baiklah, silahkan serahkan kartu nama dan kartu identitas Anda pada saya.”

Wajah wanita dalam setelan kerja itu berubah sumingrah, “Saya tahu Tuan adalah orang yang baik hati! Astaga, terima kasih, Tuan!”

Setelah memfoto kartu identitas wanita itu dan menyimpan kartu namanya, Suho mengeluarkan lima lembar uang pecahan sepuluh ribu won dari dompetnya. Ia memencet beberapa tombol di mesin kasir, memasukkan uangnya ke dalam laci kasir, dan menyimpan struknya. “Lima puluh ribu won, Nyonya. Terima kasih telah berkunjung ke kafe kami. Jangan lupa mengembalikan uang saya,” kata Suho sedikit jutek.

“Ei, masa kau melayani pelanggan seperti itu, Junmyeon?” seorang pria yang terlihat lebih tua menyikut punggung Suho pelan. “Kalau bos sampai tahu kau memperlakukan wanita seperti itu, mungkin gajimu akan dipotong sepuluh persen.”

Suho duduk di sebuah kursi yang kosong, “Wanita itu membuat uangku berkurang lima puluh ribu won hari ini. Lima puluh ribu won! Bayangkan itu, Chanyeol! Lima puluh ribu won! Bayangkan berapa bungkus ramyeon yang dapat kubeli dengan lima puluh ribu won!”

Pria yang dipanggil Chanyeol oleh Suho itu meringis, “Memangnya apa yang kau lakukan padanya? Kau menumpahkan kopi ke atas bajunya? Wah, Junmyeon…”

Suho tahu Chanyeol bercanda, sebab tak mungkin seorang pekerja sambilan teladan seperti Suho melakukan hal konyol semacam itu. Menumpahkan kopi ke pakaian pelanggan? Suho bahkan telah belajar tata krama untuk minum sejak balita. Jadi tak mungkin kan hal itu terjadi padanya.

Beberapa jam kemudian, shift kerja Suho berakhir. Suho menukar seragam waiter-nya dengan kaus belel yang tadi ia pakai. Walaupun Korea Selatan mulai memasuki musim dingin, Suho belum ada niat untuk mengenakan jaket seperti yang mulai dipakai oleh para pejalan kaki. Suho berpikir, biarlah ia merasakan kedinginan ini sampai sekarat, baru kemudian ia akan mengenakan jaket, hahaha.

“Ah, penjaga kasir yang tadi!”

Suho berhenti dan menoleh ke asal suara. Wanita itu lagi!

“Tuan baru pulang jam segini?” tanya wanita itu sambil menghampiri Suho. Astaga, nasib sial apa yang Suho dapatkan hari ini sehingga dua kali ia bertemu wanita itu.

“Ada apa lagi, Nyonya?” Suho menjawab dengan sebuah pertanyaan.

Wajah wanita itu memerah layaknya seorang remaja… Remaja??! “Itu, Tuan… Dompet saya kan hilang…. Jadi saya tidak ada ongkos untuk pulang malam ini. Nah, saya sedang menunggu mobil yang bersedia memberi saya tumpangan…”

Tumpangan? Jam segini? Suho melirik jam tangan kuno yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya. Jam 11.23 malam. Entah wanita itu tidak memakai jam tangan atau memang wanita itu idiot. “Nyonya, sekarang sudah jam setengah dua belas malam. Bagaimana mau ada mobil yang lewat? Apalagi jalan ini hanya jalan alternatif…”

Wanita itu menatap horor Suho, “Astaga… Bagaimana ini? Suami saya pasti sedang panik mencari-cari saya! Astaga!”

Suho menepuk dahi kepalanya, “Nyonya tunggu sebentar disini.” Pemuda berambut hitam legam itu masuk lagi ke kafe lewat pintu belakang. Tak lama, ia keluar lagi dengan sebuah kunci berputar-putar di salah satu jari tangan kanannya. “Nyonya, silahkan ikuti saya.”

Dengan lugunya, wanita itu mengikuti Suho menuju bagian samping gedung kafe. Suho menstarter motor Chanyeol dan melempar sebuah helm pada wanita itu.

“Tuan mau mengantar saya?” tanya wanita itu yang bukannya memakai helm, malah berdiri diam di tempat.

Suho mengangguk, “Sudah malam. Wanita sebaiknya tidak menunggu di pinggir jalan seperti itu. Apalagi yang terlihat lugu seperti Anda.”

Akhirnya wanita itu mengenakan helm kemudian duduk di belakang Suho. “Rumah saya di Hwayang-dong. Nanti tolong berhenti di Gwangnaru-do saja. Saya bisa jalan kaki sendiri setelah itu,” kata wanita berambut cokelat tanah itu dari balik helm.

“Saya antarkan sampai rumah,” Suho berkata dengan nada memerintah. Wanita itu tidak menjawab, namun ia tersenyum kecil di belakang Suho.

Dua puluh menit menahan emosi, akhirnya wanita itu turun juga setelah motor yang dikemudikan oleh Suho berhenti di depan rumah berpagar biru langit. Mendengar suara deru motor, pintu depan rumah tiba-tiba menjeblak terbuka. Seorang pria seumuran wanita itu pun berlari panik menyambut wanita itu. “Sayang! Kau darimana saja? Ditelpon Jinki tidak dijawab! Kau membuat kami khawatir!” Dahi pria itu berkerut kesal.

Wanita itu hanya tersenyum sambil menggaruk lehernya, “Maaf, Sayang~ ponsel dan dompetku dicuri orang. Bahkan aku belum membayar kopi yang kucicipi. Untung pemuda ini berbaik hati meminjamkan uangnya kepadaku lalu mengantarku pulang.”

Berbaik hati? Wanita ini…

“Kau yang meminjamkan uang dan mengantar istriku pulang?” tanya sang suami menghadang Suho.

Suho mengangguk, “Ya, Tuan.” “Berapa uang yang ia pinjam? Berapa biaya bensin motor ini?” tanya sang suami lagi.

“Uang yang ia pinjam lima puluh ribu won, Tuan. Lalu bensinnya… saya tidak tahu,” ujar Suho.

“Lima puluh ribu won??! Sayanggg, kau beli apa saja sih di kafe itu? Lima puluh ribu won kan lumayan untuk tabungan cicilan rumah kitaaa!” teriak sang suami pada istrinya yang hanya meringis. Sang suami masuk ke dalam rumah diikuti oleh istrinya. Kemudian sang suami keluar lagi sambil mengambil beberapa lembar uang kertas dari dompetnya. “Ini, tujuh puluh ribu won untukmu. Terima kasih sudah mengantar istriku pulang dengan selamat.”

Kedua bola mata hitam Suho berbinar-binar. Tujuh puluh ribu won. Wow. “Sudah menjadi kewajiban pria untuk mengantar wanita pulang… Apalagi sudah tengah malam begini. Semoga istri Anda cepat-cepat melapor ke kantor polisi, Tuan. Terima kasih dan selamat malam,” ujar Suho sebelum ia memacu motor Chanyeol kembali ke kafe.

Ah, Suho ingin cepat-cepat pulang ke rumah dan tidur di kasur lembangnya. Malam ini sangat melelahkan… gara-gara wanita itu.

“Halo, Tuan,” wanita itu melambaikan tangannya sebelum menghirup segelas Caramel Macchiato dingin.

Kedua bola mata hitam Suho membulat melihat wanita itu duduk manis di salah satu sofa di kafe. Wanita itu lagiii! Suho menepuk dahi kepalanya. “Hai, Nyonya. Selamat siang,” ujar Suho sambil membersihkan meja di seberang sofa wanita itu.

“Tuan, jam berapa jam kerja Tuan selesai?” tanya wanita itu yang omong-omong Suho belum tahu namanya. Kartu nama itu masih ada di saku jins Suho, belum disentuh lagi sejak ia menerimanya.

Suho berhenti mengelap meja kemudian menatap wanita itu, “Apa yang ingin Nyonya lakukan?” ia menjawab dengan sebuah pertanyaan.

“Saya hanya ingin mentraktir Tuan makan malam sebagai tanda terima kasih sudah mengantarkan saya sampai rumah beberapa hari yang lalu.”

Suho meletakkan gelas-gelas plastik kosong di atas nampan cokelat, “Terima kasih, Nyonya. Tapi shift saya hari ini sampai pagi.” Bohong. Tidak ada shift pagi di kafe ini. Paling-paling ada piket menginap bergilir di kafe. Argh, Suho sangat ingin tidak bertemu dengan wanita itu lagi sampai-sampai ia berbohong pada pelanggan.

Wanita itu tidak bertanya lagi, namun wajahnya menunjukkan ekspresi kekecewaan dan Suho tidak peduli akan hal itu.

Ketika jam dinding di kafe menunjukkan angka dua belas, Suho keluar dari pintu belakang. Ia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya sebelum menempelkan kedua telapak tangannya ke pipi. “Ah, dingin sekali…”

“Dingin ya? Tuan mau meminjam scraf saya?” lagi-lagi kedua bola mata Suho membulat. Wanita itu belum pulang juga! Wanita macam apa sih dia ini? Bukankah suaminya akan sangat panik mengetahui istrinya belum pulang jam segini?

“Nyonya, tahukah Nyonya sekarang jam berapa? Nanti suami Anda akan sangat panik mencari-cari Anda seperti kemarin,” kata Suho sambil menggeleng kepala.

“Tenang saja, saya sudah bilang padanya kalau hari ini saya pergi ke karaoke bersama teman kantor,” jawab wanita itu dengan gaya lugunya.

Aduhhh, bukan itu maksudku! Suho menepuk dahi kepalanya untuk kedua kalinya di hari ini. “Sebaiknya saya antar Nyonya pulang sekarang. Ini sudah pagi. Harus saya bilang berapa kali bahwa seorang wanita tidak baik pulang larut? Banyak kejahatan yang mengancam Anda!” Suho menarik tangan wanita itu lalu berjalan meninggalkan kafe. Berhubung hari ini bukan hari kerja Chanyeol, jadi Suho tak bisa meminjam motor pada temannya itu. Mereka berdua pun berjalan kaki dari Sageun-dong menuju rumah wanita itu di daerah Hwayang-dong.

Sepanjang perjalanan, wanita itu sibuk bertanya ini-itu pada Suho. Berapa usiamu? Sekarang kuliah dimana? Tinggal dengan siapa? Sudah punya kekasih? Wanita itu juga sibuk memberi beraneka ragam nasihat pada Suho. Jangan minum kopi banyak-banyak. Jangan minum minuman keras kalau tidak ada teman yang menemani. Jangan kerja terlalu keras. Pergilah jalan-jalan sekali-kali. Sedikit banyak, wanita itu membuat Suho teringat akan Ibunya.

“Tunggu disini sebentar, Junmyeon!” kata wanita itu ketika mereka berdua berada di Gunja-ro. Wanita itu masuk ke dalam sebuah toko serbaada dan meninggalkan Suho di pinggir jalan. Beberapa menit kemudian, wanita itu keluar dari toko serbaada tersebut. “Ini untuk Anda!” ujarnya sambil memberi sekaleng sari jahe hangat pada Suho. “Tanda terima kasih saya untuk Anda yang lagi-lagi mengantar saya sampai rumah.”

“Tapi…”

Wanita itu membuka kaleng softdrink-nya sendiri dan muncratlah isinya.

Astaga…

-..-

Musim dingin – Seoul, Korea Selatan

Musim gugur telah usai dan diganti dengan musim dingin yang lumayan parah. Namun suasana dingin tersebut tidak mempengaruhi hubungan antara Suho dengan wanita itu. Justru sebaliknya, Suho semakin akrab dengan wanita bernama Wang Linfang. Ya, akhirnya Suho merogoh kembali saku celananya dan menemukan kartu nama wanita itu yang lecek. Wanita itu bukan orang Korea, tapi orang Tiongkok. Ia menikah dengan seorang pria Korea bernama Sung Minhwan lima belas tahun yang lalu. Tapi sampai sekarang Tuhan belum mengaruniakan seorang anak dalam keluarga mereka. Maka delapan tahun yang lalu pasangan tersebut mengadopsi seorang anak bernama Jinki. Lalu karena Jinki menginginkan seorang adik, tiga tahun kemudian Minhwan dan Linfang mengadopsi seorang anak bernama Yifan yang mereka ganti namanya menjadi Kris.

Menjalin hubungan yang harmonis dengan keluarga Sung selama empat bulan sudah mampu membuat Suho mengetahui seluk-beluk keluarga itu. Termasuk fakta bahwa Wang Linfang memiliki seorang kakak laki-laki bernama Wang Jiyue.

Wang Jiyue?

Ya, Yue. Yue yang itu. Yue yang telah mengajari cara balas dendam yang baik dan benar pada Suho. Yue yang sudah menampung Suho selama tiga tahun.

Suho mengetahui hal itu ketika suatu saat Linfang menunjukkan foto lama dirinya dan keluarganya di Tiongkok. “Yang ini saya, adik saya, dan kakak saya,” ujar Linfang sambil menunjuk orang yang ada di foto itu satu per satu.

“Nyonya, kakak Anda…”

“Kakak saya berbeda tujuh tahun usianya dari saya. Sejak kecil kedua orang tua mengatakan bahwa kakak saya adalah orang yang berbeda…” Linfang menghirup teh hijaunya. “Awalnya saya tidak tahu apa yang orang tua saya maksud. Tapi ketika saya berusia lima belas tahun, saya melihat sesuatu yang mengerikan yang mengubah pandangan hormat saya terhadap Jiyue selama ini.”

…pasti Yue membunuh seseorang, ujar Suho dalam hati.

“Jiyue membunuh Ayah saya dalam sebuah pertengkaran. Lalu ia merampas semua emas yang Ayah saya simpan di lemari pakaiannya dan menghilang…” Linfang menghela napas panjang. Tatapan matanya pun sayu.

“Nyonya, tidak apa-apa kalau Anda tidak bisa menceritakannya… lebih baik Anda simpan saja di dalam hati Anda,” kata Suho yang duduk di samping Kris. Saat itu, sudut mata Suho melihat Kris mengepalkan tangannya.

Linfang tersenyum pahit, “Tidak apa-apa, aku bisa melanjutkannya. Nah… kurang lebih sebulan kemudian, seorang mantan pelayan keluarga datang kepada saya dan mengatakan bahwa ia telah diperkosa oleh Jiyue. Mantan pelayan itu pun mengandung anak Jiyue. Sungguh aib bagi keluarga saya.”

Kalau hal itu adalah aib, buat apa sih diceritakan kepada orang lain?, pikir Suho.

Kris memberikan tatapan tajam pada Suho dan menginjak kaki Suho.

“Sampai sekarang, saya tidak tahu dimana Jiyue… padahal kalau bisa saya ingin bertemu dengannya. Banyak hal yang ingin saya tanyakan pada Jiyue. Ah, bukan hanya saya… tapi juga Ibu saya,” ujar Linfang sebelum menghirup teh hijaunya hingga tetesan terakhir.

Lalu Linfang meninggalkan Suho dan Kris berdua di ruang keluarga, sementara wanita itu pergi ke dapur menemui suaminya.

“Dengarkan saja cerita Mama. Tidakkah kau kasihan kalau mendengar ceritanya?” kata Kris sambil tetap memberikan tatapan tajam pada Suho. Oh, Suho rasa sebentar lagi dirinya bisa berubah menjadi debu gara-gara tatapan mata Kris.

Suho mendengus kesal.

Linfang kembali dari dapur bersama Minhwan. Pria berambut cokelat nyaris abu-abu itu duduk bersama Linfang di hadapan Suho dan Kris. “Junmyeon, ada yang ingin kami bicarakan denganmu…” kata Minhwan.

“Kris, kau bisa pergi ke kamarmu,” ujar Linfang. Tapi Kris menolak, ia bersikeras ingin mendengar apa yang ingin di bicarakan oleh orang tuanya dengan Junmyeon. Karena adatnya Kris memang keras, maka baik Minhwan maupun Linfang mengalah. Kris bisa tetap berada di ruang keluarga asalkan Kris tidak mengamuk setelah mendengar pembicaraan ini.

“Jadi… Junmyeon… Kami ingin kau tinggal bersama kami di rumah ini,” ucap Minhwan sambil menggenggam erat tangan Linfang sementara kedua bola mata Kris membulat dan jantung Suho terasa mendadak berhenti.

“Paaa! Yang benar saja!”

“Kris, kau janji tidak akan marah lho…” Linfang memperingati Kris. Pemuda tujuh belas tahun itu pun dengan enggan mengangguk. Tatapan matanya pun semakin tajam kepada Suho.

“Tuan… Kenapa…?”

Minhwan tersenyum sambil melemparkan tatapan mata yang hangat pada Suho, “Karena kami ingin kau menjadi salah satu anggota keluarga kami, Junmyeon. Linfang, Jinki, dan saya sudah membicarakan hal ini bersama-sama dan…”

“Jinki hyung diajak bicara tapi aku tidak??! Papa sama Mama maunya apa sih!” Kris mengamuk kemudian meninggalkan kedua orang tuanya dan Suho menuju kamarnya di lantai dua rumah.

“Biarkan saja si Kris itu… Stress ujian masuk universitas menekannya sedemikan rupa hingga ia tidak mendengar pembicaraan kami semua beberapa hari yang lalu,” bukannya membela Kris, Linfang malah tertawa renyah melihat aksi anak angkatnya yang ngambek seperti itu. “Nah, ayo kembali ke topik pembicaraan kita…”

“Jadi bagaimana, Junmyeon? Apa kau mau tinggal di rumah ini bersama kami? Statusmu disini akan menjadi anak angkat kami kalau kau tinggal disini,” kata Minhwan.

Suho menatap cemas sepasang suami-istri itu. Apakah mereka serius? Mengangkat Suho menjadi anak mereka? Bahkan mereka tidak mengetahui asal-usul Suho dengan jelas. Tempat tinggal Suho selama ini pun mereka tidak tahu. Astaga, pasangan ini gila ya? Mengadopsi orang yang tidak jelas asal-usulnya sepertiku?

Ketika Suho hendak meninggalkan rumah pasangan Minhwan-Linfang, Linfang menggenggam kedua tangan Suho erat-erat, “Aku berharap kau benar-benar memikirkan permintaan kami, Junmyeon…”

Alhasil pembicaraan hari itu membuat Suho tidak bisa tidur semalaman. Bahkan kasur lembang yang selalu dirindukannya tak mampu membuat Suho terlelap. Argh, pasangan gila!

-..-

Musim panas – Tongyeong, Korea Selatan

“Junmyeon, mana kotak makannya?” teriak Jinki dari kejauhan.

“Sabar, Hyung! Kau tidak tahu kan kotak makan ini beratnya seberapa!” balas Suho berteriak.

Sejak tiga hari yang lalu keluarga Sung pergi bertamasya ke daerah Tongyeong mumpung Minhwan dan Linfang mengambil cuti bersama selama empat hari. Minhwan dan Linfang memilih Tongyeong sebagai tempat liburan mereka kali ini setelah Linfang menonton iklan di televisi tentang bunga anggrek Tongyeong yang indah. Astaga, dasar ibu-ibu termakan iklan…

“JUNMYEON!!! KAU INI LAMA SEKALI SIH!!!” teriak Jinki gemas.

Suho menunjukkan wajah kesalnya pada Jinki yang membuat pemuda berwajah sangtae itu terdiam. “Diam kalau kau tidak ingin terjadi sesuatu dengan buku diari-mu, Hyung,” bisik Suho mengancam Jinki tepat di telinga pemuda itu.

Ah ya, setelah seminggu tidak bisa tidur dan tiga hari berturut-turut ditunggui lagi di kafe oleh Linfang, akhirnya Suho memutuskan untuk menjadi anak adopsi keluarga Sung. Suho mengurus kepindahannya dari kamar sewaannya bersama Daejoon sambil ditemani oleh air mata Daejoon.

“Tuan muda Suho… Kenapa Tuan muda memutuskan untuk pindah? Apakah saya telah gagal sebagai pelayan Anda?” tanya Daejoon ketika Suho mengawasi orang-orang yang memasukkan dus-dus barang miliknya ke dalam sebuah mobil boks.

Suho tersenyum manis, “Tidak, Daejoon. Kau tidak gagal. Aku justru berterima kasih karena selama ini kau menemaniku… Bahkan sejak Ibuku meninggal. Terima kasih, Daejoon. Kuharap kita tetap saling berhubungan setelah ini. Jaga diri baik-baik ya! Salam untuk Ibumu!”

Daejoon menangis terisak sepanjang barang-barang Suho dimasukkan ke dalam mobil boks. Pria yang memiliki kulit sawo matang itu merasa sangat sedih berpisah dengan Tuan muda-nya yang sudah ia layani sejak bertahun-tahun yang lalu. Satu lagi anggota keluarga yang pergi…, pikir Daejoon.

“Aku tidak selamanya pergi, bodoh,” ujar Suho yang melihat Daejoon begitu sedih. Ia memberi secarik kertas lusuh pada Daejoon, “Ini alamat rumahku yang baru. Silahkan datang kapan saja.”

Kedua bola mata Daejoon berbinar, “Saya pasti akan mengunjungi Tuan muda! Pasti!”

Suho pun tertawa renyah dan menepuk lengan Daejoon beberapa kali sebelum mobil boks membawanya pergi dari kamar sewaannya bersama Daejoon selama ini.

“Junmyeon! Junmyeonnn!” suara Linfang membuat kesadaran Suho kembali menapaki bumi. “Junmyeonnn! Cepat kesiniii!”

“Ada apa…?” ugh, rasanya masih canggung untuk memanggil Linfang dengan kata ‘Mama’.

Linfang menunjuk danau yang beriak, “Ituuu! Ada anak perempuan yang tenggelam! Tolong dia, Junmyeonnn!”

Suho memfokuskan pandangannya pada riak air itu. Sebuah lengan menggapai-gapai air tanpa arti. Secepat mungkin Suho menghampiri dermaga kecil yang ada di pinggir danau itu kemudian meloncat ke dalam air.

Suho menarik tangan anak perempuan yang tenggelam itu dan membawanya kembali ke dermaga kecil tempat ia meloncat tadi. Ia mendorong tubuh anak perempuan yang pingsan itu pada Kris yang sudah menunggunya. “B, buat napas buatan pada anak itu! Cepat!”

Kris yang merupakan mantan anggota PMR di SMA segera menolong anak perempuan itu dengan napas buatan serta memompa jantungnya. Semuanya ia lakukan bergantian setelah menyangga leher anak perempuan itu dengan cardigan yang ia kenakan.

“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” anak perempuan itu mengeluarkan air yang terdapat di dalam paru-parunya setelah dua puluh menit dibawa kembali ke dermaga. “A, Ayah… Uhuk! Uhuk!” Anak perempuan itu kemudian menyadari bahwa yang ada di hadapannya bukanlah ayahnya. Ia pun menangis.

“Hyung, apa yang kau lakukan padanya?” tanya Suho.

Kris menggeleng panik. Ia hanya memompa jantung dan melakukan napas buatan pada anak itu. Apakah hal itu termasuk pelecehan? Astaga. “Hai, adik kecil… Apa kau tidak apa-apa?” tanya Kris pada anak itu takut-takut.

Anak perempuan itu menatap Suho dan Kris bergantian selama beberapa kali. “Kalian siapa…?” tanyanya dengan suara mencicit.

“Kami yang membawamu kembali ke dermaga ini. Kau tenggelam di tengah danau. Apa kau tidak apa-apa?” Suho mempertanyakan pertanyaan Kris pada anak itu.

Anak perempuan itu menjawab dengan sebuah anggukan.

“Krisss! Junmyeonnn! Anak itu baik-baik saja kan?” teriak Linfang yang berlari kepada mereka sambil membawa sebuah handuk dan teh hangat dalam botol.

Suho membantu anak perempuan itu berdiri, “Sepertinya ia tidak apa-apa. Lihat, ia bisa berdiri.” Oh, Suho dapat merasakan bahwa anak perempuan itu berpegangan sangat erat padanya. Tangan anak itu pun sangat dingin. “Hei, siapa namamu? Orang tuamu dimana? Kok bisa-bisanya sih kau tenggelam seperti itu?”

Kedua bola mata anak perempuan itu menatap Suho masih dengan tatapan takut, “Aku… Orang tuaku… Aku…” anak itu menelan ludah, “Namaku Park Soora dan… Dan…” anak perempuan itu mulai terisak, “…dan aku tidak memiliki orang tua…”

Spontan napas Suho tertahan mendengar nama anak itu.

THE END


Setelah dua tahun, akhirnya Blutigen Händen punya sekuel jugaaa! Yeyyy!

Ah, lega rasanya bisa ngebuat Junmyeon tobat dan nggak ngebunuh lagi, hahaha… tapi pengen sih, ntar ngebuat Junmyeon ngebunuh orang lagi LOL abisnya seru. Ya kan? Seru? Fan fiction thriller emang seru! Hahaha!

Ide kemunculan sekuel ini bermula dari komen Kak Dini di Blutigen Händen. Terus yaa baru minggu kedua bulan Agustus ini saya berhasil menyatakan ide-ide di otak ke laptop. Terus mandet lagi. Tapi karena chatting sama Chanyeol(?), saya pun ngebut selesain fan fiction ini.

Aaaaa! Makasih buat kalian berdua!🙂